Mukisi.com-Kemarin (19/9), RSUD H. Hasan Basry Kandangan, Kalimantan Selatan berhasil melalui survei sertifikasi syariah dari Majelis Upaya Kesehatan Islam Seluruh Indonesia (Mukisi). Hal ini tidak lepas dari budaya rumah sakit yang sangat peduli dengan ibadah para pasien serta jajaran karyawannya.

Dikatakan oleh dr. Rasyida, M.Kes, selaku Direktur Rumah Sakit RSUD H. Hasan Basry Kandangan bahwa keinginan mensertifikasi syariah RS bermula dari budaya baik yang telah tertanam di dalam lingkungan RS.

“Awalnya, RS ini saya terapkan prinsip Peduli Ibadah. Karena, meski sakit sebenarnya kewajiban beribadah itu tidak tanggal. Ibadahnya pun dipermudah oleh Allah hanya dengan isyarat mata,” katanya.

Selain dari budaya baik yang telah tertanam lama di dalam lingkungan RS, sertifikasi syariah RS ini juga didukung oleh Bupati Kalimantan Selatan, Drs. H. Achmad Fikry, M.AP. Dukungan ini pun juga diapresiasi oleh Miftachul Izah, S.E., M.Kes, selaku asesor Mukisi dalam pendampingan RSUD H. Hasan Basry Kandangan.

“Kami juga mengapresiasi Bupati Hulu Sungai Selatan yang telah mendukung RSUD H. Hasan Basry Kandangan untuk menjadi RS Syariah. Sebab kehadiran RS Syariah jelas sangat dibutuhkan bagi daereah yang 90 persen masyarakatnya beragama Islam ini,” jelas Mifta.

Tak lewat mendukung, Direktur RSUD H. Hasan Basry Kandangan juga mengatakan bahwa MUI Kabupaten turut mendukung RS untuk tersertifikasi syariah.

Kembali dalam survei kemarin, ada tiga orang asesor yang bertugas. Mereka adalah Ah. Azharuddin Lathif, M.Ag, M.H. dan H. Abdul Mughni, Lc, M.HI dari Majelis Ulama Indonesia (MUI), dan Dr. drg. Wahyu Sulistiadi, MARS, dari Mukisi.

Sementara itu, terkait dengan status RS yang merupakan RS Pemerintah ini, pihak RS pun telah menyosialisasikan sertifikasi syariah ini kepada khalayak. Pihak RS pun terus berupaya mengedukasi khalayak tentang apa itu sertifikasi syariah rumah sakit.

“RSUD ini akan tersertifikasi syariah, itu berarti RS ini peduli ibadah. Bukan hanya peduli ibadah untuk golongan tertentu saja, namun juga golongan lain. Misalnya, jika ada agama selain Islam ingin difasilitasi ibadahnya dengan pemuka agamanya, maka akan kami bantu, kami punya link untuk itu,” tutur wanita yang juga lulusan Universitas Islam Sultan Agung (Unissula) Semarang itu.

Dengan tersosialisasikannya hal tersebut, respons pasien pun beragam. Diakui oleh Dokter Rasyida, respons kebanyakan dari pasien non muslim. “Banyak respons melalui WhatsApp, tapi umumnya mereka merasa tenang dan nyaman dengan sertifikasi syariah ini,” akunya.

Rasa tenang dan nyaman yang dirasakan ini pun tak lepas dari budaya baik dalam RS yang telah tersertifikasi syariah seperti, penggunaan hijab khusus ibu menyusui ataupun baju khusus untuk operasi agar aurat pasien tidak terekspos oleh orang lain yang bukan mahram.

“Harapannya dengan RSUD H. Hasan Basry Kandangan tersertifikasi syariah nanti, teman-teman RS lain juga turut serta dalam sertifikasi syariah ini. Karena, ini sebagai perlindungan kepada pasien dalam hal ibadahnya terlepas dari apapun agama yang dianut pasien,” imbuh Dokter Rasyida.

Selain itu, Dokter Rasyida juga mengimbau agar teman-teman yang mengabdikan diri di dalam RSUD, tidak alergi dengan kata syariah. Karena, hal ini menurutnya, adalah implementasi dasar dari ibadah yang diwajibkan pada tiap agama.

Kemudian, ditegaskan olehnya pula, bahwa sertifikasi syariah ini tidak berseberangan dengan akreditasi RS pada umumnya. Karena, dalam akreditasi RS dijelaskan poin jika pasien berhak mendapatkan pelayanan rohani sesuai dengan agamanya. Adanya sertifikasi syariah dalam RS pun makin melengkapi hal ini dengan menjaga keberlangsungan dan keterlanjutan ibadah pasien.

Dengan berprosesnya RSUD H. Hasan Basry Kandangan menjadi RS Syariah, kini jumlah RS Syariah di Nusantara pun bertambah. Dengan begitu, visi Mukisi akan semakin dekat menuju 100 RS tersertifikasi syariah di tahun 2019 ini.(ipw)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here