Mukisi.com-Makanan yang tidak halal, selain dapat mendatangkan mudharat bagi kesehatan tubuh, juga mempengaruhi tidak diijabahnya sebuah doa. Bagi sebuah RS Syariah, perjuangan untuk memastikan makanan yang halal ternyata bukan perkara mudah.

Meski rumit bin berbelit, usaha rumah sakit (RS) syariah untuk memastikan makanan yang disajikan halal mutlak dilakukan. “Yang ini sudah tidak bisa ditawar lagi,” ujar Miftachul Izah, SE., M.Kes, Wakil Sekretaris Majelis Upaya Kesehatan Islam Seluruh Indonesia (Mukisi). Kehalalan makanan ini, ia melanjutkan, tidak hanya terkait dengan kesembuhan pasien, namun juga keberkahan dari Allah subhanahu wa ta’ala, Pemilik alam semesta ini.

Bahan Baku Hingga Pengolahan Dipastikan Halal

Menurut wanita yang akrab dipanggil Mifta itu, rumah sakit syariah harus bisa memastikan makanan yang disajikan benar-benar halal dari semua aspek, baik dari bahan baku, proses pengangkutan bahan, sumber pemasok, hingga prosedur pengolahan, semua harus dipastikan sesuai dengan standar syariah.

Untuk memasok daging ayam misalnya, rumah sakit syariah tak bisa sembarangan memilih pemasok. Tidak pula dengan mudah membeli daging ayam di pasar. Mereka yang menjadi pemasok bahan makanan rumah sakit syariah harus mengikuti ketentuan yang dibenarkan Islam. Dari cara perawatan ayam, proses penyembelihan, hingga proses pengiriman ayam.

“Untuk ayam, rumah sakit selalu mengecek rumah potong, kami harus menejelaskan SOP (Standar Operasional Prosedur) kepada mereka (pihak rumah potong). Tak hanya itu mereka harus menandatangani pernyataan bahwa mereka menyembelih sesuai dengan SOP yang tidak melanggar ketentuan Islam,” terangnya.

Proses ternak dan perawatan ayam harus dilakukan dengan benar dalam Islam. Pada proses penyembelihan hewan misalnya, diperlukan memperhatikan aspek kenyamanan hewan atau memperlakukan hewan dengan cara terbaik (ihsan), sehingga akan diperoleh hasil pemotongan yang halal dan thoyyib. “Saat penyembelihan, kami juga harus memastikan bahwa para penyembelih itu harus menyebut nama Allah,” tegasnya.

Oleh sebab itu, penyembelihan ayam untuk RS Syariah juga harus dilakukan secara syar’i. karena masih banyak ditemui di luar sana yang proses menyembelih ayam yang tidak diketahui dan dipastikan cara menyembelihnya.

Syariat Islam mengajarkan menyembelih hewan dengan kasih sayang (tidak menyiksa), serta dengan menyebut nama Allah.  “Penyembelih ayam harus mengerti dan taat pada aturan syar’i” ungkap wanita yang juga menjadi Wakil Direktur RSI Sultan Agung Semarang itu.

Setelah memastikan proses penyembelihan, belum selesai pekerjaan RS Syariah untuk memastikan kehalalan makanan. Mereka harus memastikan proses pasokan ayam juga harus diangkut oleh kendaraan yang tidak mencampurkannya dengan hewan haram lain.

“Kami harus memastikan bahwa kendaraan yang dipakai mengangkut hanya digunakan untuk mengangkut makanan halal. Akan bermasalah jika makanan kami bercampur dengan makanan lain yang haram,” ujarnya. Sama seperti di proses penyembelihan, vendor yang dipilih untuk mengangkut makanan, harus menulis pernyataan bahwa mereka melakukan pekerjaan sesuai SOP, sesuai syariat Islam.

Kontrol Kehalalan Makanan Dilakukan Setiap Hari

“Semua proses tersebut, ada laporannya setiap hari. Kami juga selalu melakukan audit khusus setiap 6 bulan sekali, untuk terus memastikan proses ini berjalan sesuai prosedur, yang kemudian kami laporkan ke MUI,” kata Mifta.

Proses audit internal itu dilakukan melalui pengecekan langsung proses yang dilakukan serta wawancara panjang terhadap petugas gizi dan makanan rumah sakit. Hal ini ditujukan untuk memastikan setiap makanan yang tersaji untuk pasien mendapatkan label halal pass.

Tak hanya itu, RS Syariah juga memberlakukan larangan bagi keluarga pasien untuk meminjam peralatan makan pasien atau rumah sakit. “Ini karena kehati-hatian pihak rumah sakit. Kami tidak tahu keluarga pasien itu membawa makanan dari mana, dan kami tidak bisa memastikan kehalalannya.” Jika ternyata makanan yang dibawa tidak halal kemudian menggunakan peralatan makan dari rumah sakit, bisa bercampur dengan peralatan makan lainnya.

“Jika memang benar-benar keluarga pasien membutuhkan sendok, misalnya, kami menyediakan sendok plastik, yang sekali pakai langsung dibuang,” jelasnya. (Din)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here