Kebersihan dan keindahan kerap menjadi parameter keimanan seseorang. Orang yang bersih secara batin dan jasmani merupakan tanda mencintai Allah. Termasuk dalam urusan kebersihan fisik dan pakaian yang dikenakan. RS Syariah memahami betul akan hal ini. Sehingga dengan mengacu pada standarisasi yang ketat, RS Syariah mengupayakan sistem kebersihan yang telah lolos sertifikasi.

Dengan menerapkan sistem syariat Islam, RS Syariah berharap dapat membebaskan masyarakat dari tuntutan fardhu kifayah.

Penggunaan Alat Pel dan Sandal Kamar Mandi

Tak hanya menjaga kebersihan jiwa melalui bimbingan rohani, RS Syariah juga menjaga kebersihan fisik dan lingkungan pasien. Hal ini dilakukan dengan cara menerapkan penggunaan simbol yang berbeda pada alat-alat kebersihan. Simbol tersebut dibedakan berdasar area yang suci dan non suci.

Mop bersimbol biru untuk membersihkan area selasar dan kantor. Mop berwarna putih untuk membersihkan area musholla dan masjid. Mop merah untuk membersihkan area kamar mandi. Sedangkan mop kuning untuk membersihkan area kamar pasien dan laundry. Hal ini ditujukan agar tidak terjadi pencampuran penggunaan alat kebersihan untuk area suci dan non suci.

Sementara itu, penggunaan sandal khusus kamar mandi untuk menjaga kesucian dari najis. RS syariah memastikan agar pasien dapat terfasilitasi dengan baik ikhwal kebersihan.

Pentingnya Laundry Syariah yang Diterapkan RS Syariah

Ketua Umum Majelis Upaya Kesehatan Islam Seluruh Indonesia (MUKISI) Masyhudi mengungkapkan, rumah sakit yang ingin mendapatkan syariah harus melewati standar serta penilaian. Ia mengatakan, obat-obatan, gizi, hingga laundry syariah pun harus ditegakkan.

Pencucian linen dipastikan suci dan bersih, serta sesuai syariat. Begitu juga dengan penyetrikaan linen. Hingga pengemasan linen yang memastikan linen terpasang label halal (Halal pass).

Laundry syariah yang diterapkan oleh RS syariah pun kini menjadi teladan bagi rumah sakit lain. Ketua Kompartemen Manajemen Penunjang Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (PERSI) dr Lia G. Partakusuma, SpPK, meminta agar rumah sakit Indonesia menyediakan layanan “laundry” bagi pasien sekaligus diminta menerapkan manajemen laundry terstandar. Hal ini dikatakan Lia kepada liputan6.com. Menurutnya, sampai saat ini belum semua rumah sakit (RS) di Indonesia menyediakan manajemen laundry yang terstandar

Padahal, bahaya penularan kuman patogen lewat linen dan pakaian dapat mengakibatkan infeksi. Juga bertambahnya waktu opname di RS, serta tambahan biaya perawatan bagi pasien. Sebenarnya aturan tentang Pengelolaan Tempat Pencucian Linen (Laundry), menurut Lia telah diatur dalam Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) Nomor 1204 Tahun 2004 tentang Persyaratan Kesehatan Lingkungan Rumah Sakit. Sayang, belum semua rumah sakit mampu memenuhinya.(Din)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here