Mukisi.com-Jadwal operasi yang panjang, tak jarang  mengganggu waktu ibadah. Sholat seringkali dilakukan dalam kondisi tidak ideal, karena dilakukan dengan cara menjama’nya. Namun hal itu tak lagi terjadi di RS Syariah, karena waktu operasi sedemikian rupa diatur agar tidak mengganggu waktu sholat.

Rumah sakit syariah memiliki keunikan tersendiri. Terutama dalam penerapan nilai-nilai Islam. Bahkan dalam mengatur jadwal operasi kepada pasien, rumah sakit syariah memiliki fokus khusus, agar tidak bertabrakan dengan jadwal sholat.

Kedudukan sholat lima waktu tak dapat dipisahkan dari setiap muslim. Karenanya, tak salah jika sholat tak ubahnya seperti tiang dalam diri seorang muslim. Bahkan hal tersebut juga diperkuat oleh hadits dari Mu’adz bin Jabal, Rasulullah shalalahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Inti (pokok) segala perkara adalah Islam. Dan tiangnya (penopangnya) adalah sholat.”

Rumah sakit yang sudah tersertifikasi syariah tak akan abai perihal sholat lima waktu ini. Baik diberlakukan kepada karyawan maupun pasien. Untuk karyawan di RS Syariah, pelaksanaan sholat lima waktu menjadi standar penilaian utama untuk mendapatkan sertifikasi syariah.

Sementara untuk pasien ada banyak hal yang diatur agar pasien dapat tetap nyaman saat menunaikan ibadah. Rumah sakit syariah memiliki manajemen waktu khusus untuk mengatur segala tindakan di rumah sakit, seperti operasi kepada pasien agar waktu yang digunakan nantinya tidak berbenturan dengan waktu sholat.

Tak Memungkinkan untuk Operasi Darurat

“Untuk penjadwalan operasi elektif atau terencana akan diatur agar tidak berbenturan dengan waktu sholat, pengecualian untuk operasi cito(darurat),” kata Andi Pasya,  divisi Hubungan dan Masyarakat Rumah Sakit Islam Yogyakarta-Persaudaraan Djama’ah Haji Indonesia (RSIY-PDHI). Karenanya, ia menambahkan, ini menjadi bukti bahwa rumah sakit syariah tak abaikan waktu sholat bagi para karyawan maupun pasiennya.

Sementara itu, jenis operasi cito yang dimaksud adalah sebuah operasi yang membutuhkan tindakan dengan segera. Oleh sebab itu, jika pasien membutuhkan operasi cito maka rumah sakit syariah memprioritaskan dahulu melakukan operasi.

Hal tersebut bisa berdasarkan pada kewajiban membatalkan atau menunda sholat untuk menyelamatkan nyawa seseorang seperti keterangan dari Hasan bin Ammar seorang ulama Hanafiyah dalam kitab Nurul Idhah wa Najat Al Arwah, “Wajib membatalkan shalat ketika ada orang dalam kondisi darurat meminta pertolongan kepada orang yang shalat…”

Karenanya, di rumah sakit syariah khususnya untuk operasi cito atau yang membutuhkan tindakan dengan segera, melewati waktu sholat diperbolehkan. Namun, Andi Pasya kembali mengatakan bahwa jika operasi-operasi elektif seperti FAM, STT, Cholelitextomy, APP kronis, dan HIL direkomendasikan untuk melakukan pengaturan jadwal yang tidak bertabrakan dengan waktu sholat.

Di sisi lain, jika operasi sedang dilakukan dan belum selesai sementara adzan berkumandang menunjukkan waktu sholat maka operasi tetap dilakukan. “Karena, dalam operasi elektif terkadang ditemukan juga kesulitan yang tak terduga,” terang dr. Bima Achmad Bina Nurutama, Direktur Utama Rumah Sakit Islam Yogyakarta PDHI. Oleh sebab itu, dengan kondisi tersebut terkadang membutuhkan waktu operasi lebih panjang dari yang sudah diperkirakan sebelumnya sehingga menabrak waktu sholat.

Lalu, secara umum pengaturan jadwal operasi elektif dilakukan oleh kepala ruang operasi yang berkaitan. “Prosedur operasi elektif direncanakan semua termasuk perkiraan selesai operasinya,” tambah Bima.

Meski demikian, jika bersangkutan dengan nyawa orang lain diperbolehkan menyelamatkan dahulu orang tersebut dan menunda sholatnya. Dengan begitu, rumah sakit syariah tak hanya peduli tentang keselamatan pasiennya, namun juga peduli terhadap keyakinan pasiennya dan karyawannya demi menanamkan nilai-nilai Islam yang tak boleh lepas dari kehidupan seorang muslim. (ipw)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here