Mukisi.com-Dalam Islam, privasi seseorang terhadap lawan jenis yang bukan mahram sangat dijaga. Pun demikian dengan RS Syariah, demi kebaikan dan menjaga kehormatan pasien, berbagai upaya dilakukan untuk menghindarkan dari ikhtilat.

Ikhtilat adalah keadaan berbaurnya lawan jenis yang bukan mahram di suatu tempat. ikhtilat dapat terjadi di segala tempat. Apalagi di rumah sakit, tempat yang sering mendapat berbagai pemakluman. Namun hal ini tidak akan terjadi di rumah sakit syariah. Dikatakan oleh Ketua Divisi Sertifikasi Syariah, Dr. dr. Sagiran, Sp.B., M.Kes, bahwa bab ikhtilat dimasukkan ke dalam standar RS Syariah dengan tujuan menjaga kehormatan pasien.

“Rumah Sakit Syariah berupaya menjunjung martabat pasien dengan cara mendampingi pasien seorang atau dua orang mahram agar pasien terhindar dari fitnah, kami jaga betul kehormatan mereka,” terang Dokter Sagiran.

Kemudian Magister Kesehatan UGM Yogyakarta ini juga menyampaikan bahwa hal ini merupakan perintah asasi dalam tata muamalah. “Inilah alasan mengapa kita menekankan penerapan standar ini,” terangnya.

Cara menghindari ikhtilat ini salah satunya dilakukan dengan memutus atau menghilangkan penyebabnya. Dalam hal ini penyebab ikhtilat dan khalwat salah satunya adalah keadaan yang hanya berduaan, maka jika menemukan kondisi itu,  rumah sakit harus menjadikannya bertiga, berempat, atau banyak orang.

“Contohnya, suami dari pasien dapat diminta untuk tetap mendampingi istrinya selama ada pembesuk yang bukan mahram,” terang pria yang juga menjadi Tim dokter bedah RS Nur Hidayah Bantul ini.

Menurut Doker Sagiran, salah satu hak pasien adalah ‘dimuliakan’ dalam pelayanan rumah sakit. Artinya, pasien tidak dipandang remeh, tidak terhinakan, serta betul-betul dijunjung harkat dan martabatnya.

“Dengan kita menghindari adanya ikhtilat, artinya kita juga menghindarkan pasien dari terjadinya pelecehan,” kata pria yang juga merupakan anggota Ikatan Dokter Indonesia (IDI) ini.

Memberi Edukasi dan Memilih Kata yang Bersahabat

Memang tak semua orang memahami pentingnya menghindari ikhtilat ini. Karenanya, edukasi menjadi penting kepada pasien, keluarganya maupun pengunjung rumah sakit.

Karenanya rumah sakit memberi berbagai penyuluhan untuk memahamkan kepada publik, pasien dan keluarga pasien bahwa ikhtilat dilarang dalam syariat Islam karena mendatangkan mudharat bagi diri pasien sendiri.

“Kami memberi himbauan yang terkait dengan ini melalui X-Banner maupun pengumuman yang tertempel di beberapa spot yang mudah terlihat di rumah sakit, maupun melalui penjelasan langsung jika situasinya tepat,” terangnya.

Upaya dakwah ini, ia melanjutkan, tidak hanya ditujukan kepada pasien dan keluarga pasien, namun juga ditujukan kepada penjenguk. “Kami mengusahakan kepada penjenguk bukan mahram yang mengunjungi pasien agar didampingi yang mahram, bahkan ketika dikhawatirkan jatuh kepada khalwat dan ikhtilat, maka rumah sakit berupaya memberi penjelasan agar petugas rumah sakit mengantar dan mendampingi pembesuk,” paparnya.

Meski demikian, ia mengaku, tetap harus memilih bahasa yang mudah dipahami, diterima dan bersahabat bagi masyarakat kebanyakan. “Mari Pak, kami dampingi Bapak untuk membesuk, sembari mendoakan bersama untuk kesembuhannya,” ujarnya mencontohkan.

“Memang tidak mudah, kadang ada juga yang protes. Namun ini juga untuk kebaikan pasien dan keluarga. Setelah kami jelaskan, biasanya mereka memahami,” katanya.

Kehormatan Jenazah Dijaga

Tak hanya memuliakan pasien, tetapi RS Syariah juga memuliakan jenazah. “Pun ketika jenazah dimandikan yang notabene nya sudah dalam keadaan meninggal (tidak hidup), tetapi kita tetap tidak boleh membiarkan auratnya terbuka.

Artinya, memuliakan pasien tak hanya ketika ia menjalani proses penyembuhan, tetapi ketika meninggal dan menjadi jenazah, kehormatannya harus tetap dijaga, inilah indahnya syariat Islam,” imbuh pria yang juga menjadi Staf Pengajar Bagian Anatomi dan Bedah FK UMY (Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Yogyakarta) ini.(Din)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here