Mukisi.com-Indonesia mendapatkan kesempatan berharga untuk menyampaikan konsep RS Syariah di forum internasional. Dalam presentasi itu, Indonesia panen apresiasi dari perwakilan negara-negara lain yang hadir.

Majelis Upaya Kesehatan Islam Indonesia (Mukisi) yang hadir dan mewakili Indonesia di forum internasional bertajuk “Federation Islamic Medical Association (FIMA) dan  Islamic Hospital Consortium (IHC) meeting” pada (6-7/9) di Islamic Hospital Amman, Jordan menceritakan bagaimana RS Syariah yang ada di Indonesia.

Selain itu, terdapat beberapa organisasi lain yang tergabung dalam IIMA (Indonesian Islamic Medical Association) yang juga hadir sebagai delegasi Indonesia. Antara lain, FOKI (Forum Kedokteran Indonesia) dan PROKAMI (Perhimpunan Tenaga Profesi Kesehatan Muslim Indonesia).

dr. Siti Aisyah Ismail, MARS, selaku anggota divisi kerjasama internasional Mukisi mengatakan bahwa Mukisi memberikan dua materi di dalam forum bergengsi tersebut, pertama, standar elemen penilaian Rumah Sakit (RS) Syariah yang disampaikan oleh dr. Masyhudi AM, M.Kes selaku Ketua Umum Mukisi. Kedua, Penelitian: Dampak Implementasi Standar RS Syariah terhadap Kepuasan Karyawan yang disampaikan oleh Dokter Aisyah sendiri selaku koordinator riset tersebut.

Selain itu, Mukisi juga menyampaikan laporan kegiatan dan pencapaian selama setahun terakhir. Di antara kegiatan dan pencapaian tersebut yaitu roadshow pendampingan RS Syariah, 1st International Islamic Healthcare Conference & Expo (IHEX) 2018, serta kolaborasi dengan perusahaan produk halal dan lembaga filantropi.

Kemudian dalam kesempatan tersebut, Mukisi juga mensosialisasikan 2nd IHEX yang akan digelar pada 22-24 Maret 2019 mendatang di Cendrawasih Hall JCC (Jakarta Convention Centre) agar semarak menegakkan syariat  Islam kian menggema.

RS Syariah Diapresiasi

Materi yang disampaikan Mukisi, lanjutnya, mendapat respon positif dari para audiens. “Standar yang kita keluarkan merupakan standar pertama di dunia, yang secara komprehensif mencakup aspek manajemen dan pelayanan rumah sakit. Beberapa Negara lain seperti Malaysia dan Pakistan juga membuat upaya serupa, namun belum holistik. Oleh sebab itu mereka sangat antusias mendengarkan cerita kami,” paparnya.

Salah satunya adalah dr. Hafeez ur Rahman dari Pakistan yang mengungkapkan apresiasinya atas hasil kerja keras Mukisi, “Pakistan is the only country in the who have Islam in the constitution, but we are struggling to have shariah principles in our daily lives. But yet Indonesia, is a able to implement Shariah Principles in their hospitals. This has raised the bar in the Muslim world, (Pakistan adalah satu-satunya negara yang memiliki Islam dalam konstitusi, tetapi kami berjuang untuk memiliki prinsip-prinsip syariah dalam kehidupan sehari-hari. Namun, Indonesia, mampu menerapkan Prinsip Syariah di rumah sakit mereka. Ini telah mengangkat sekat (halangan) di dunia Muslim),” paparnya.

Di sisi  lain, perwakilan dari Kenya, yaitu dr. Ramahdan Suleiman Marga, juga turut memberikan tanggapan positif atas materi yang diberikan Mukisi. Ia mengatakan pentingnya prinsip syariah disisipkan dalam institut (universitas) kesehatan dan kedokteran.

Mukisi should collaborate with medical and nursing collages to implement this concept, so you can get employees who already understand the shariah values working in your hospital, (Mukisi harus berkolaborasi dengan institut medis dan keperawatan untuk menerapkan konsep ini, sehingga Anda bisa mendapatkan karyawan yang sudah memahami nilai-nilai syariah yang bekerja di rumah sakit Anda)” terangnya.

Terjemahan Standar RS Syariah ke Bahasa Inggris dan Arab

Kemudian Mukisi saat ini sudah merampungkan standar RS Syariah versi Bahasa Inggris agar lebih mudah diadopsi oleh Negara lain. Langkah ini sudah sampai pada babak final, tinggal menunggu approve dari DSN-MUI. DSN-MUI juga sangat mendukung upaya ini, dan siap menjalani semua proses sertifikasi yang dibutuhkan untuk RS Luar Negeri.

Menanggapi hal ini, dr. Salisu Ismail, perwakilan dari Nigeria menyambut dengan positif. Dalam pemaparannya, Dokter Salisu mengungkapkan kebutuhannya akan standar syariah yang telah diterapkan Mukisi untuk diterjemahkan dalam Bahasa Inggris agar bisa dipahami dan diterapkan di Negaranya.

This is an amazing work by Mukisi. Please have the standard translated into English. We want to learn from you, and try to implement whichever we can in our country, (Ini adalah karya luar biasa oleh Mukisi. Tolong terjemahkan standar ke dalam Bahasa Inggris. Kami ingin belajar dari Anda, dan mencoba menerapkan apa pun yang kami bisa di negara kami),” ungkapnya.

Di sisi lain, Mukisi juga sedang bersiap untuk menterjemah standar RS Syariah ke dalam Bahasa Arab. Ikhtiar ini tetap melibatkan DSN-MUI, karena standar tersebut telah menjadi milik DSN-MUI, meskipun dahulu draftnya disusun oleh tim Mukisi.

Mukisi Mendapat Dukungan dari Pemerintah

Dikatakan oleh Dokter Aisyah bahwa Indonesia beruntung sebagai Negara dengan populasi muslim terbesar di dunia. Hal ini membuat Negara ini mendapat dukungan dari berbagai pihak. Baik dari bawah (masyarakat yang menciptakan demand atau permintaan), serta dari atas (DSN-MUI yang memberikan pengakuan dan sertifikasi).

“Negara-negara lain belum ada yang melibatkan otoritas kenegaraan dalam upaya menerapkan prinsip-prinsip syariah di rumah sakit,” terangnya.

Rumah sakit syariah, ia melanjutkan, Mukisi melihatnya sebagai sebuah spektrum yang harus disesuaikan dengan kondisi masing-masing Negara. Tidak bisa memaksakan negara lain untuk mengadopsi standar RS Syariah secara komprehensif seperti Indonesia.

“Terutama di Negara dengan minoritas muslim, kata “syariah” mungkin justru menimbulkan persepsi negatif yang dapat menjadi kontra-produktif dalam upaya kita. Atau sistem keuangan Islami yang tidak tersedia, juga implementasi hijab yang belum bisa dilakukan. Oleh karenanya, silakan masing-masing Negara mengadopsi mana bagian dari standar RS Syariah yang sesuai dengan kemampuan dan kondisi masing-masing Negara. Upaya kecil namun istiqamah adalah lebih penting bagi Mukisi,” paparnya.

Harapan FIMA kepada Mukisi

FIMA sebagai asosiasi yang besar dan berskala internasional sangat berharap Mukisi menjadi “driver” utama dalam Islamic Hospital Consortium (IHC). Oleh karenanya, saat ini Mukisi sedang berupaya memenuhi target 50 RS Syariah di 2018 demi berkembangnya rumah sakit berstandar syariah. (Din)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here