Mukisi.com-Menteri Kesehatan sebelumnya telah mengatur mengenai pengelolaan limbah rumah sakit yang dituangkan dalam Peraturan Menteri Kesehatan (PMK) RI No. 7 Tahun 2019 tentang Persyaratan Kesehatan Lingkungan Rumah Sakit. Namun, bagaimana sebenarnya pengelolaan limbah rumah sakit yang telah tersertifikasi syariah?

Berdasarkan pengertian limbah rumah sakit berdasar PMK tentang Persyaratan Kesehatan Lingkungan Rumah Sakit, adalah semua limbah yang dihasilkan dari kegiatan rumah sakit dalam bentuk padat, cair, dan gas.

Dari limbah padat, kemudian barulah dikenal istilah limbah medis dan nonmedis. Di mana limbah padat medis berarti limbah yang terdiri dari limbah infeksius, limbah patologi, limbah benda tajam, limbah farmasi, limbah sitotoksis, limbah kimiawi, limbah radioaktif, limbah kontainer bertekanan, dan limbah dengan kandungan logam berat yang tinggi.

Di antara beberapa limbah pada medis RS, dijelaskan Muhammad Yeni Arifianto, SKM, selaku Sertifikasi Jaminan Halal RSI Sultan Agung Semarang, limbah patologi ialah limbah berupa buangan selama kegiatan operasi, otopsi, atau prosedur medis lainnya termasuk jaringan, organ, bagian tubuh, cairan tubuh ada spesimen beserta kemasannya.

Sedangkan limbah benda tajam ialah limbah yang dapat menusuk atau menimbulkan luka dan telah mengalami kontak dengan agen penyebab infeksi, seperti contohnya jarum suntik, serta limbah sitotoksik, yakni limbah dari bahan yang terkontaminasi dari persiapan dan pemberian obat untuk kemoterapi kanker.

Pada  umumnya, pengelolaan limbah RS tersertifikasi syariah dengan RS pada umumnya ialah sama. Disebutkan Arif, ada beberapa cara pengelolaan limbah pada RS, “Ada pengurangan dan pemilahan limbah, penyimpanan limbah, pengangkutan limbah, pengolahan limbah, penguburan limbah, penimbunan limbah,” paparnya.

Selanjutnya, sebagaimana RS pada umumnya, limbah medis padat di RS syariah juga dipisahkan pada jenis wadah dengan label sesuai lima kategori limbah padat medis yang berada di setiap ruangan, yakni radioaktif dengan warna merah, sangat infeksius dengan warna kuning, limbah infeksius, patologi, dan anatomi dengan warna kuning, sitotoksis dengan warna ungu, serta limbah kimia dan farmasi dengan warna coklat.

Selanjutnya, limbah dari masing-masing kategori tersebut di kumpulkan ke dalam tempat sampah sesuai kategori limbahnya dan diangkut sebanyak tiga kali dalam sehari, “Pengangkutan juga menggunakan trolley sampah tertutup dengan petugas yang sudah mendapatkan paparan tentang limbah RS sehingga petugas patuh menggunakan Alat Pelindung Diri saat bertugas mengangkut limbah,” jelas Arif.

Limbah tersebut diangkut untuk dibawa menuju TPS Limbah. Limbah pun ditimbang untuk mengetahui volume limbah setiap harinya, “Kemudian limbah dimusnahkan bila mempunyai mesin insinerator dengan cara dibakar menggunakan suhu kurang lebih seribu derajat celcius,” tandas pria yang juga bagian dari Sertifikasi Jaminan Halal RSI Sultan Agung Semarang itu.

“Kalau RS tidak memiliki mesin insinerator, bisa juga dengan cara bekerja sama dengan perusahaan pengelola limbah RS,” imbuhnya.

Perbedaan pengelolaan limbah RS syariah 

Dijelaskan Arif, satu hal yang membedakan RS tersertifikasi syariah dengan yang tidak tersertifikasi syariah ialah pada pengelolaan limbah patologi. Limbah patologi yang biasa dimusnahkan dengan dibakar bisa diberikan kepada keluarga pasien maupun diserahkan sepenuhnya pada pihak RS.

“Jadi, khusus limbah patologi seperti sisa jaringan atau organ dari pasien meskipun bersifat infeksius, yakni dalam arti beracun, mengandung banyak bakteri, virus, dan sebagainya akan dimasuklan ke dalam kantong plastik berwarna kuning dengan dibungkus kain putih dan diserahkan kepada pihak keluarga dengan melampirkan berita acara dari bagian Bimbingan Pelayanan Islami (BPI),” paparnya.

Apabila dari pihak keluarga tidak mau menerima organ tersebut, maka Petugas BPI akan mengubur potongan organ tersebut dengan persetujuan pihak keluarga pasien. Penguburan pun dilakukan di tempat pemakaman dari pihak keluarga pasien, “Dengan mengubur jaringan atau organ pasien ini disebut Arif, adalah sesuai dengan syariat Islam,” tutupnya. (nin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here