Mukisi.com – Penerapan sistem keuangan yang seusai dengan konsep syariah, merupakan salah satu menu wajib bagi rumah sakit yang sudah tersertifikasi syariah. Upaya ini dilakukan untuk mengundang keberkahan sivitas rumah sakit, baik pasien, karyawan, ataupun rekanan.

Dr. Hj. Umi Aliyah, MARS, Direktur RS Muhammadiyah Lamongan mengatakan bahwa Rumah Sakit (RS) Syariah harus menerapkan transaksi keuangan yang sesuai dengan tuntunan Islam, yaitu yang menerapkan akuntansi syariah. Menurutnya, RS Syariah berupaya menghindari penyimpangan keuangan yang tidak sesuai dengan syariat Islam.

Ia mengatakan akuntansi syariah adalah akuntansi yang sesuai dengan standar yang diterbitkan oleh IAI (Ikatan Akuntan Indonesia). Akuntansi syariah ditegakkan oleh rumah sakit syariah dengan mengingat pentingnya keberkahan sivitas rumah sakit, baik itu pasien, karyawan, ataupun rekanan.

“Harus jelas, sesuai dengan aturan syariah. Sehingga diharapkan uang yang diterima rumah sakit adalah uang yang barokah,” ungkap wanita yang juga merupakan aktivis Aisyiyah Lamongan ini.

Kemudian ia menunjukkan definisi lain dari akuntansi syariah, adalah suatu kegiatan identifikasi, klarifikasi, dan pelaporan melalui dalam mengambil keputusan ekonomi berdasarkan prinsip akad-akad syariah, yaitu tidak mengandung kezaliman, riba, maysir  (judi), gharar (penipuan), barang yang haram, dan membahayakan.

Akuntansi syariah, lanjutnya, harus sesuai dengan ketentuan-ketentuan yang ditetapkan dalam Islam. Beberapa di antaranya dapat dilihat dalam Surat Al-Insyiqaq ayat 8, serta dalam Surat Al-Thalaq ayat 8.

Direktur RSML (Rumah Sakit Muhammadiyah Lamongan) masa bakti 2016-2020 ini mengatakan, penerimaan pembayaran di RS Syariah tidak hanya dari lembaga keuangan syariah. Hal ini disebabkan masyarakat belum banyak yang mengenal dan memahami tentang syariah.

“Oleh sebab itu, rumah sakit masih menerima pembayaran dari lembaga non syariah dengan kebijakan khusus bahwa dana yang ada di bank-bank atau lembaga keuangan konvensional kami beri plafon tertentu. Sehingga jika melebihi plafon tersebut, dana akan ditransfer ke lembaga keuangan atau bank syariah,” jelas wanita yang telah menjabat sebagai direktur  RSML dua kali ini.

Piutang Tidak Tertagih, Dibayar LAZ

Piutang tidak tertagih sering menjadi persoalan bagi manajemen rumah sakit. Di rumah sakit syariah, khususnya di RSML, piutang tidak tertagih telah memiliki prosedur atau kriteria tertentu. Yaitu bahwa piutang tersebut bisa dibayar oleh LAZISMU ((Lembaga Zakat Infaq Shodaqoh Muhammadiyah).

“Di RSML misalnya, sebagian dana LAZISMU RSML diperuntukkan untuk pasien-pasien yang tidak bisa membayar tagihan, asal memenuhi kriteria dalam SPO (Standar Prosedur Operasional),” terangnya.

Alokasi ZIS (Zakat, Infaq, dan Shodaqoh) disesuaikan dengan asnaf ZIS sebagaimana yang tertuang dalam Al-Qur’an. Ada prosentase yang dikembalikan ke rumah sakit untuk membayar tagihan-tagihan yang tidak terbayar oleh pasien. “Kembali lagi, asal sesuai dengan kriteria, atau asnaf,” imbuhnya.

Dengan menerapkan prinsip syariah secara kaffaah, rumah sakit syariah berharap dapat mengupayakan kesehatan Islam dan mengambil keberkahan di dalamnya, salah satunya perkara transaksi syariah yang harus ditegakkan. “Transaksi yang barakah adalah yang sesuai dengan ketentuan Al-Qur’an, kami sudah berusaha untuk menjalankannya dengan maksimal, semoga berpengaruh pada kondisi dan keberkahan pasien,” tutupnya. (Din)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here