Mukisi.com-Memberikan ASI merupakan cara yang mudah dan murah bagi pemenuhan gizi bayi. ASI menjadi makanan dan minuman terbaik bagi bayi usia 0-6 bulan secara eksklusif (hanya ASI) dan dilanjutkan sampai bayi berusia 2 tahun dengan makanan pendamping ASI. Namun, upaya pemberian ASI seringkali terkendala jika sang ibu bekerja.

Sebenarnya ada banyak penyebab yang mempengaruhi rendahnya pemberian ASI eksklusif, salah satunya adalah pada ibu menyusui yang bekerja. Terdapat banyak ibu yang bekerja akan menghentikan menyusui ASI pada bayinya dan beralih ke susu formula ketika masa cuti bekerjanya telah selesai.

Ini disebabkan karena kurangnya dukungan dari keluarga dan masyarakat termasuk institusi yang mempekerjakan perempuan yang belum memberikan tempat dan kesempatan bagi ibu untuk menyusui di tempat kerja, jarak dari rumah ke kantor yang jauh dan sulit kendaraan, serta tenaga kesehatan yang kurang mendukung.

Sebenarnya, ada langkah-langkah yang dapat dilakukan oleh ibu menyusui yang bekerja agar sukses menyusui ASI pada bayinya secara eksklusif dan sampai 2 tahun, yakni yang pertama adalah niat dan yakin bahwa menyusui bisa sukses walaupun sudah mulai bekerja, serta perbanyak pengetahuan dan tukar pengalaman tentang menyusui yang baik dan benar dari tenaga kesehatan yang terlatih tentang laktasi.

Jika selama masa cuti ibu terbiasa menyusui ASI pada bayinya. Maka saat masa cuti selesai, sebaiknya ibu mulai membiasakan untuk menyusui bayi sebelum berangkat bekerja dan melakukan pengeluaran ASI untuk persediaan di rumah.

Keluarkan ASI sebanyak mungkin dan tampung ke cangkir atau tempat/teko yang bersih. Ada ibu yang dapat mengeluarkan sampai dua cangkir (400-500 ml) atau lebih, walaupun setelah bayi selesai menyusui. Tetapi, meskipun hanya secangkir (200 ml) sudah bisa untuk pemberian dua kali, yakni masing-masing 100 ml. Pangosongan payudara dengan perah ASI dapat dilakukan di tempat kerja, setiap 3-4 jam.

Pengosongan payudara untuk mengeluarkan ASI dapat diperah melalui tiga cara, yakni menggunakan tangan, memakai alat secara manual atau menggunakan pompa elektrik. Kita bisa memilih cara yang dianggap paling gampang dan nyaman. 

Tetapi, jika menilik dari kepraktisan dan sisi ekonomis, memerah ASI dengan tangan lebih unggul dibandingkan dua cara yang lain. Kita bisa melakukan kapan saja tanpa repot mencari alat bantuan khusus. Kecuali wadah untuk menampung ASI.

Apapun cara yang dipilih, hal yang tidak dapat diabaikan adalah faktor kebersihan. Sebelum memerah ASI, sebaiknya ibu menyiapkan wadah tertutup yang bersih dan steril untuk menampung ASI. Cucilah tangan dengan sabun dan air, hingga bersih. 

Selanjutnya, perah sedikit ASI, lalu oleskan pada puting dan areola. Tindakan ini dilakukan karena ASI mengandung zat anti bakteri. Setelah siap, silakan mulai memerah ASI. Setelah itu, ASI dapat disimpan di lemari pendingin dan dibawa pulang. ASI perahan ini dapat diberikan pada bayi saat ibu bekerja dengan menggunakan cangkir, dan tidak boleh menggunakan dot.

Penyimpanan ASI dilakukan selama 6-8 jam di temperatur ruangan (19-25°C), bila masih kolostrum (susu awal, 1-7 hari) bisa sampai 12 jam. Dapat disimpan selama 1-2 hari di lemari es (4°C) serta bisa bertahun dalam deep freezer (-18°C). 

ASI beku yang akan digunakan perlu dicairkan dahulu dalam lemari es (4°C). ASI kemudian tidak boleh dimasak, hanya dihangatkan dengan merendam cangkir dalam air hangat. Pada saat ibu di rumah, sesering mungkin bayi disusui, dan anti jadwal menyusuinya sehingga juga tetap perlu banyak menyusui di malam hari. 

Keterampilan mengeluarkan ASI dan mengubah jadwal menyusui, sebaiknya telah mulai dipraktikkan sejak satu bulan sebelum kembali bekerja. Minum dan makan makanan yang bergizi dan cukup selama bekerja dan selama menyusui juga penting untuk diperhatikan. Selanjutnya, ibu juga perlu menghindari stres karena beban fisik dan mental akan menghambat ASI sehingga kuantitas menjadi terganggu.

Kepada para pemilik perusahaan dan perkantoran, sangat perlu didorong untuk menyediakan tempat khusus bagi para karyawan perempuannya yang ingin menyusui atau memerah ASI-nya di tempat kerja. Bagi ibu yang bekerja dapat diberikan waktu khusus untuk memerah ASI setiap 3-4 jam sekali selama 15-30 menit di dalam waktu kerjanya.

Mari kita galakkan ibu menyusui ASI kepada bayinya selama 2 tahun, untuk wujudkan generasi bangsa yang sehat dan cerdas.

*) Oleh: dr Yahmin Setiawan, MARS (Anggota Divisi Aliansi Strategis Mukisi dan Direktur RS Sari Asih, Serang)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here