Kadangkala, pasien di rumah sakit tidak punya daya saat privasinya terganggu di RS, terutama bagi pasien wanita yang berjilbab. Ia harus terus bersiap dengan jilbabnya, karena sewaktu-waktu petugas di luar mahram datang. Namun ketakutan itu, tak lagi terjadi.

Hal itu dikarenakan karena ada standar tersendiri bagi RS yang sudah tersertifikasi sebagai rumah sakit syariah. Dalam rumah sakit syariah, salah satu indikator mutu yang wajib adalah dalam Rumah Sakit Syariah sangat mengupayakan untuk tidak berinteraksi langsung dengan lawan jenisnya.

Karena, berinteraksi dengan lawan jenis dalam Islam dan bukan mahram tentu dilarang. Maka dari itu, penilaian untuk Rumah Sakit Syariah harus ketat dan sesuai dengan prinsip maupun hukum Islam.

Lalu, dijelaskan dalam Standar Manajemen dan Standar Pelayanan yang diturunkan dari Maqashid Syariah, dalam bab Penjagaan Agama (Hifzh Ad Din) di Standar Syariah Pelayanan Pasien salah satu poin menyebutkan bahwa rumah sakit menjamin adanya upaya untuk menjaga aurat pasien, pelayanan sesuai jenis kelamin dan memelihara dari unsur ikhtilath  atau bercampur baur yang berlainan jenis yang bukan mahram.

Oleh karenanya, suatu rumah sakit yang akan melaksanakan sertifikasi harus benar-benar jeli dalam menerapkan peraturan yang mengatur tentang privasi pasien. Jangan sampai pasien merasa tidak nyaman jika auratnya terlihat oleh yang orang lain yang bukan mahram.

Kemudian, penerapannya tercantum dalam 8 indikator Standar Pelayanan Minimal (SPM) Rumah Sakit Syariah dimana beberapa poinnya mengatur tentang privasi pasien yaitu, hijab untuk pasien, pemasangan EKG sesuai gender, pemakaian hijab menyusui, dan pemakaian hijab di kamar operasi.

Maka dari itu, rumah sakit yang akan melaksanakan sertifikasi ini tak bisa abai begitu saja. Karena, sertifikasi syariah untuk rumah sakit bukan standar yang biasa-biasa saja. Ada banyak standard utama yang harus dipenuhi dan mengacu pada prinsip dan hukum Islam. Dengan begitu, pasien yang seorang muslim akan terlindungi privasi auratnya dan merasa nyaman untuk berobat di rumah sakit yang sudah berstandar syariah.

RS Syariah telah lahir. Sertifikasinya telah disetujui oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI). Ada beberapa poin agar suatu rumah sakit mendapat sertifikasi ini. Salah satunya yang mengatur perihal privasi pasien.

Sertifikasi Rumah Sakit Syariah menjadi sebuah usaha yang tidak sia-sia yang digawangi oleh Majelis Upaya Kesehatan Islam Indonesia (MUKISI). Kemudian, sertifikasi ini lahir tak luput dari ghirah umat Islam dalam mencari-cari pengobatan yang tak hanya secara nama saja Islami namun juga secara peraturan baik bagi pasien rumah sakit maupun karyawannya.

Rumah Sakit yang telah mendapatkan sertifikasi syariah harus dapat melewati tahap sertifikasi dan harus melewati 3 indikator mutu wajib syariah. Yaitu pertama, Rumah Sakit Syariah sangat mengupayakan untuk tidak berinteraksi langsung dengan lawan jenisnya. Termasuk pada pemasangan kateter sesuai gender. Kedua, ketika pasien sakaratul maut harus terdampingi dengan Talqin, lalu mengingatkan waktu sholat bagi pasien dan keluarga.  (ipw)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here