RS Syariah adalah rumah sakit yg seluruh aktivitasnya dilandaskan pada prinsip syariah (dr. H. Masyhudi, AM, M.Kes). RS Syariah memiliki standar tersendiri dalam memperlakukan dan merawat pasiennya. Oleh sebab itu, seseorang yang menjadi pasien di RS Syariah tentunya memiliki pengalaman tersendiri. RS Muhammadiyah Lamongan dan RS PKU Muhammadiyah Bantul Jogjakarta adalah RS yang telah tersertifikasi syariah oleh DSN-MUI.

 

Pengalaman Baik di RS Muhammadiyah Lamongan

April lalu Bapak Murozim menjadi pasien rawat inap di RS Muhammadiyah Lamongan. Ia menceritakan pengalamannya ketika menjadi pasien di sana. Waktu itu, ia melakukan operasi dan harus menjalani rawat inap, serta wajib kontrol empat kali dalam sebulan. Dokter yang menangani Bapak Murozim saat itu adalah dr. Romy Hari P, Sp.B (spesialis bedah umum) dan dr. Fajar Admayana, Sp.PD (spesialis penyakit dalam). Ada hal yang membuatnya berkesan saat itu, menurutnya, perawat dan dokter yang menanganinya sangat ramah, serta memegang erat ketekunan sholat berjamaah di masjid rumah sakit. “Waktu itu perawatnya pada sholat bersama-sama, ‘bagus sekali’, dalam batin saya berkata begitu” ucap warga Desa Kandangsemangkon Lamongan tersebut. RS Muhammadiyah Lamongan sebagai RS syariah tak sekedar citra, menurutnya, sivitas RS Muhammadiyah Lamongan benar-benar mengimplementasikan nilai-nilai Islam dalam bekerja.

Begitu juga yang dialami oleh Bapak Umar, tanggal 30 Juni lalu ia menjalani rawat inap di RS Muhammadiyah Lamongan. Baginya, peran rohaniawan sangtalah penting bagi orang yang sedang diuji sakit. Hal itulah yang dimiliki oleh RS yang berada di jl. Jaksa Agung Suprapto Lamongan tersebut. “Ada rohaniawan yang cukup membantu saya, saya rasa hal itulah yang tak kalah penting dibutuhkan oleh pasien” ucap lelaki yang selalu berpeci tersebut. Kesucian ruangan yang sangat terjaga juga membuatnya nyaman untuk dapat fokus istirahat demi pemulihan fisik.

Hal lain dialami oleh Linda. Ia adalah seorang mahasiswa universitas ternama di Surabaya. Oktober tahun lalu, ia menjalani operasi  FAM (penyakit tumor jinak yang menyerang payudara yang berbentuk seperti benjolan berbatas jelas dan yang dapat digerakkan). Namun pada saat itu, RS Muhammadiyah Lamongan belum tersertifikasi syariah. Selain opname, ia juga tiga kali melakukan kontrol pasca operasi. Meski saat itu RS Muhammadiyah Lamongan belum tersertifikasi sebagai RS syariah, tetapi menurutnya, para tenaga medis di rumah sakit tersebut sudah menunjukkan akhlak yang syariah dalam bekerja dan beribadah. “Masjidnya besar, setiap setelah sholat, selalu ada ceramahnya, iya, setiap sholat, baik usai sholat shubuh, dhuhur, ashar, maghrib, maupun isya, perawatnya pada sholat semua ketika adzan berkumandang” ucap gadis berusia 21 tahun tersebut. Sebelum ia diperiksa, ia dibimbing untuk berdoa terlebih dahulu oleh tenaga medis yang menanganinya. Serta ia menceritakan bahwa setiap pagi ada rohaniawan yang menjenguknya untuk membacakan doa dan memberikan buku doa-doa.

Sisi lain datang dari Deni. Ia adalah seorang tenaga medis yang bertugas di RS Muhammadiyah  Lamongan. Menurutnya, lingkungan pekerjaan di sana sangat menjaga betul akan kebersihan ruangan, serta senantiasa memulai dan menyudahi pemeriksaan dengan doa. Prinsipnya, agar pekerjaannya tak sia-sia, maka bekerja haruslah bernilai ibadah. Oleh sebab itu prinsip nilai Islami seharusnya memang sudah terpatri erat dalam setiap aktivitas yang dilakukan. “Banyak pasien yang berterima kasih, dan itu kebanggan tersendiri untuk saya” tutup Deni.

 

RS PKU Muhammadiyah Bantul Jogjakarta

            Wawan adalah warga Bantul yang tinggal tak jauh dari RS PKU Muhammadiyah, hanya berjarak 2 km dari rumahnya. Selama empat bulan terakhir ini ia rajin kontrol karena mengalami kejang otot dan vertigo. Ia merasa mantap untuk berobat di RS PKU Muhammadiyah karena tak perlu ragu soal kehalalan dan kesyariahannya. Termasuk ia tak meragukan soal makanan yang disajikan.

Ia merasakan atmosfir menenangkan ketika berobat di RS PKU Muhammadiyah Bantul. Masjid rumah sakit selalu dipenuhi barisan jamaah yang datang tepat waktu untuk sholat. Ia mengatakan bahwa para dokter dan perawat juga menegakkan disiplin waktu ketika sholat. Ia bersyukur karena telah menemukan rumah sakit yang sesuai dengan prinsip Islam. Istri Wawan pernah merasakan pelayanan di rumah sakit non Islam, menurutnya, ia tak mendapatkan bimbingan dan pendampingan yang sesuai dengan syariat, “waktu itu istri saya operasi di rumah sakit non Islam, dan sebelum operasi, dibacakan doa non muslim, terus menjelang maghrib ada nyanyian-nyanyian rohani non muslim. Kalau waktu itu posisinya tidak mendesak harus segera ditangani, mungkin saya nggak kesana, kan kita juga tidak tau kehalalan makanan nya” ucap Wawan melalui telepon.

Kalau di rumah sakit syariah kan enak, waktu itu ibu saya ketika wafat juga jenazahnya dimandikan dan dikafani secara baik berdasarkan syariah Islam, jadi saya tak perlu merisaukan hal itu” imbuh Wawan. Ia juga menuturkan bahwa RS PKU Muhammadiyah menawarkan BPJS. Hal ini membuatnya terkesan karena pihak rumah sakit sendiri yang menawarkan dan bersedia membantu pelayanan pasien BPJS. (Din)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here