Mukisi.com-Dalam penelitian, pengembangan, dan pendayagunaan ilmu pengetahuan dan teknologi nuklir di Indonesia, Pusat Teknologi Radioisotop dan Radiofarmaka (PTRR) Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) juga telah membantu menemukan inovasi pada bidang kesehatan. Di antaranya untuk sterilisasi alat dan produk kesehatan hingga pengendalian penyakit.

Tugas pokok Batan, sesuai Peraturan Presiden Nomor 46 Tahun 2013 adalah melaksanakan tugas pemerintahan di bidang penelitian, pengembangan, dan pendayagunaan ilmu pengetahuan dan teknologi nuklir sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan yang hanya diarahkan untuk tujuan damai dan sebesar-besarnya untuk kesejahteraan rakyat Indonesia.

Komitmen ini secara tegas dilaksanakan oleh Pemerintah Indonesia dengan meratifikasi Traktat Pencegahan Penyebaran Senjata Nuklir dengan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1978, dan meratifikasi Traktat mengenai Kawasan Asia Tenggara Bebas dari Senjata Nuklir dengan UndangUndang Nomor 9 Tahun 1997.

Oleh karena itu, seperti dilansir dari batan.go.id, salah satu hasil kerja Batan ini ialah menghasilkan inovasi teknologi di bidang kesehatan, yang di antaranya ialah memanfaatkan nuklir untuk mensterilkan alat dan produk kesehatan, serta sebagai pengendalian penyakit.

Nuklir untuk Sterilisasi Alat dan Produk Kesehatan 

Batan melalui penemuan alat radiasi sinar gamma dari iradiator, juga berguna untuk mensterilkan beberapa alat dan produk kesehatan seperti jarum suntik, sarung tangan bedah, kateter, dan hemodialiser atau alat pencuci darah.

Pemanfaatan nuklir ini sebagai energi radiasi yang tinggi, sehingga dapat membunuh mikroba seperti bakteri, jamur (kapang), atau virus.

Keunggulan-keunggulan sterilisasi dengan radiasi di antaranya yaitu tidak merusak bahan yang disterilkan. Selain itu, sterilisasi dengan cara ini lebih efektif karena dapat mencapai 100% steril pada dosis tinggi.

Dengan cara radiasi, sterilisasi juga bisa diaplikasikan pada bahan dalam jumlah banyak sekaligus dalam satu kali proses radiasi. Proses ini juga lebih ramah lingkungan karena tidak menghasilkan limbah.

Unit-unit litbangyasa Batan sendiri juga telah memiliki fasilitas yang terkait sterilisasi, seperti clean room. Ini berfungsi untuk membuat senyawa produk larutan injeksi yang digunakan menjadi lebih steril.

Tidak hanya sampai di situ, teknik sterilisasi dengan sinar gamma ini juga ikut dimanfaatkan pada distribusi jaringan biologik untuk keperluan klinik. Sebelum dipakai, jaringan yang diawetkan atau yang masih segar memang harus disterilkan untuk membunuh segala jenis kuman dan virus yang dapat memindahkan penyakit. Dengan mengatur dosis sterilisasi radiasi, semua jenis kandungan mikroba dan beberapa jenis virus tertentu yang mengontaminasi jaringan pun dapat dieliminir.

Nuklir sebagai Pengendalian Penyakit

 

Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) hingga kini masih terus menghantui masyarakat. Penyakit tersebut ditularkan dari orang yang sakit ke orang sehat umumnya melalui gigitan nyamuk Aedes Aegypti sebagai vektor pembawa.

Sampai saat ini sendiri, belum ditemukan obat atau vaksin untuk penyakit akibat infeksi virus Dengue ini. Nyamuk Aedes Aegypti hidup terisolir pada ruang yang gelap dan lembap, menyukai air bersih, jernih, dan tidak terusik. Produksi telurnya cukup tinggi yaitu berkisar 200-400 butir/ekor betina. Bahkan, nyamuk itu juga dapat berperan sebagai vektor untuk penyakit Chikungunya.

Jumlah kasus DBD atau Chikungunya tidak berbanding lurus dengan jumlah nyamuk yang ditemukan di suatu lokasi. Jumlah kasus penyakit lebih disebabkan oleh perilaku mengisap darah dari nyamuk betina. Untuk mematangkan telur-telurnya, nyamuk betina akan mengisap darah orang secara berulang atau berganti-ganti ke orang lain sampai darah yang dibutuhkannya mencukupi.

Karena belum ada obat untuk membunuh virus dengue ataupun vaksin antidengue, maka satu-satunya cara untuk melawan serangan virus dengue adalah memutus mata rantai penularan penyakit, yaitu membasmi nyamuk. 

Cara konvensional untuk ini adalah memakai insektisida. Namun, kelemahannya, insektisida juga dapat mematikan hewan non-target, timbulnya resistensi vektor, dan pencemaran lingkungan. Batan pun hadir dengan memanfaatkan iradiator yang dimiliki untuk pengembangan Teknik Serangga Mandul (TSM) yang mampu menurunkan jumlah populasi nyamuk penyebar penyakit.

Teknik ini dilakukan misalnya di sejumlah kawasan di Banjarnegara, Bangka Barat, Salatiga dan Semarang. sebelumnya telah dilakukan metode percobaan pemeliharaan nyamuk secara massal di Laboratorium Hama dan Penyakit milik Batan.

Dosis iradiasi gamma dipakai untuk memandulkan nyamuk Aedes Aegypti jantan. Nyamuk mandul itu kemudian dilepas ke lapangan atau ke rumah-rumah untuk kawin dengan nyamuk betina. Lama-kelamaan, populasi nyamuk pun berkurang. Usia hidup nyamuk jantan yang belum kawin sendiri diperkirakan antara 1-1,5 bulan dan setelah kawin akan mati, sementara nyamuk betina bertahan sampai dua bulan dan setelah bertelur akan mati.

TSM pada pengendalian nyamuk vektor DBD menjadi cara pengendalian yang ramah lingkungan karena tidak menimbulkan pencemaran, pelaksanaannya mudah, dan biayanya juga terjangkau. Teknik ini disebut pengendalian spesies spesifik, yaitu membunuh vektor dengan vektor itu sendiri. 

Cara ini harus didahului oleh proses sosialisasi yang sangat jelas kepada semua kalangan karena akan melepas nyamuk jantan mandul ke dalam rumah. Ditambah memberi pengertian bahwa yang suka menggigit atau mengisap darah adalah nyamuk betina.

Dari hasil evaluasi pelepasan nyamuk mandul di Salatiga, hasilnya dapat menahan angka kasus selama tujuh bulan. Sementara di Banjarnegara, menahan sampai enam bulan, dan di Bangka Barat sampai tujuh bulan. Berarti, dalam setahun cukup dilakukan dua kali pelepasan nyamuk mandul untuk meminimalkan penyebaran DBD. Cara ini sangat efektif ketimbang fogging (pengasapan) dan lebih murah. (nin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here