Mukisi.com-Kadangkala pasien dihadapkan pada pilihan yang berat, yaitu transplantasi organ. Hingga saat ini tranplantasi organ masih menjadi perdebatan sengit boleh tidaknya. Lalu bagaimana Islam memandangnya?

Donor organ atau transplantasi organ menurut UU Nomor 23 Tahun 1992 Tentang Kesehatan serta PP Nomor 18 Tahun 1981 Tentang Bedah Mayat Klinis dan Bedah Mayat Anatomis serta Transplantasi Alat dan atau Jaringan Tubuh Manusia dalam pasal 1 ayat 5 UU tersebut Transplantasi adalah serangkaian tindakan medis untuk memindahhkan organ dan atau jaringan tubuh manusia yang berasal dari tubuh orang lain maupun tubuh sendiri dalam rangka pengobatan untuk menggantikan organ dan atau jaringan tubuh yang tidak berfungsi dengan baik.

Kemudian, pada pasal 33 ayat 2 UU tersebut menyebutkan bahwa Transplantasi organ dan atau jaringan tubuh serta transfusi darah dilakukan hanya untuk tujuan kemanusiaan dan dilarang untuk tujuan komersil.

Dapat dipahami dari UU tersebut bahwa transplantasi diperbolehkan untuk dilakukan jika memang dibutuhkan, namun tak boleh ada transaksi atas organ yang didonorkan seperti saat seseorang menawarkan ginjalnya demi sepeser uang.

Tak hanya dalam UU, PP di atas juga mengatur demikian. Salah satu perbuatan yang dilarang adalah memperjualbelikan alat dan atau jaringan tubuh manusia.

Sementara itu, transplantasi organ ginjal pada manusia pertama kali dilakukan di Amerika Serikat dan disusul dengan negara Perancis pada tahun 1954. Meski demikian, transplantasi organ tetap sebuah permasalahan yang hangat untuk dikupas baik dari sisi kebutuhan hidup ataupun agama terutamanya dalam Islam.

Transplantasi Organ di Pandangan Islam

Hidup dan mati di tangan Allah subhanahu wa ta’ala. Tubuh yang sekarang dimiliki pun juga milikNya dan tidak ada yang boleh memutilasi ataupun mengeluarkan organ di dalamnya untuk keuntungan komersial. Oleh karenanya, para akademisi Islam sering membahas perihal Transplantasi ini.

Kemudian, dijelaskan oleh Profesor Aziz El-Matri, seorang spesialis ginjal dari Tunisia dan anggota The Transplantation Society dalam wawancara dengan organisasi The New Arab dilansir dari Al Araby dan republika bahwa Islam memandang tubuh manusia untuk disucikan.

Tubuh merupakan properti yang tidak bisa dicabut atau dipindahtangankan. Oleh karenanya, seorang muslim tidak bisa sembarangan mendonorkan bagian tubuhnya karena tubuhnya merupakan titipan dari Allah, selain itu sebagai manusia juga memiliki kewajiban untuk melestarikan kehidupan, baik manusia, hewan, dan tumbuhan. Namun, jika ditilik dari sisi kebutuhan untuk hidup, apapun alasannya transplantasi harus bisa dilakukan.

Sementara itu, Ustadz Agung Cahyadi, Lc, MA, seorang ahli fiqh sekaligus dosen STIDKI Ar Rahmah Surabaya memberikan pendapatnya. “Sebenarnya, dari dasar hukum tidak boleh transplantasi itu. Karena, sama-sama menyakiti manusia dengan membedah,” terangnya.

Selanjutnya kembali ia berpendapat, jika dihadapkan pada kebutuhan hidup seseorang transplantasi boleh dilakukan. “Sama seperti minum khamr, jika tidak ada air tersisa di dunia dan yang tersisa hanya minuman itu, maka boleh dikonsumsi karena terkait dengan kebutuhan seseorang untuk hidup,” terang alumnus Universitas Islam Madinah itu.

Majelis Ulama Indonesia Menyikapi Transplantasi

Majelis Ulama Indonesia (MUI) sebagai komisi fatwa di Indonesia juga mengambil sikap untuk menyikapi transplantasi. Dalam fatwanya yang keluar tahun 2010 mengatur hukum tentang cangkok organ.

Dalam fatwa tersebut ditegaskan, pencangkokan organ manusia ke dalam tubuh yang lain diperbolehkan melalui hibah, wasiat dengan meminta, tanpa imbalan, atau dari bank organ tubuh.

Lalu, jika organ diambil dari tubuh seseorang yang telah meninggal juga diperbolehkan dengan syarat harus disaksikan oleh dua dokter ahli. Selanjutnya, transplantasi dihukumi haram jika didasari bukan karena suatu kemaslahatan hidup orang.

“Transplantasi diharamkan bila didasari tujuan komersial. Tidak boleh diperjual belikan,” terang Ketua MUI, Ma’ruf Amin dikutip dari republika.

Oleh karenanya, pencangkokan organ atau transplantasi diperbolehkan. Asal sesuai syariat dan syaratnya terpenuhi. Selain itu, dalam melaksanakannya juga harus memperhatikan hal-hal yang detail agar dalam pencangkokan organ tersebut memberi kemanfaatan bagi penerima donor dan pendonornya. (ipw)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here