Mukisi.com-RSUD dr Zainoel Abidin (RSUDZA) Banda Aceh yang telah tersertifikasi syariah pada awal tahun 2019 lalu merupakan rumah sakit rujukan terbesar di Aceh. Tak heran, pasien yang datang bisa dari mana saja. Untuk itulah, RSUDZA memiliki Rumah Singgah diperuntukkan bagi keluarga pasien yang dirawat di RS ini.

Dijelaskan Direktur RSUDZA, Dr dr Azharuddin, Sp.OT KSpine FICS, rumah sakit milik Pemerintah Aceh dengan predikat Best of The Best atau terbaik dari yang terbaik untuk kategori RSUD Tahun 2018 ini ingin pemandangan di RSUDZA lebih bersih dan teratur dengan adanya Rumah Singgah. 

Teratur yang dimaksudkan ialah keluarga pasien yang mendampingi pasien dan barang bawaan pasien yang cukup banyak tidak lagi nampak memenuhi kamar pasien yang dirawat, “Sehingga Rumah Singgah ini berguna menampung keluarga yang mendampingi pasien dengan lebih layak, seperti untuk mandi, tempat untuk tidur, dan jika keluarga pasien datang dari jauh juga memiliki tempat untuk mencuci baju dan menjemur pakaian. Jadi untuk keteraturan itu,” ungkap dr Azharuddin.

Jarak tempat tinggal pasien dengan RS pun juga menjadi alasan utama banyak dari pasien dan keluarganya menginap di RS. “Ini karena juga ada poliklinik bagi pasien di mana pasien harus kontrol lagi pada beberapa hari kemudian, sehingga pasien tidak harus pulang untuk menunggu jadwal kontrol tersebut,” jelasnya.

“Masyarakat yang datang di luar Aceh, dengan jarak ratusan kilometer untuk menuju RSUDZA, kalau harus PP kan jauh,” imbuh dr Azharuddin.

Beberapa syarat dan ketentuan pun berlaku untuk dapat menikmati fasilitas Rumah Singgah ini. Selain hanya diperuntukkan bagi pasien yang datang dari luar Kota Banda Aceh, Rumah Singgah ini juga dikhususkan hanya untuk pasien kelas tiga BPJS/KIS. Kuota yang diberikan pun terbatas, yakni hanya satu orang keluarga pasien yang mendampingi pasien yang dirawat di RSUDZA.

“Satu orang yang memang dinyatakan ada keluarganya yang sedang dirawat, maka dapat satu fasilitas tempat tidur di Rumah Singgah selama keluarganya yang sakit tersebut dirawat,” jelas dr Azharuddin.

Syarat lainnya, dijelaskan dr Azharuddin, calon penghuni juga tidak boleh memiliki penyakit menular atau berbau yang dapat mengganggu penghuni Rumah Singgah yang lain. Beberapa peraturan pun harus diperhatikan untuk dapat memanfaatkan fasilitas ini, seperti tidak boleh merokok, tidak boleh membawa tamu seenaknya karena waktu bertamu hanya dibatasi oleh waktu bertamu, dan bertamu pun juga harus menjaga ketertiban.

“Aturan-aturan standar, bukan yang bertujuan menyulitkan. Peraturan ini sebelumnya dijelaskan, jika setuju dan mau menandatangani perjanjian peraturan, maka boleh menggunakan fasilitas ini, kalau tidak ya tidak,” papar dr Azharuddin.

Lokasi Rumah Singgah RS yang juga telah meraih Akreditasi Paripurna lima bintang, yang diberikan oleh Standar Nasional Akreditasi Rumah Sakit (SNARS) ini pun tidak jauh dari bangunan utama RS, yakni tepatnya berada di belakang bangunan RSUD, dan hanya berjarak kurang lebih lima belas meter.

Bangunan dua lantai ini dikatakan dr Azharuddin mirip seperti asrama dengan tempat tidur tingkat dengan dilengkapi loker barang, kursi, dan loker. Terdapat 132 tempat tidur, dengan rincian 64 tempat tidur untuk perempuan yang berada di lantai dasar dan 68 tempat tidur untuk laki-laki di lantai dua.  Pihaknya juga menyediakan satu mobil untuk operasional.

Rumah Singgah ini pun dikelola layaknya sebuah hotel. Terdapat resepsionis yang berjaga selama 24 jam dengan sistem check in-check out. Pada siang harinya, penghuni rumah juga diberi pelayanan berupa makanan gratis.

Fasilitas ini sendiri sudah berjalan hampir satu tahun, namun baru dilakukan peresmian dan grand opening pada April (11/4) lalu oleh Plt. Gubernur Aceh Nova Iriansyah.

Akan Jadi Center of Excellence

Untuk meningkatkan pelayanan dengan berbagai fasilitas lengkap, dilansir Serambinews, RSUDZA kini berpacu untuk pengembangan berbagai fasilitas terlengkap dan modern di areal rumah sakit lama. 

Pengembangan RSUDZA kali ini dilakukan dengan skema Kerja sama Pemerintah dengan Badan Usaha (KPBU). Plt Gubernur Aceh pun telah menandatangani perjanjian pelaksanaan fasilitas dan pendampingan transaksi pada proyek KPBU pembangunan RSUDZA dengan PT Penjaminan Infrastruktur Indonesia (PII), BUMN di bawah Kementerian Keuangan RI pada 8 Januari 2019, dan menjadi proyek pertama di Aceh yang menggunakan KPBU.

Pengembangan yang dimaksud ialah dengan adanya pembangunan pusat layanan unggulan (Center of Excellence) dengan enam gedung yang terpadu dan terintegrasi, yakni Pusat Traumatologi, Pusat Jantung Terpadu, Bedah Terpadu, Ginjal Terpadu, Mata Terpadu, dan gedung parkir.

Pembangunan ini direncanakan akan dimulai pada tahun 2020 dan diperkirakan selesai pada 2023 dengan menghabiskan dana sekitar 2 triliyun rupiah.

Terobosan baru RSUDZA sebagai RS tipe A ini jadi garda terdepan untuk pembangunan terbaik yang ada di Aceh. Ini tidak lain juga merupakan upaya agar tidak ada masyarakat Indonesia, khususnya  Aceh yang harus berobat ke Penang atau ke luar negeri.

Saat ini, RSUDZA pun dikatakan sedang dalam proses mendapatkan akreditasi bertaraf internasional dari JCI (Joint Commission International) yang dijadwalkan akhir tahun 2019 ini, “Dan sekarang sedang dalam masa persiapan,” ungkap dr Azharuddin. (nin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here