Mukisi.com-Majelis Upaya Kesehatan Islam Indonesia (MUKISI) bersama asosiasi keperawatan menggelar dinnertalk yang membahas rancangan standardisasi keperawatan Rumah Sakit (RS) Syariah, Senin (27/8). Hasilnya, akan menjadi standar pelayanan di setiap Rumah Sakit yang tersertifikasi syariah.

Kegiatan yang digelar santai di salah satu resto yang ada di daerah Kemang ini dihadiri oleh dewan pengurus MUKISI. Turut hadir dalam kegiatan itu, Rohman Azzam dari PPNI (Persatuan Perawat Nasional Indonesia), Slametingsih dari AIPNI (Asosiasi Institusi Pendidikan Ners Indonesia), dan Budi Mulyadi dari PROKAMI (Perhimpunan Profesional Kesehatan Muslim Indonesia).

drg. Wahyu Sulistiadi, MARS, ketua dinnertalk mengatakan bahwa pertemuan ini diselenggarakan secara berkala dan khusus untuk membahas perancangan standar keperawatan dan etika keperawatan Rumah Sakit (RS) Syariah.

Standar ini digodok dan dirampungkan hingga enam bulan ke depan, dan ditargetkan dapat launching  di acara 2nd IHEX (International Islamic Healthcare Conference and Expo) pada Maret mendatang.

“Nantinya akan disahkan secara nasional oleh MUKISI dan MUI dalam acara 2nd IHEX Maret mendatang,” terangnya.

Menurut dokter alumnus Universitas Indonesia ini, ada yang menarik dari acara dinnertalk semalam, yaitu berkumpulnya dan bersatunya organisasi profesi keperawatan untuk bersinergi dan berupaya keras merampungkan standar ertika keperawatan yang menjadi milik bersama serta dipakai kepentingan ummat di dunia.

Sementara itu, sekretaris MUKISI, dr. Burhanuddin Hamid Darmadji, MARS mengatakan, pertemuan itu bukan dalam rangka membuat standar keperawatan secara mufakat, melainkan membangun standar keperawatan yang diimplementasikan di RS Syariah. Standar ini nantinya terkait dengan elemen penilaian dalam sertifikasi RS Syariah. “Ini menyempurnakan standar keperawatan yang selama ini sudah ada,” kata pria yang juga menjadi pengurus pusat PROKAMI (Perhimpunan Tenaga Profesi Kesehatan Muslim Indonesia) ini.

Standar keperawatan yang dirumuskan itu misalnya tentang bagamana cara perawat mendampingi pasien saat sakaratul maut. Juga standar mendampingi pasien menjaga atau menutup aurat.

Selain itu standar  yang memastikan tidak terjadi khalwat dan ikhtilat dalam pelayanan, atau memastikan pasien tetap menjalankan kewajiban sholat, dan lain-lain. “Sebenarnya sangat banyak, karena intensitas perawat bersentuhan dengan pasien sangat erat, bahkan lebih erat daripada dokter,” katanya.

Pentingnya Standar Etika Keperawatan

Kemudian, drg. Wahyu Sulistiadi, MARS, kembali memberi penjelasan bahwa pembahasan standar keperawatan dan etika keperawatan untuk rumah sakit syariah amat penting, karena selama ini belum ada kesepakatan bersama mengenai hal tersebut.

“Setiap rumah sakit syariah memiliki standar etika keperawatan masing-masing, tetapi belum ada kesepakatan yang digodok bersama untuk digunakan secara bersama pula, khususnya untuk rumah sakit syariah sebagai penggiat kesehatan Islam,” terang dokter yang juga merupakan ketua bidang diklat lkatan Konsultan Indonesia ini.

Perawat, lanjutnya, memiliki peran yang amat penting dalam sivitas rumah sakit. Perawat merupakan tenaga medis yang 24 jam berada di rumah sakit dan dalam pekerjaannya sangat terkait dengan pasien dan masyarakat.

Terbentuknya Tim 11

Pembahasan dinnertalk juga menghasilkan dibentuknya Tim 11 yang terdiri dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI), Majelis Upaya Kesehatan Islam Indonesia (MUKISI), Asosiasi Pendidikan Vokasi Keperawatan  Indonesia, Asosisasi Pendidikan Nurse Indonesia, dan Perhimpunan Tenaga Profesi Kesehatan Muslim Indonesia (PROKAMI). drg. Wahyu Sulistiadi, MARS hadir sebagai ketua dari Tim 11.

Mukisi dalam hal ini membantu memfasilitasi pertemuan berbagai organisasi penggiat kesehatan di Indonesia ini. Sehingga diharapkan keluarlah sebuah kesepakatan standar keperawatan yang dapat diterapkan oleh rumah sakit syariah. Dengan begitu, upaya kesehatan Islam menjadi lebih komprehensif dan mendalam.

Selain dapat bermanfaat bagi rumah sakit syariah untuk semakin berkembang dan memperbaiki diri, diharapkan pula dengan adanya pembahasan etika keperawatan ini masyarakat dapat memahami basic standar etika keperawatan Indonesia. Dengan begitu, upaya kesehatan Islam tak hanya dipahami oleh pihak rumah sakit syariah saja, tetapi juga dipahami dan dimengerti oleh masyarakat. (Din)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here