Mukisi.com-Menyandang lebel “syariah”, bagi sebuah rumah sakit, ternyata butuh konsekuensi lebih. RS Syariah harus memstikan semuanya berjalan sesuai dengan koridor syar’i. Termasuk memastikan pakaian yang tercuci harus bersih dan suci. Karenanya laundry syariah ada di masing-masing RS Syariah itu.

Pemrosesan laundry syariah tentu berbeda dengan laundry pada umumnya. Pada laundry syariah, terdapat prinsip-prinsip dan prosedur syar’i yang harus dipenuhi. RS (Rumah Sakit) Syariah sebagai penegak syariat dan kesehatan Islam tak mengabaikan ikhwal laundry syariah ini. Lalu bagaimana laundry syariah ini diterapkan pada RS Syariah? Apa saja prinsip dan prosedurnya?

Emi Yuni Astuti, SKM, Kepala bagian laundry RSI Sultang Agung Semarang, rumah sakit pertama di Indonesia yang mendapatkan sertifikasi syariah, mengatakan, RS Syariah telah menetapkan kebijakan sistem jaminan halal terkait laundry agar komitmen untuk menghasilkan produk halal secara konsisten dapat terwujud.

“Setelah itu, RS syariah membentuk tim manajemen halal yang salah satu tugasnya adalah bertanggungjawab dalam perencanaan, implementasi evaluasi, dan perbaikan berkelanjutan Sistem Jaminan Halal (SJH),” papar alumni FKM (Fakultas Kesehatan Masyarakat) Unversitas Diponegoro ini.

Setelah tim terbentuk, RS Syariah kemudian melaksanakan pelatihan dan edukasi di semua lini atau personel yang terlibat dalam aktivitas SJH laundry syariah. Hal ini ditujukan sebagai edukasi wawasan kehalalan bagi personel rumah sakit yang bekerja pada proses laundry.

Menggunakan Bahan Tersertifikasi Halal dari LPPOM MUI

Seluruh penggunaan bahan atau chemical yang digunakan dalam aktivitas laundry harus menggunakan bahan yang telah tersertifikasi halal dari LPPOM MUI (Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan, dan Kosmetika – Majelis Ulama Indonesia). Termasuk di dalamnya bahan tambahan dan bahan penolong.

“Produk yang diolah adalah produk yang sudah didaftarkan di LPPOM menggunakan nama yang tidak mengarah pada sesuatu yang diharamkan, seperti kandungan babi dan turunannya” paparnya

Aturan penggunaan bahan tersertifikasi halal ini tak hanya diberlakukan untuk proses laundry, tetapi juga untuk proses pencucian fasilitas produksi. “Fasilitas produksi yang kami maksud antara lain mesin cuci, mesin pengering, mesin setrika roll ataupun manual, trolley pengangkut linen, ataupun kendaraan lain yang terkait dengan pengangkutan linen (baik linen kotor maupun linen bersih), serta tak tertinggal untuk almari penyimpanan linen dan gudang linen,” jelasnya.

Kemudian harus ada prosedur tertulis aktivitas kritis pada saat seleksi dan penggunaan bahan baru, pembelian, formulasi produk, pemeriksaan bahan datang, produksi, pencucian fasilitas produksi, penyimpanan dan penanganan bahan atau produk, serta transportasi.

“RS Syariah memang harus begitu untuk menjamin ketertelusuran produk yang disertifikasi,” jelasnya.

Linen Ternoda akan Digudangkan

RS syariah mengakui bahwa terkadang dalam proses pencucian terdapat noda yang sulit dibersihkan, darah pasien misalnya.  Untuk menyikapi hal ini, RS Syariah tak lantas membiarkannya untuk kembali digunakan pasien, namun akan dikategorikan pada “produk reject”.

“Apabila masih ada noda, dilakukan treatment menggunakan bahan dan metode khusus, setelah itu dilakukan pencucian ulang dan dicheck ulang. Jika masih terdapat noda atau darah dan tak bisa dihilangkan, maka kita kategorikan sebagai product reject dan akan diinventaris serta digudangkan,” jelasnya.

SDI Laundry Syariah Mendapat Ilmu Fiqh Thoharoh

Sumber Daya Insani (SDI) laundry syariah di RS Syariah juga mendapatkan ilmu tentang fiqh thoharoh secara rutin tiap satu tahun sekali. Dikatakan oleh Emi, hal ini tak dapat dikesampingkan karena menjadi hal yang fundamental bagi pelaksanaan laundry syariah. “Mereka harus terpapar tentang laundry syariah, karena mereka setiap hari yang akan melaksanakan produksi linen, jadi mereka harus mendapat pekatihan tentang fiqh thoharoh,” ungkapnya.

Kemudian secara berkesinambungan, RS Syariah diaudit internal setiap enam bulan sekali yang kemudian akan ditindaklanjuti dengan kaji ulang manajemen serta dilaporkan melalui cerol (sertification on line) ke LPPOM MUI. (Din)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here