Mukisi.com-Iman merupakan pokok ajaran untuk berbuat secara sehat. Islam menunjukkan kebersihan dan kesucian, terutama pada bagian reproduksi. Secara lebih khusus, perhatian Islam terhadap masalah kesehatan reproduksi perempuan sedemikian besar, dan ini tercermin dalam beberapa hal yang telah diatur menurut Alquran dan Sunnah.

Sistem kesehatan dalam Islam tercermin dalam ajaran yang mewajibkan perbuatan membersihkan diri (bersuci atau Thaharah) dari kotoran (najis), dari hadas dan dari kotoran hati, semuanya berada dalam satu paket ibadah seperti wudu, salat, dan lain sebagainya.

Pendidikan kesehatan reproduksi bertujuan sebagai upaya untuk meningkatkan pemahaman, pengetahuan, sikap, dan perilaku positif tentang kesehatan reproduksi dan seksualnya, serta meningkatkan derajat reproduksi. Pengetahuan tentang kesehatan reproduksi ini juga diatur dalam rangka membentengi diri agar terhindar dari kehamilan di luar pernikahan dan berbagai dampak negatif yang merugikan. 

Pelarangan Berduaan antara Laki-laki dan Perempuan yang Bukan Mahram

Janganlah sekali-kali seorang laki-laki berdua-duaan dengan seorang perempuan di tempat yang sepi kecuali jika ada mahram.” (HR. Imam Bukhari)

Pelarangan ini merupakan tindakan preventif agar tidak terjadi perzinaan (hubungan seksual di luar pernikahan) yang merupakan perbuatan terlarang. Dampak yang ditimbulkan dari perzinaan tentunya adalah kehamilan yang tidak dikehendaki, lebih lanjut dilakukan aborsi.

Dengan demikian agar perempuan menjaga kesehatan reproduksinya sehingga dapat menjalankan fungsi reproduksinya secara sehat dan bertanggung jawab.

Islam Menganjurkan Pernikahan 

Sebagai bentuk perlindungan agar reproduksi menjadi sehat dan bertanggung jawab, Islam menganjurkan pernikahan, tidak berhubungan ketika istri sedang haid (QS. Al-Baqarah: 222), dan memberikan hak pada perempuan untuk mendapatkan perlakuan yang baik dari semua pihak, seperti hak untuk mendapatkan pelayanan kesehatan pada saat hamil dan menyusui.

Dalam hal ini suami berkewajiban menjaga istrinya yang sedang hamil atau menyusui agar selalu dalam keadaan sehat, baik secara fisik maupun mental. Allah Subhanahu wa Ta‘ala dalam Alquran menegaskan kondisi perempuan yang hamil dalam keadaan lemah yang bertambah lemah (QS. Lukman: 13 dan al-Ahqaf: 15).

Karena perhatian yang sangat besar terhadap kondisi tersebut, maka diatur pula perempuan hamil dan menyusui diperbolehkan untuk tidak berpuasa di Bulan Ramadan.

Mengatur Jarak Kelahiran 

Islam memberi petunjuk pada perempuan agar reproduksi dilakukan dengan mengatur jarak kelahiran.  Hal ini sebagai bentuk antisipasi kemungkinan yang tidak diinginkan, seperti meninggal ketika melahirkan, juga untuk memenuhi kebutuhan bayi akan air susu ibu.

Para ibu hendaklah menyusukan anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan”. (QS.Al-Baqarah: 233)

“Mengandungnya sampai menyapihnya selama tiga puluh bulan” (QS. Al-Ahqaf: 15).

Artinya, Islam memberi petunjuk pengaturan jarak kelahiran ini dengan jarak kurang lebih tiga tahun. (nin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here