Mukisi.com-Pada 2020 mendatang, satu-satunya rumah sakit di Kota Serambi Makkah, Banda Aceh yang telah tersertifikasi syariah akan memulai pembangunan enam gedung yang terpadu dan terintegrasi dalam upaya pengembangan menjadi pusat layanan unggulan atau Center of Excellence. Namun meski begitu, RSUD dr Zainoel Abidin juga telah memiliki beberapa pelayanan unggulan sebagai RS rujukan utama. 

Untuk menjadi rumah sakit dengan pusat layanan unggulan (Center of Excellence) pada 2023 mendatang, RSUDZA kini tengah berupaya meningkatkan pelayanan dengan berbagai fasilitas lengkap dan modern di areal rumah sakit lamanya. 

Namun hal tersebut tidak berarti RSUDZA yang telah resmi tersertifikasi syariah oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) pada Januari 2019 lalu ini, saat ini belum memiliki pelayanan unggulan. Pelayanan unggulan yang telah dimiliki RSUDZA sebelum menyusul adanya Pusat Traumatologi, Pusat Jantung Terpadu, Bedah Terpadu, Ginjal Terpadu, serta Mata Terpadu, antara lain:

Kamar Bedah Jantung (Cardiac Hybrid Operating Suite)

Pelayanan ini merupakan pelayanan berupa kamar operasi yang dapat melakukan dua tindakan sekaligus, yaitu tindakan diagnostik dan intervensi dalam satu waktu dan satu tempat yang sama.

Dengan adanya kamar bedah jantung hybrid milik RSUDZA ini, menandai adanya sebuah Cardiac Hybrid Operating Suite pertama yang didirikan di Aceh.

Percutaneus Coronary Intervention (PCI)

Pelayanan berupa tindakan yang dilakukan di Instalasi Kateterisasi Jantung RSUDZA ini adalah tindakan yang digunakan sebagai untuk melebarkan pembuluh darah coroner yang mengalami penyempitan tanpa menggunakan operasi, melainkan dengan menggunakan balon.

Sebagai gambaran umum, tindakan ini menggunakan kateter khusus yang di ujungnya
mempunyai balon. Balon dimasukkan dan dikembangkan tepat di tempat penyempitan
pembuluh darah coroner/jantung. Dengan demikian, penyempitan yang tadinya terjadi menjadi lebih terbuka. 

Kemudian, untuk mencegah penyempitan kembali (re-stenosis), maka dilakukan pula tindakan pemasangan cincin penyanggah (stent).

Penanganan Penderita Gondok dengan Prosedur Invasif Minimal

Dengan adanya pelayanan ini, menjadikan RSUDZA menjadi rumah sakit pertama di kawasan Asia Tenggara yang melakukan pengobatan gondok dengan prosedur invasif minimal. Layanan unggulan ini dirintis oleh seorang dokter ahli yang merupakan putra asli Aceh. 

Dengan prosedur invasif minimal, gondok dapat dihilangkan tanpa pembedahan sehingga tidak menimbulkan bekas luka yang nyata. Layanan ini mencakup tiga prosedur invasif minimal yaitu yang pertama, Ethanol Ablation, yang merupakan prosedur yang diketahui aman, efektif dan murah untuk penanganan gondok yang berisi kista (kista thyroid).

Dengan sebuah jarum khusus, dilakukan penyedotan cairan kista dari dalam gondok dan dilanjutkan dengan memasukkan cairan ethanol ke tempat bekas kista dengan tujuan agar kista tidak kambuh kembali. Tingkat keberhasilan prosedur ini mencapai 94% – 97%.

Yang kedua, yakni Radiofrequency Ablation. Prosedur ini merupakan pilihan untuk penanganan gondok yang berisi massa padat bukan kista. Massa padat di dalam gondok dihancurkan menggunakan teknik pemanasan jaringan dengan suatu alat yang menghasilkan gelombang radio antara 200 – 1200 kHz.

Ketiga, Core Needle Biopsy, merupakan prosedur diagnostik terbaru untuk mencari tahu apakah jaringan gondok merupakan suatu keganasan atau bukan. Prosedur ini dilakukan
bila prosedur diagnosis yang lain gagal menentukan ganas tidaknya suatu jaringan
gondok. 

Extracorporal Shock Wave Lithotripsy (ESWL)

Pelayanan unggulan RSUDZA ini merupakan tindakan pemecahan batu saluran kencing seperti ginjal, ureter, ataupun kandung kemih dengan gelombang kejut (shockwave) tanpa pembedahan sama sekali. 

Batu saluran kencing akan pecah menjadi fragmen yang sangat kecil sehingga dapat keluar spontan bersama dengan keluarnya air kencing. Tindakan ini merupakan satu-satunya di provinsi Aceh sampai dengan sekarang ini.

Tindakannya pun dilaksanakan oleh tenaga profesional yang sudah terlatih dan dengan alat yang sangat canggih. Sehingga pasien yang ditangani tidak mengalami sakit berlebihan.

Continuous Ambulatory Peritoneal Dialysis (CPAD)

Sesuai namanya, ambulatory, pelayanan ini merupakan bentuk rawat jalan proses pembersihan darah (cuci darah) yang bisa dilakukan sendiri oleh pasien ataupun dibantu keluarga di rumah pasien—yang tentunya telah mendapatkan pelatihan khusus yang diberikan oleh tim petugas medis instalasi Dialisis RSUDZA. 

Manfaat yang dirasakan oleh pasien ialah pasien lebih mandiri, pasien tidak tergantung pada mesin dialisis yang hanya terdapat di rumah sakit tertentu, dan diet pasien bisa lebih bebas dibandingkan dengan pasien cuci darah menggunakan mesin atau haemodialisa.

Ambulance VVIP

RSUDZA memiliki beberapa mobil ambulans. Untuk ambulans VVIP ini sendiri memiliki fasilitas lengkap untuk layanan kegawatdaruratan, yang dapat dikatakan sebagai mini ICU.

Selanjutnya, setelah pembangunan pengembangan RS yang dikatakan Direktur RSUDZA, Dr dr Azharuddin, Sp.OT KSpine FICS akan menghabiskan dana sebesar dua triliyun rupiah dengan skema Kerja sama Pemerintah dengan Badan Usaha (KPBU) ini selesai pada 2023 mendatang, maka RSUDZA akan menjadi salah satu pusat layanan unggulan (Center of Excellence) di Indonesia. (nin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here