Mukisi.com-Metode donor darah terbukti memiliki beragam manfaat bagi pendonor maupun penerimanya. Dalam kesehatan Islam sendiri, dikenal metode pengobatan Al Fashdu yang diklaim pengobatan ala Rasulullah. Lalu, apa bedanya dan apa manfaatnya? Berikut ulasannya.

Terapi Al Fashdu merupakan pengobatan yang dilakukan dengan cara mengeluarkan darah dari pembuluh darah vena (venesection) yang di dalamnya terdapat sumbatan-sumbatan yang merugikan tubuh.

Untuk mengeluarkan darah kotor di dalam pembuluh vena balik tersebut harus dilakukan oleh ahli yang telah berpengalaman dalam penyayatan dan penguasaan pembuluh darah.

Menurut dr. Sagiran, Sp.B., M.Kes, sebagai seorang dokter, ia sangat berhati-hati mengenai pengobatan Al Fashdu, karena tindakan yang dilakukan adalah tindakan medis, jadi orang yang tidak memiliki keahlian jangan sampai berani melakukan ini.

Saya sebagai dokter sangat berhati hati karena tindakan ini betul-betul tindakan medis, artinya orang yang tidak punya keahlian jangan melakukan karena efeknya sangat berbahaya seperti infeksi atau pendarahan yang tidak berhenti,” ungkap dr Sagiran selaku divisi sertifikasi RS Syariah di Majelis Upaya Kesehatan Islam Seluruh Indonesia (Mukisi).

Dokter Sagiran juga berpendapat bahwa pengobatan Al Fashdu sama halnya dengan donor darah. Karena sama-sama mengeluarkan darah dari vena, namun menurutnya donor darah lebih aman karena cara pengambilan darah dengan jarum suntik melalui vena.

Bahkan tradisi yang bagus sekali saat ini adalah menjadi pedonor darah yang rutin tiga bulan sekali diambil 250cc, yang ini jelas membuktikan akan menyegarkan kesehatan karena pengambilannya cukup ditusuk sedikit dengan jarum dan dialirkan ke kantong, yang jelas semua alatnya harus steril,” paparnya.

Selain dapat berefek bagus bagi tubuh, darah yang keluar tersebut juga dapat bermanfaat untuk menolong orang lain yang sedang membutuhkan bantuan darah.

Jika memang tujuannya sama antara Al Fashdu dengan donor darah, maka sebagai dokter, ia menyarankan untuk jadilah pedonor yang rutin.

Al fashdu dipahami sebagai mengeluarkan darah dari vena, namun menurut saya ada yang lebih bermanfaat yakni melakukan tranfusi darah, kita menjadi pedonor sebetulnya kita sedang melakukan Al Fashdu. Tubuh pun juga menjadi segar dan ringan setelah mendonor,” jelasnya.

Sehingga, meskipun Al Fashdu merupakan pengobatan sunnah dari Rasulullah, tetapi bila ada sesuatu yang lebih baik dan tetap dalam koridor menjalankan sunnah, maka itulah yang harus lebih diutamakan, yakni menjadi pedonor yang bermanfaat bagi orang lain. (Gth)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here