Mukisi.com-Pelayanan di rumah sakit yang tersertifikasi syariah, tentu saja berbeda dengan rumah sakit konvensional. Suasana religus, sudah terasa sangat kental. Hal ini ternyata membantu proses penyembuhan pasien.

Suasana religius dapat meningkatkan daya tahan tubuh dan mempercepat hospitalisasi. “Suasana religius di rumah sakit syariah merupakan wujud sinergi layanan medis dan layanan spiritual,” terang Samsudin Salim S.Ag., M.Ag. selaku tim Divisi Sertifikasi Rumah Sakit Syariah dari Majelis Upaya Kesehatan Islam Seluruh Indonesia (Mukisi).

Karenanya, tiap rumah sakit yang telah tersertifikasi syariah pasti memiliki program pelayanan spiritual sebagai standar penilaian untuk mendapatkan sertifikasi syariah.

Petugas Rumah Sakit Sekaligus Da’i

Di dalam rumah sakit syariah, penciptaan suasana tersebut dilakukan dengan memberikan layanan spiritual. “Secara struktural pelayanan spiritual serta pengkondisian suasana religius menjadi tugas Bidang Kerohanian Islam,” jelasnya. Namun, tak sampai di situ saja, di rumah sakit syariah, petugas rumah sakit juga sekaligus insan dakwah.

“Mereka mengemban tugas dalam menyampaikan risalah dakwah kepada pasien, keluarga pasien, dan pelanggan rumah sakit,” lanjutnya.

Kemudian, dalam proses pelayanan spiritual ini sudah menjadi program rutin tiap rumah sakit syariah. “Namun, tidak menutup kemungkinan jika beberapa keluarga memerlukan permintaan khusus untuk layanan spiritual,” kata Manajer Bidang BPI (Bimbingan Pelayanan Islam) RSI Sultan Agung Semarang.

Ditambahkan lagi olehnya bahwa layanan spiritual ini tidak dipungut biaya apapun bagi pasien demi terciptanya suasana religius untuk membantu penyembuhan pasien.

Sementara itu, manfaat menghadirkan suasana religius dalam pelayanan kesehatan rumah sakit syariah ada dua seperti yang disebutkan Samsudin.

Lalu, keuntungan yang didapat pasien saat berobat di rumah sakit syariah yang membangun suasana religius cukup beragam. “Pasien mendapatkan ketenangan batin dan keteduhan hati, memberi motivasi dan dorongan untuk tetap sabar dan tawakal, terpeliharanya keimanan dan ketaqwaan pasien saat sakit,” tambahnya lagi. Karenanya, dengan demikian akan mempercepat proses penyembuhan bagi pasien.

Layanan Spiritual untuk Pasien Non Muslim

Lalu, bagaimana jika pasiennya non-muslim? Samsudin pun mengatakan, meskipun berbeda layanannya, mereka juga mendapatkan layanan spiritual.

“Layanan psikospiritual pasien non muslim dilakukan dengan memompa motivasi pasien serta bersabar dan bersemangat untuk sembuh,” jelasnya.

Karena, hal tersebut juga merupakan hak pasien. “Rumah sakit memberikan kesempatan layanan spiritual oleh pemuka agama tertentu, meski tidak terlalu leluasa,” imbuhnya.

Meski demikian, pelayanan tersebut harus didampingi oleh petugas kerohanian Islam. Pelayanan yang dilakukan pemuka agama lain, ia menambahkan, cukup dengan berdoa secara pelan dan tidak bernyanyi. Dengan begitu tidak mengganggu dan mengusik pasien serta suasana religius yang telah terbangun selama ini.

Sementara itu, menurut Dr. dr. H.M. Zulfikar As’ad, MMR, selaku Anggota Dewan Pembina Mukisi mengatakan, penyembuhan dengan suasana religius dapat membantu penyembuhan pasien. “Psikologis dalam diri seseorang sangat berpengaruh dalam penyembuhan suatu penyakit,” terangnya.

Suasana religius yang terbentuk akan menjadikan pasien senantiasa berpikir positif dan berprasangka baik atas apa yang sedang menimpanya. “Hal demikian akan sangat mempengaruhi upaya-upaya kesembuhan apabila kita menghadapi suatu penyakit,” tegasnya menambahkan.(ipw)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here