Mukisi.com-Di era medis modern, sejumlah terobosan diciptakan sebagai solusi permasalahan manusia. Vasektomi salah satunya. Cara yang kerap menjadi pilihan masyarakat yang tak ingin punya anak lagi karena tingkat keberhasilannya yang hampir 100%. Meski demikian, vasektomi masih menyisakan polemik.

dr. Bagus Taufiqur Rachman, SpU, MARS, dokter di RSUD Kota Bekasi mengatakan, vasektomi adalah proses operasi pemotongan vas deferens (saluran berbentuk tabung kecil di dalam skrotum yang membawa sperma dari testikel menuju penis).

Vasektomi bertujuan untuk mencegah pembuahan dan kehamilan karena tertutupnya akses sperma menuju air mani. “Metode ini disebut kontrasepsi mantap, karena bisa dibilang permanen,” ungkap dokter spesialis urologi ini.

Mengenai hal ini, Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengharamkam. Sekretaris Komisi Fatwa MUI, Asrorun Niam mengatakan, salah satu kelemahan vasektomi bila melihat dari laman BKKBN, adalah dapat menyebabkan kemandulan permanen. Oleh karenanya MUI mengharamkan tindakan vasektomi.

Kemudian Niam menjelaskan, fatwa haram ini ditetapkan dengan perkecualian, yaitu dengan tujuan yang tidak menyalahi syariat, tidak menimbulkan kemandulan permanen, ada jaminan dapat dilakukan rekanalisasi yang dapat mengembalikan fungsi reproduksi seperti semula, tidak mnimbulkan bahaya bagi yang bersangkutan, serta tidak dimasukkan dalam program dan metode kontrasepsi mantap.

Kontrasepsi jenis ini, Dokter Bagus kembali menjelaskan, para ulama lebih memilih mencegahnya daripada membolehkannya. “Yang ditekankan oleh para ulama adalah, selama untuk pengaturan keturunan, KB masih dibolehkan, tetapi kalau untuk penghentian keturunan secara permanen maka tidak dibolehkan,” papar alumnus Magister Administrasi Rumah Sakit (MARS) alumnus FKM-UI (Fakultas Kesehatan Masyarakat-Universitas Indonesia) ini.

Meski Ampuh, Tetap Mengandung Resiko

Kemudian dokter yang juga menjadi Ketua PROKAMI (Perhimpunan Tenaga Profesi Kesehatan Muslim Indonesia)  Kota Bekasi ini mengatakan, di era medis modern saat ini muncul istilah yang disebut vasektomi reversal, yaitu pembatalan prosedur vasektomi bagi pria yang terlanjur mengambil tindakan ini.

“Namun cara ini lebih rumit dan memerlukan waktu dua kali lipat lebih lama daripada vasektomi. Meskipun vasektomi bisa direkanalisasi, tetapi tingkat kesuburannya pun sulit dipulihkan,” terang dokter yang juga bekerja di RS Hermina Bekasi ini.

Kemungkinan suksesnya vasektomi reversal, ia melanjutkan, tergantung dari seberapa lama jarak waktu antara prosedur vasektomi dan reversal. Semakin lama, rintangan antar saluran akan terbentuk, dan beberapa pria dapat membangun antibodi terhadap sperma mereka sendiri. Sehingga menyebabkan semakin rendahnya peluang sukses pasien untuk memiliki keadaan normal sebelum vasektomi.

Beberapa resiko atau komplikasi lain yang mungkin terjadi setelah melakukan vasektomi yaitu, terjadinya infeksi, nyeri pada testis, granuloma sperma, yaitu ketika sperma keluar dari vas deferens dan menumpuk hingga membentuk benjolan, hematoma, yaitu pembentukan bekuan darah pada skrotum dan testikel terasa penuh.

Kemudian dokter yang menempuh pendidikan spesialis Urologi alumni Universitas Indonesia ini menyarankan, agar mempertimbangkan dengan baik keputusan untuk melakukan tindakan vasektomi. “Selama masih ada cara ber-KB lain yang bisa dipakai, kontap (vasektomi) sebaiknya tidak dikerjakan,” tutupnya. Wallahu’alam. (Din)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here