Sebagai muslim, kita hidup dalam koridor ajaran Islam yang berisi perintah dan larangan. Islam adalah agama keselamatan. Segala sesuatu yang telah diatur dalam Islam ditujukan untuk menyelamatkan hidup manusia di dunia dan akhirat. Oleh sebab itu, adalah wajib bagi setiap muslim untuk beraktivitas dan bertindak berdasarkan syariat Islam.

 

Syariat Islam Harus Digenggam Erat

Secara umum, maksud dari penegakkan Syariat Islam adalah upaya untuk menerapkan Islam dalam seluruh aspek kehidupan. Bagi umat Islam, mengamalkan syariat secara kaffah merupakan konsekuensi iman yang harus ditegakkan (baca;  Al-Baqarah, 208). Tidak bisa dipilah-pilih sesuai dengan selera, syariat harus diamalkan secarah utuh. Tanpa ada satu sisi pun yang diabaikan. Baik yang bersifat ubudhiyah, seperti; sholat, puasa, zakat, zikir maupun dalam hal muamalah, ekonomi, sosial, politik, budaya, ilmu pengetahuan dan seterusnya. Salah satu hal yang tak bisa diabaikan adalah kesehatan.

Menjadi manusia sehat harus syariah. Makanan bergizi yang kita makan semi kesehatan harus didapatkan secara halal. Aktivitas olahraga yang kita lakukan haruslah sesuai syariat Islam. Begitu pula ketika manusia sedang diuji sakit, syariat Islam tak boleh dilepas. Harus digenggam erat. Namun permasalahannya, tak semua rumah sakit menjalankan prinsip syariat Islam secara kaffah dalam melayani pasiennya.

Pelaksanaan kehidupan di dunia termasuk merawat pasien sakit secara syariah seharusnya menjadi acuan setiap umat Islam sebagaimana Firman Allah SWT dalam QS Al Jathriyah (45) ayat 18 yang artinya, “Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama itu), maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui.”

 

RS Syariah Memenuhi Persyaratan Sertifikasi Syariah DSN-MUI

RS Syariah memiliki 3 Indikator mutu wajib syariah yaitu; Pertama, pasien sakaratul maut terdampingi dengan Talqin. Kedua, mengingatkan waktu sholat bagi pasien dan keluarga. Ketiga, pemasangan kateter sesuai gender (yang lelaki dipasang perawat lelaki demikian juga sebaliknya).

Juga memiliki 8 Indikator SPM (standar pelayanan minimal) syariah yaitu; Pertama, membaca Basmalah pada pemberian obat dan tindakan. Kedua, hijab untuk pasien. Ketiga, mandatory training untuk fikih pasien. Keempat, adanya edukasi islami (leaflet atau buku kerohanian). Kelimat, pemasangan EKG sesuai gender. Keenam, pemakaian hijab menyusui. Ketujuh, pemakaian hijab di kamar operasi. Kedelapan, penjadwalan operasi elekif (terencana) tidak terbentur waktu sholat. (Din)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here