Mukisi.com-Salah satu komunitas berbasis teknologi informasi dan komunikasi, Komunitas Relawan Emergensi Kesehatan Indonesia (KREKI) yang memungkinkan seseorang memberikan sekaligus mendapatkan pertolongan dan penanganan gawat darurat secara cepat dan tepat baru saja meluncurkan sebuah aplikasi bernama KREKI-119.

Komunitas yang didirikan atas inisiasi Indonesia Healthcare Forum (IndoHCF), yang merupakan program CSR dari PT IDS Medical Systems Indonesia ini menciptakan aplikasi berbasis daring yang merupakan sistem pertolongan pertama pada kegawatdaruratan di masyarakat berbasis komunitas. Di mana penolongnya adalah masyarakat sendiri yang telah dilatih menjadi relawan.

“Seringkali, saat terjadi kegawatdaruratan, orang yang paling cepat memberikan pertolongan adalah orang terdekat. KREKI melatih masyarakat untuk menjadi relawan agar bisa memberikan pertolongan,” kata Ketua Umum IndoHCF Dr. dr. Supriyantoro, Sp.P, MARS.

Supriyantoro menuturkan, KREKI dibuat guna mendukung program Sistem Penanggulan Gawat Darurat Terpadu (SPGDT) dalam rangka meningkatkan mutu dan kecepatan pertolongan pertama terhadap penanganan gawat darurat.

Menurut Supriyantoro, peristiwa gawat darurat seperti kecelakaan, penyakit akibat gaya hidup tidak sehat, atau bencana alam bisa terjadi pada siapa pun, kapan pun, dan dimana pun. Menurutnya, keadaan-keadaan tersebut membutuhkan penanganan yang tepat dan akurat agar tidak berakibat pada kecacatan permanen atau kematian.  

Hal itu sejalan dengan semangat yang melandasi pendirian komunitas, yang juga merupakan akronim dari KREKI, yakni Kompeten, Responsif, Empati, Komunikatif, dan Inovatif.

Aplikasi KREKI-119 bisa diunduh melalui Google Playstore di ponsel pintar berbasis Android. Sistemnya, korban atau orang terdekat yang perlu mendapatkan pertolongan pertama dari relawan selanjutnya akan berkoordinasi dengan PSC-119 atau dengan fasilitas kesehatan terdekat untuk mengevakuasi dan merawat korban.

Komunitas yang didirikan 5 Desember 2018 ini terdiri dari berbagai unsur masyarakat, baik individu maupun komunitas. Untuk menjadi relawan, maka seseorang minimal telah mendapatkan pelatihan bantuan hidup dasar (BHD) singkat tentang bagaimana teknik menolong orang dalam kondisi gawat darurat, seperti henti jantung, tersedak benda asing, tersengat petir dan listrik, tenggelam, cara mengangkut korban, pembidaian, dan lain sebagainya. 

Pelatihan yang diselenggarakan KREKI sendiri ataupun organisasi maupun institusi yang berkompeten itu, hingga kini, lanjut Supriyantoro, telah diberikan kepada 1.452 orang dari berbagai komunitas di Jakarta. Tidak hanya itu, KREKI juga aktif menjalin kerja sama dan kemitraan dengan berbagai yayasan, komunitas, dan pemerintah daerah.

“Kami berharap KREKI mampu membawa banyak manfaat, memberi kontribusi konstruktif bagi nusa dan bangsa, khususnya dalam hal penanganan kasus-kasus kegawatdaruratan di masyarakat yang dapat meningkatkan kualitas hidup manusia dan mendorong upaya konstruktif dalam hal peningkatan keselamatan dan keamanan di ranah kesehatan,” tutupnya. (nin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here