Mukisi.com-Sertifikasi “Syariah” untuk rumah sakit hanya ada di Indonesia. Kini melalui “Federation Islamic Medical Association (FIMA) dan Islamic Hospital Consortium (IHC) meeting”, dunia akan mendapatkan cerita bagaimana Indonesia mulai membangun rumah sakit yang sesuai dengan nilai-nilai syar’i.

Kegiatan bergengsi yang digelar setahun sekali itu akan dilangsungkan pada (6-7/9) nanti di Islamic Hospital Amman, Jordan. dr. Masyhudi AM, M.Kes dan dr. Aisyah Ismail, MARS yang masing-masing sebagai Ketua Umum  dan dan anggota divisi Kerjasama Internasional Majelis Upaya Kesehatan Islam Indonesia (Mukisi) menjadi salah satu pembicaranya.

Tak hanya itu, pembicara-pembicara hebat lainnya juga turut hadir dalam acara ini, di antaranya, Prof. Omar Hasan Kasule (Profesor di King Fahd University, Riyadh), dr. Ishak Mas’ud (Ketua Islamic Hospital Consortium (IHC)-FIMA), serta Ms. Rehanah Sadiq (Muslim Chaplain, University Hospital Birmingham).

Disampaikan oleh Sekretaris Mukisi, dr. Burhanuddin Hamid Darmadji, MARS bahwa FIMA merupakan asosiasi internasional yang memayungi beberapa organisasi rumah sakit yang ada di dunia (IHC atau Islamic Hospital Consortium). Di dalamnya termasuk organisasi Rumah Sakit yang ada di Indonesia seperti Mukisi, FOKI (Forum Kedokteran Indonesia), dan Prokami (Perhimpunan Tenaga Profesi Kesehatan Muslim Indonesia).

“Kemudian tiga organisasi yang berasal dari Indonesia ini tergabung dalam IIMA (Indonesian Islamic Medical Association) yang diketuai oleh Dokter Masyhudi dari Mukisi,” terang Dokter Burhan. Menurut pemaparannya, penentuan ketua IIMA selalu ditentukan secara bergilir dari masing-masing organisasi.

Mukisi Akan Sampaikan Hasil Riset tentang RS Syariah

Di acara “FIMA & IHC Meeting” mendatang, Mukisi akan menyampaikan materi tentang sertifikasi rumah sakit syariah yang sudah dilaksanakan di Indonesia. Khususnya tentang laporan pencapaian progress rumah sakit syariah di Indonesia.

Mukisi telah merampungkan sebuah riset yang dilakukan terhadap 10 rumah sakit yang telah tersertifikasi syariah di Indonesia. Rencananya, riset ini akan disampaikan dalam acara “FIMA dan IHC Meeting” esok. Riset yang dikoordinir oleh dr. Siti Aisyah Ismail, MARS ini mengangkat tema korelasi sertifikasi rumah sakit syariah terhadap kepuasan staff rumah sakit.

Mukisi berharap dengan dipaparkannya perkembangan RS Syariah di forum internasional, rumah sakit dari luar Indonesia juga dapat tertarik untuk menerapkan standartdisasi syariah di masing-masing rumah sakit.

“Dengan seperti ini, kemanfaatan dari instrumen sertifikasi yang sudah kita buat menjadi lebih luas, kemudian juga dapat dimanfaatkan rumah sakit lain sebagai pengayaan, karena di Negara-Negara yang FIMA eksis di dalamnya seperti Amerika, Eropa, Pakistan, Malaysia, yang sebenarnya sedang mengupayakan hal serupa, yaitu bagaimana agar rumah sakit Islam terstandardisasi,” terangnya.

Mukisi juga berharap, pencapaian yang sudah dibangun di Indonesia dapat memperkaya dan menyempurnakan standardisasi yang sudah dibuat. Karena sejatinya, Mukisi ingin terus berbenah menuju kesempurnaan.

Dampaknya bagi masyarakat, apabila rumah sakit sudah terstandarisasi secara seragam (baik itu di Indonesia atau di luar negeri) maka masyarakat akan mendapatkan pelayanan yang sama dalam hal pelayanan syariah. (Din)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here