Mukisi.com-Pusat Teknologi Radioisotop dan Radiofarmaka (PTRR) Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) menyatakan, hingga saat ini, pemanfaatan teknologi kesehatan berbasis nuklir di Indonesia masih tertinggal dibanding negara lain.

Terdapat beragam aplikasi teknik nuklir dalam kehidupan manusia. Salah satunya di bidang kesehatan dan obat-obatan. Batan dengan lembaga-lembaga litbangyasa di dalamnya telah banyak melakukan penelitian dan pengembangan aplikasi teknik nuklir untuk kesehatan di Indonesia, seperti sejumlah peralatan medis dan produk kesehatan untuk menangani berbagai penyakit.

Aplikasi Nuklir untuk Kesehatan oleh Batan

Aplikasi nuklir untuk kesehatan yang diterapkan oleh Batan salah satunya ialah dalam serangkaian metode radiodiagnostik dan radioterapi. Sejak 2011, Batan telah memiliki dan mengoperasikan kamera gamma untuk penelitian kanker payudara dan kanker prostat.

Adanya kamera gamma temuan Batan ini kemudian juga dapat digunakan untuk keperluan riset penyakit lain yang menyangkut jantung, tulang, otak, fungsi ginjal dan lain sebagainya. Teknologi lain yang berhasil dikembangkan adalah peralatan renograf. 

Pemeriksaan renografi ini dapat dilakukan atas permintaan dokter untuk pasien dengan berbagai latar belakang klinis gangguan fungsi ginjal. Beberapa model, antara lain Renograf XP USB dan Renograf Vista USB dengan teknik nuklir berbasis komputerPpC dan laptop bahkan telah tervalidasi dalam seminar yang diselenggarakan oleh Badan Tenaga Atom Internasional.

Selain itu, renografi dalam sistem pelayanan kesehatan dapat berperan sebagai sarana screening diagnostic maupun sebagai sebagai sarana pemantauan hasil pengobatan atau tindakan medis. 

Contoh rumah sakit yang menggunakan renograf adalah RS Ulin Kalimantan Selatan dan RS An-Nur Yogyakarta. Dalam rangka Hari Teknologi Nasional 2013, peralatan renograf IR3 juga telah masuk ke dalam kategori karya Unggulan Anak Bangsa yang mendapat penghargaan.

Terkait metabolisme tubuh, Batan mengembangkan perangkat diagnostik uji tangkap kelenjar gondok atau thyroid up-take counter. Batan juga mengembangkan sejumlah radiofarmaka dan senyawa bertanda dengan fungsi diagnosis dan fungsi terapi untuk keperluan pasien berbagai penyakit. 

Hasilnya, aneka kit kesehatan hasil riset Batan dipakai untuk berbagai tujuan, seperti MIBI untuk pemeriksaan perfusi aliran darah di jantung, MDP untuk keperluan pemindaian tulang dan digunakan untuk melihat penyebaran kanker metastasis, serta DTPA untuk pemeriksaan fungsi ginjal.

Produk nuklir Batan ini pun bisa digunakan untuk penyembuhan jenis kanker yang berbentuk solid. Kapsul yang telah diberi radioaktif ditanamkan di lokasi kanker dan lama-kelamaan, sel kanker akan mati, yakni dengan seed I-125. Dengan ini, maka pasien tidak perlu rawat inap serta memiliki dampak kecil terhadap sel-sel tubuh di sekitarnya.

BATAN juga telah mengembangkan Hydrogel Cooling Fever sebagai kompres untuk penurun demam. Produk kesehatan 54 berbahan dasar Carboxy-Methyl Cellulose (CMC) ini mengandung kandungan air hingga 80% sehingga efektif menurunkan panas tubuh dan meredakan kejang. Sebelumnya, Hydrogel biasa digunakan untuk pembalut luka karena bersifat elastis dan kuat.

Riset kesehatan lain juga terus berjalan di Batan bersifat biomolekuler, yakni seperti riset untuk mendeteksi virus human papilloma yang menyebabkan kanker serviks atau leher rahim. 

Perlunya Dorongan Pemanfaatan Nuklir

Pada dasarnya, Indonesia memiliki potensi yang besar untuk menerapkan pemanfaatan teknologi kesehatan berbasis nuklir, karena Batan melalui PTRR secara konsisten terus memproduksi teknologi kesehatan itu. 

Namun, agaknya pemanfaatan teknologi kesehatan ini, diungkapkan Kepala PTRR Batan Rohadi Awaludin masih sangat kurang. “Kita dalam hal produksi sebenarnya terdepan, tetapi dalam pemanfaatannya  agak tertinggal dengan negara lain. Untuk itu, kita dorong agar komunitas kesehatan di Indonesia bisa meningkatkan pemanfaatannya,” ujarnya di sela Indonesia Nuclear Expo (Nexpo) 2019 di Yogyakarta, Jum‘at  (6/9) lalu.

Menurut Rohadi, hingga saat ini, RS di Indonesia yang tercatat telah memiliki fasilitas kedokteran nuklir hanya sebanyak 15 rumah sakit yang tersebar di Padang, Samarinda, Makassar, Jakarta, Bandung, dan Semarang. Sedangkan di Yogyakarta, yakni di RSUP dr Sardjito masih dalam proses karena alat penunjangnya belum siap.

“Padahal di negara-negara lain seperti Korea Selatan saat ini sudah mencapai 600 rumah sakit dengan fasilitas kedokteran nuklir, dan di Jepang sudah 1.000 lebih,” ungkapnya seperti dilansir Antara.

Pemanfaatan teknologi kesehatan berbasis nuklir, kata dia, perlu terus didorong mengingat biayanya lebih murah, terlebih jumlah penderita penyakit kanker di Indonesia terus meningkat.

Merujuk data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 prevalensi kanker di Indonesia mencapai 1,79 per 1.000 penduduk, naik dari tahun 2013 sebanyak 1,4 per 1.000 penduduk.

Sementara itu, Ketua Perhimpunan Kedokteran Nuklir Indonesia (PKNI) dr Eko Purnomo menyebutkan, hingga saat ini di Indonesia terdapat 60 dokter dan calon dokter spesialis kedokteran nuklir yang siap mendukung pemanfaatan teknologi kesehatan berbasis nuklir.

“Sekarang ada 60 orang, yang kalau kami sebar ke seluruh provinsi, masih cukup,” kata Eko. (nin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here