Rasulullah bersabda, “Ada dua kenikmatan yang banyak manusia tertipu, yaitu nikmat sehat dan waktu senggang” (HR Bukhori Muslim). Maka dari itu, kesehatan adalah nikmat tiada tara yang diberikan Allah kepada kita. Kemudian, jika seorang muslim diuji oleh Allah dengan suatu penyakit maka wajib bagi orang tersebut untuk berobat. Hal tersebut berdasar pada sabda Rasulullah dari Jabir bin ‘Abdullah radhiyallahu ‘anhu dalam Hadits Riwayat Muslim yang berbunyi, “Setiap penyakit pasti memiliki obat. Bila setiap obat sesuai dengan penyakitnya maka dia akan sembuh dengan seizin Allah.”

Namun, yang menjadi pertanyaan adalah apakah rumah sakit yang dituju telah menerapkan syariat Islam?

Alhamdulillah, kini muncul kesadaran masyarakat dan pemerhati medis untuk menerapkan pengobatan yang sesuai dengan syariat-Nya. MUKISI (Majelis Upaya Kesehatan Islam Seluruh Indonesia) dan DSN-MUI (Dewan Syariah Nasional) bekerjasama untuk mewujudkan sertifikasi rumah sakit syariah di Indonesia. Rumah sakit milik pemerintah pun mendapat kesempatan yang sama untuk menerapkan prinsip syariah, “Yang bisa menjadi Rumah Sakit Syariah bukan hanya Rumah Sakit Islam. Tapi, rumah sakit milik pemerintah pun juga tidak tertutup.” ungkap Masyhudi selaku ketua MUKISI. Oleh karena itu, MUKISI membuka lebar kesempatan bagi semua rumah sakit baik milik pemerintah atau swasta untuk mendapatkan sertifikasi ini.

Kemudian, Rumah Sakit Islam Sultan Agung Semarang menjadi rumah sakit pertama yang mendapat sertifikasi rumah sakit syariah dari DSN. Dirut RSI Sultan Agung, Masyhudi menyebutkan bahwa untuk mencapai sertifikasi syariah ini dibutuhkan waktu dan proses setidaknya dua tahun. Lalu, keunggulan dari RS Syariah ini memiliki banyak persyaratan. “Ada 51 persyaratan standar serta 173 elemen penilaian. Misalnya terkait dengan sistem keuangan RS Syariah ini juga harus ada akad syariah, seperti ijarah, mudharabah, murabahah.” Oleh karenanya, ini menjadi keunikan suatu RS Syariah dalam menjalankan pengelolaan rumah sakitnya. Kemudian, dr.Masyhudi lanjut menjelaskan terkait dengan pelayanan pasien ia menegaskan sudah menggunakan prinsip syariah semisal pemasangan kateter sesuai gender, pemakaian hijab bagi perempuan yang akan di visite oleh dokter laki-laki. “Bahkan laundry juga harus menggunakan prinsip syariah dan masih banyak elemen lain.” ungkapnya.

Sementara itu, Rumah Sakit yang terlabel syariah ini memiliki keunikan dan keunggulan masing-masing mislanya seperti RSI Sultan Agung Semarang yang menerapkan sistem syariah dalam pengelolaan rumah sakitnya juga dalam pelayanan ke pasien.

Di sisi lain, Rumah Sakit Islam yang telah tersertifikasi syariah ini di Indonesia sudah ada 10 rumah sakit. Diantaranya, RS PKU Muhammadiyah Wonosobo, RS Amal Sehat Wonogiri, RS PKU Muhammadiyah Jogjakarta, RS PDHI Jogjakarta, RS Haji Jakarta, RS Sari Asih Ciledug, RS Ar-Rahmah Tangerang, RS Islam Jakarta, RS Islam Malang, dan RS Muhammadiyah Lamongan..

Sementara itu, tak berbeda jauh dengan RS Sultan Agung Semarang, RS Nur Hidayah Bantul yang telah tersertifikasi syariah menerapkan sistem pengelolaan syariah dan sistem pelayanan pasien secara syariah. Kemudian, dr. Tri Ermin Fadlina selaku Ketua Dewan Pengawas RS Nur Hidayah juga merasa lega dengan adanya sertifikasi syariah ini. “Kita merasa lebih aman bisa melayani. Karena, di situ ada syarat untuk dapurnya harus tersertifikasi halal. Bagi masyarakat juga akan semakin aman karena mereka yakin jika obat-obatan yang dipakai di rumah sakit ini adalah obat-obatan dan makanan yang halal untuk disajikan.” pungkasnya.

Di sisi lain, dengan hadirnya rumah sakit syariah ini, tentu sebagai umat Islam akan merasa lebih aman karena mereka akan merasa ini adalah bagian dari ghirah umat untuk mencari pengobatan Islami seperti yang dikatakan oleh dr. Masyhudi. Tak perlu lagi, umat Islam risau tentang pengobatan yang akan mereka jalani di RS Syariah ini karena semua pengelolaan rumah sakit dan pelayanannya sudah sesuai dengan prinsip syariah dan disertifikasi oleh Dewan Syariah Nasional. (ipw)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here