Mukisi.com-Badan Kependudukan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) mencatat, setiap harinya sebanyak 10.000 bayi dilahirkan di Indonesia atau sekitar empat juta jiwa per tahun. Tak terkecuali kelahiran bayi kembar siam. Selanjutnya muncul pertanyaan, bagaimana sebenarnya hukum operasi pemisahan bayi kembar siam?

Kembar siam adalah keadaan anak kembar yang tubuh keduanya bersatu. Hal ini terjadi apabila zigot dari bayi kembar identik gagal terpisah secara sempurna. Kemunculan kasus kembar siam diperkirakan adalah satu dalam 200.000 kelahiran, dengan angka kemungkinan bertahan hidup berkisar antara 5% dan 25%, dan kebanyakan (75%) berjenis kelamin perempuan.

Dalam Islam mengenal maqasid al-syari‘ah yang berarti tujuan disyariatkannya hukum Islam, dengan lima poin maksud-maksud dan tujuan syariat. Tujuan Allah Subhanahu wa Ta‘ala mensyariatkan hukumnya adalah untuk memelihara kemaslahatan manusia, sekaligus untuk menghindari mafsadat (akibat buruk), baik di dunia maupun di akhirat. Oleh karena itu, lima unsur pokok maqasid al-syari‘ah harus dipelihara dan diwujudkan.

Maslahat Operasi Pemisahan Bayi Kembar Siam

Terlahirnya bayi kembar yang saling berdempet satu sama lain membuat orang berpikir bahwa hal tersebut adalah suatu kemafsadatan. Dan memang sebenarnya hal tersebut merupakan suatu mafsadat sebab tergolong kategori cacat yang membuat orang yang mengalaminya menderita.

Maka dari itu, orang tua bayi tersebut akan mengupayakan untuk memperoleh maslahat sehingga mafsadat dapat berkurang ataupun bahkan dapat dihilangkan. Salah satu cara memperoleh maslahatnya yaitu dengan melakukan operasi pemisahan bayi kembar siam. Adapun maslahat dari operasi pemisahan bayi kembar siam, di antaranya:

Menyembuhkan orang sakit. Kembar siam merupakan suatu penyakit sejak lahir atau bisa dikatakan suatu cacat. Dengan melakukan operasi pemisahan pada bayi kembar siam diharapkan dapat menyembuhkan cacat yang diperoleh bayi sejak lahir. Hal tersebut berdasarkan sejarah dari kembar siam dari tahun 6500 SM sampai tahun 1851 M bahwa sekitar 60% kasus kembar siam yang berhasil dipisahkan dan bertahan hidup hingga puluhan tahun ke depan.

Membantu melanjutkan keturunan (Hifz al-Nasl). Dengan melakukan operasi pemisahan pada bayi kembar siam berarti membantu melanjutkan keturunan karena bayi yang selamat satu ataupun keduanya akan terus hidup dan nantinya akan bertumbuh kembang dan melahirkan keturuna pula. Hal tersebut berdasarkan cerita dari salah seorang yang berhasil dioperasi dan kemudian menikah dan memperoleh keturunan pula.

Menjaga jiwa (Hifz al-Nafs). Dikatakan menjaga jiwa karena dalam keadaan tertentu pada bayi kembar siam yang tidak dilakukan operasi pemisahan akan membahayakan jiwa si bayi. Dengan melakukan operasi pemisahan bayi kembar siam dapat membatu untuk menjaga jiwa si bayi. Segala sesuatu yang dilakukan untuk memperoleh kemaslahatan dan untuk menjaga kelangsungan hidup manusia dapat dikatakan menjaga jiwa sesuai dengan yang disyariatkan Alquran dan Hadis.

Memudahkan kegiatan si bayi saat besar. Bayi kembar siam yang berdempet dan tidak dipisahkan sampai mereka bertumbuh kembang akan menyulitkan mereka melakukan aktivitas saat mereka besar. Dengan dilakukannya operasi pemisahan pada bayi kembar siam maka akan memudahkan si bayi saat besar nanti.

Mafsadat Operasi Pemisahan Bayi Kembar Siam

Setelah dilakukan upaya operasi pemisahan bayi kembar siam untuk memperoleh maslahat, namun tetap saja ada beberapa kemafsadatan yang tetap ada dan tidak bisa dihilangkan. Mafsadat biasanya muncul apabila potensi hidup pada bayi sangat kecil setelah dilakukannya operasi pemisahan bayi kembar siam. Beberapa mafsadat dalam operasi pemisahan bayi kembar siam, di antaranya:

Menghilangkan salah satu jiwa. Pada situasi dan kondisi tertentu, jika tetap dilakukan operasi pemisahan pada bayi kembar siam akan menghilangkan salah satu jiwa karena kondisi dempet yang tidak memungkinkan untuk keduanya dapat selamat. Hal tersebut berdasarkan data dari tahun 6500 SM sampai tahun 1851 M bahwa sekitar 30% kembar siam yang dioperasi tidak dapat bertahan keduanya, dengan kata lain hanya satu yang selamat di antara keduanya.

Terjadi beberapa kelainan pascaoperasi. Bayi kembar siam yang berhasil dioperasi kadangkala mengalami beberapa kelainan pasca operasi, diantaranya sering muntah-muntah, kelainan pada pencernaan, pernapasan, dan reproduksi. Oleh karena itu, harus dilakukan serangkaian pengobatan lanjutan.

Setelah mengetahui maslahat dan mafsadat, maka keduanya harus dipertimbangkan dengan betul-betul teliti. Kita harus mengambil keputusan terhadap pertimbangan yang lebih berat dan lebih banyak, karena sesungguhnya yang mengandung lebih banyak itu mengandung hukum yang lebih menyeluruh. 

Oleh karena itu, beberapa hukum dilakukannya operasi pemisahan tergantung pada situasi dan kondisi bayi, di antaranya:

Mubah, jika kondisi dempet bayi tersebut dapat dikategorikan ke dalam kasus yang mudah sebab jika dilakukan atau tidak operasi pemisahan tidak akan mempengaruhi jiwa si bayi.

Wajib, jika kondisi bayi dempet akan membahayakan jika tidak dilakukan operasi pemisahan dan akan lebih baik jika dilakukan operasi pemisahan.

Makruh, jika misalnya kondisi dempet si bayi yang hanya mempunyai tiga kaki, masalahat dan mafsadatnya hampir seimbang namun mafsadatnya sedikit lebih banyak karena setelah dipisahkan salah satu bayi hanya akan mempunyai satu kaki, sedangkan bayi yang satunya memiliki kaki yang lengkap.

Sunnah, jika si bayi tidak dapat bertahan hidup dan akhirnya meninggal sebelum dilakukan operasi, maka sunnah jika bayi tersebut dipisahkan setelah mereka meninggal karena baik jika dikuburkan secara terpisah namun tidak apa-apa jika dikuburkan secara dempet.

Haram, apabila risiko hidup si bayi sangat kecil apabila dilakukan operasi pemisahan, namun akan baik-baik saja jika tidak dipisahkan. (nin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here