Meski namanya merupakan Rumah Sakit yang berlabel Syariah, namun RS Syariah tidak hanya melakukan pelayanan kesehatan bagi masyarakat muslim saja. RS Syariah juga melakukan pelayanan kesehatan bagi masyarakat non muslim dan memberi pelayanan yang terbaik bagi pasien non muslim yang berobat disana.

Demikian hal yang diungkapkan oleh Dr. dr. H. Sagiran, Sp.B (K) KL., M.Kes. Pria yang merupakan Ketua RS Syariah MUKISI Pusat, ini menyatakan bahwa tidak ada diskriminasi dalam hal pelayanan pasien berstatus muslim maupun non muslim di Rumah sakit syariah. “Pasien non muslim tetap dilayani sesuai dengan standar layanan kesehatan yang berlaku. Tanpa dibeda-bedakan dengan mengabaikan kualitas layanan. Pasien non muslim berhak menolak layanan yang dirasa tidak sesuai dengan keyakinannya,” jelasnya.

 

Ia menambahkan, meski pasien menolak, rumah sakit akan tetap menghormati pasien non muslim. “ Pihak Rumah sakit juga memfasilitasi pasien apabila menginginkan bimbingan rohani oleh pemuka agama non muslim,” imbuhnya lagi. Pasien muslim dan non muslim dibolehkan memanggil rohaniawan dari luar rumah sakit. RS juga dapat memfasilitasi pemanggilan rohaniawan tersebut dengan MOU DEPAG Bantul.

Tak hanya itu, rumah sakit selalu melakukan identifikasi kepercayaan atau keyakinan pasien sebelum memutuskan untuk memberikan layanan spiritual islam kepada mereka. Sehingga ketika diketahui bahwa pasien adalah non muslim, maka petugas akan menawarkan apakah pasien bersedia didoakan dengan cara islam atau tidak. Sehingga hak beragama pasien tetap terjaga.

 

Kebebesan Berdoa dan Didoakan Sesuai Kepercayaannya

 

Alumnus Universitas Muhammadiyah Yogyakarta ini menjelaskan bahwa secara umum hak pasien non muslim sama dengan pasien lainnya, yaitu sesuai dengan undang-undang nomor 4 tahun 2009. Termasuk  hak untuk beribadah sesuai dengan agamanya selama tidak mengganggu pasien lain.Kebebasan untuk berdoa dan didoakan menurut kepercayaannya selama tidak mengganggu kenyamanan pasien lain misalnya tidak menimbulkan keributan/kebisingan dan atau wewangian yang mengganggu pasien lain,” ujarnya yang juga menjabat sebagai Ketua Divisi Sertifikasi RS Syariah MUKISI Pusat

 

Semaksimal Mungkin Memenuhi Hak Pasien

 

Rumah Sakit Syariah, berupaya maksimal untuk memenuhi hak pasien sesuai hak pasien yang diatur pemerintah di dalam undang-Undang No. 29 Tahun 2004 tentang Praktek Kedokteran juga merupakan Undang-Undang yang bertujuan untuk memberikan perlindungan bagi pasien.

 

Hak-hak pasien diatur dalam pasal 52 UU No. 29/2004, seperti, mendapatkan penjelasan secara lengkap tentang tindakan medis sebagaimana dimaksud dalam pasal 45 ayat (3), meminta pendapat dokter atau dokter lain, mendapatkan pelayanan sesuai dengan kebutuhan medis, menolak tindakan medis dan mendapatkan isi rekam medis. “Dan hal ini sangat dimaksimalkan untuk diperoleh pasien muslim maupun non muslim,” tegasnya.(Muf)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here