Tak hanya memperhatikan pelayanan pasien yang dikemas secara syar’i, RS syariah juga sangat memperhatikan konsep transaksi dan pengelolaan dana. Bagaimana transaksi dan pengelolaan dana yang ada di dalam rumah sakit syariah ? berikut ulasannya.

 

Dalam fatwa DSN MUI mengenai ketentuan penyelenggaraan rumah sakit syariah, menjelaskan bahwa ada ketentuan khusus terkait penempatan, penggunaan dan pengembangan dana rumah sakit. Ada empat hal yang sangat diperhatikan.

Pertama, rumah Sakit wajib menggunakan jasa Lembaga Keuangan Syariah dalam upaya penyelenggaraan rumah sakit, baik bank, asuransi, lembaga pembiayaan, lembaga penjaminan, maupun dana pension. Kedua, rumah Sakit wajib mengelola portofolio dana dan jenis-jenis asset lainnya sesuai dengan prinsip-prinsip syariah. Ketiga, rumah Sakit tidak boleh mengembangkan dana pada kegiatan usaha dan/atau transaksi keuangan yang bertentangan dengan prinsip-prinsip syariah. Dan yang terakhir Rumah Sakit wajib memiliki panduan pengelolaan dana zakat, infaq, sedekah, dan wakaf.

Akad-Akad Transaksi RS Syariah

Selain itu, dalam transaksinya, RS syariah juga sangat memperhatikan akadnya. DSN MUI juga menuliskan beberapa akad yang diterapkan dalam penyelenggaraan RS Syariah. Pertama, akad ijarah adalah akad pemindahan hak guna (manfaat) atas suatu barang atau jasa dalam waktu tertentu dengan pembayaran atau upah.

Kedua, akad Ijarah Muntahiyyah bit Tamlik adalah perjanjian sewa menyewa yang disertai dengan janji pemindahan hak milik atas benda yang disewa kepada penyewa setelah selesai masa sewa.

Ketiga, akad Bai’ (jual-beli) adalah pertukaran harta dengan harta yang menjadi sebab berpindahnya kepemilikan obyek jual beli.

Keempat, akad Mudharabah adalah akad kerjasama suatu usaha antara dua pihak, di mana pihak pertama (malik, shahibul mal) menyediakan seluruh modal sedang pihak kedua  bertindak selaku pengelola (amil, mudharib), dan keuntungan usaha dibagi di antara mereka sesuai nisbah yang disepakati.

Kelima, akad Musyarakah Mutanaqishah adalah akad musyarakah atau syirkah yang kepemilikan aset (barang) atau modal salah satu pihak (syarik) berkurang disebabkan pembelian secara bertahap oleh pihak lainnya. Dan terakhir, akad wakalah bi al-ujrah adalah akad pemberian kuasa dengan imbalan (ujrah).

 

Dr. dr. H. Sagiran, Sp.B (K) KL., M.Kes  menjelaskan, bahwa  transaksi di rumah sakit syariah memperhatikan prinsip-prinsip syariah.”Salah satu yang diperhatikan adalah akadnya,” ujarnya. Tak hanya itu, RS syariah juga sangat mengantisipasi peluang riba dalam berbagai transaksi dan telah menyepakati langkah-langkah yang akan diterapkan untuk menghindari transaksi yang berbau riba.(Muf)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here