Selain kebutuhan akses ekonomi dan pendidikan, masyarakat juga membutuhkan akses kesehatan. Indonesia sebagai Negara yang masyarakatnya sebagian besar beragama Islam membutuhkan pelayanan kesehatan yang sesuai dengan prinsip syariah dalam Islam, yang membawa keberkahan.

 

Rumah Sakit Syariah Menjawab Permasalahan

Kita sama-sama pahami bahwa kesehatan merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia yang fundamental bagi produktifitas seseorang. Jumlah muslim yang sangat besar di Indonesia memerlukan hadirnya sistem pelayanan kesehatan yang sesuai dengan kaidah Islam agar senantiasa mendapat ridho Allah. Kebutuhan masyarakat akan pelayanan kesehatan syariah di Indonesia masih tinggi, namun tidak semua rumah sakit menerapkan prinsip syaiah.

Di kala sakit, Allah memang sedang mengistirahatkan fisik pasien, namun ruh atau jiwa pasien sedang membutuhkan bimbingan spiritual. Melalui layanan peduli ibadah, pasien yang memerlukan bantuan akan diberi bimbingan untuk melaksanakan sholat dan terus mendekatkan diri pada Allah mengharap kesembuhan dariNya. Hal inilah yang disadari oleh dr. Mayshudi, MA, M.Kes selaku ketua MUKISI (Majelis Upaya Kesehatan Islam Indonesia).

Oleh sebab itu ia menginisiasi adanya prinsip syariah bagi rumah sakit di Indonesia. Salah satu pilot project rumah sakit syariah adalah rumah sakit yang dipimpin oleh dokter Masyhudi itu sendiri, yaitu RSI Sultan Agung Semarang yang mengimplementasikan nilai-nilai syariah.

 

Implementasi Nilai Syariah dalam RS Syariah

Beberapa contoh implementasi syariah di antaranya kewajiban rumah sakit untuk mengikuti dan merujuk fatwa Majelis Ulama Indonesia terkait dengan masalah hukum Islam kontemporer bidang kedokteran (al-masa’il al-fiqhiyah al-waqi’iyah al-thibbiyah), ketersediaan panduan tata cara ibadah yang wajib dilakukan pasien (antara lain bersuci dan sholat bagi yang sakit), kewajiban menggunakan obat-obatan, makanan, minuman, kosmetika, dan barang gunaan halal yang  telah mendapat sertifikat Halal,  mendapat persetujuan Dewan Pengawas Syariah bila menggunakan obat yang tidak mengandung unsur yang haram,  serta dalam kondisi terpaksa (darurat) penggunaan obat yang mengandung unsur haram wajib melakukan prosedur informed consent/persetujuan pasien.

Menurut dr, Masyhudi, MA, M.Kes, konsep Syariah di RS mendasarkan kepada konsep lima kebutuhan dasar manusia. Yakni memelihara agama (khifdz ad-diin), memelihara jiwa (khifdz an-nafs), memelihara keturunan (khifdz an-nasl), memelihara akal (khifdz al-aql), dan memelihara harta (khifdz al-mal).

Melansir dari gomuslim.co,id, pertama, konsep memelihara agama berarti RS harus peduli dengan ibadah setiap agama pasien. Bagi pasien yang beragama Islam, tenaga medis yang merawatnya harus konsisten dalam menerapkan dan menjalankan ibadah baik untuk dirinya sendiri maupun pasien. Dalam pelaksanaannya, mereka harus mampu memberikan pengertian tentang tata cara ibadah dalam kondisi sakit.

Kedua, memelihara jiwa bisa diartikan sebagai membangun spiritualitas orang yang sakit supaya tetap tegar ketika menghadapi ujian. Di sinilah peran RS Syariah untuk tetap membuat pasien dalam keadaan tenang, tidak cemas, sabar, dan memotivasi mereka agar sembuh. Apalagi, bagi pasien yang mengalami penyakit yang membutuhkan penanganan seumur hidupnya.

Ketiga, memelihara keturunan. Dalam Islam, dakwah memegang peranan penting sebagai sebuah sarana menyebarkan amar makruf nahi mungkar. Kekuatan atau “bahan bakar” dakwah ada pada generasi baru yang akan menggantikan para pendahulu. Jadi, rasanya tidak berlebihan apabila sebuah RS Syariah memiliki serangkaian program supaya menjadi tempat yang nyaman untuk persalinan. Harapannya, RS mampu menjadi tempat lahirnya generasi sehat untuk meneruskan estafet perjuangan dakwah.

Keempat, menjaga akal. Dalam Islam, selain jasmani, akal yang menjadi pembeda manusia dengan makhluk lain, juga harus sehat. Di sinilah fungsi RS Syariah yang memberikan perhatian serius kepada pasien yang mengalami gangguan kejiwaan. Salah satu bentuk perhatian tersebut adalah menyediakan layanan bimbingan yang intens bagi pasien yang alami gangguan jiwa. Peran tersebut harus dikuatkan dengan ketersediaan dokter spesialis kesehatan jiwa yang cukup.

Kelima, memelihara harta. Ada ungkapan, seseorang bisa jatuh miskin karena sakit. Harta benda yang disimpan bisa habis digunakan seseorang untuk membiayai upaya penyembuhan sebuah penyakit yang dideritanya. Saat ini, memang ada fasilitas Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang diselenggarakan oleh Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) dengan skema pembayaran Penerima Bantuan Iuran (PBI) dari pemerintah (sebelumnya Jamkesmas). Namun, ada lapisan masyarakat miskin yang tidak tersentuh fasilitas JKN BPJS PBI. Mereka inilah yang harus tetap diperhatikan oleh RS Syariah agar tetap mendapatkan fasilitas kesehatan sebagai upaya penyembuhan. RS Syariah bisa mengupayakan pendirian lembaga amil zakat sendiri yang bisa dimanfaatkan pasien yang mengalami kesulitan finansial. (Din)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here