Mukisi.com-Limbah medis menjadi isu penting tersendiri di luar kusutnya pengelolaan sampah di seluruh dunia. Bahkan, permasalahan pengelolaan limbah medis fasilitas kesehatan sudah menjadi masalah laten yang perlu ditangani secara khusus.

Direktur Kesehatan Lingkungan Ditjen Kesehatan Masyarakat Kemenkes dr.Imran Agus Nurali,Sp.KO., menyebutkan limbah medis yang belum dikelola jumlahnya masih sangat besar. Volume limbah medis yang berasal dari 2.820 rumah sakit dan 9.884 puskesmas di Indonesia ini mencapai 290-an ton per hari.

“Itu belum termasuk dari klinik-klinik, unit transfusi dan apotek pun punya limbah medis. Sementara tempat untuk pengelolaan limbah medis masih sedikit dan kapasitasnya juga terbatas,” tuturnya.

Ia melanjutkan, limbah tersebut berada di rumah sakit atau di lokasi pengolahan menunggu proses pembakaran di insinerator bersuhu tinggi.

Butuh Peran Pihak Ketiga

Prosedur penanganan limbah medis dari rumah sakit atau fasilitas kesehatan, selain harus dibakar di insinerator atau tempat pembakaran sampah, juga dapat diserahkan pada pihak ketiga untuk ditangani lebih lanjut.

Ini diatur berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor: 1204/MENKES/SK/X/2004 tentang Persyaratan Kesehatan Lingkungan Rumah Sakit. Limbah medis hanya diperbolehkan ditampung selambat-lambatnya selama 24 jam.

Imran menyampaikan, hingga saat ini baru ada 10 jasa pengelolaan limbah medis berizin di Indonesia dengan kapasitas pengelolaan limbah 170-an ton per hari. Sementara itu, jumlah rumah sakit yang memiliki alat insinerator untuk mengolah limbah medisnya sendiri baru berjumlah 87 RS dengan kapasitas 60-an ton per hari.

“Jika ditotal, kapasitas pengelolaan limbah medisnya 220 ton per hari, sedangkan limbah yang dihasilkan secara nasional 290 ton perhari. Jadi, masih ada gap timbunan 74 ton limbah medis per hari yang belum dikelola,” paparnya.

Menumpuknya limbah ini, menurut Imran, dikarenakan terbatasnya jasa pengelolaan limbah sehingga banyak limbah medis yang tidak terkelola. Saat ini, sedikitnya lima perusahaan pengolahan limbah di Jawa dan empat lainnya tersebar di Batam, Kalimantan, dan Sulawesi. 

Keterbatasan tempat pengolahan limbah ini membuat tarif layanan armada pengiriman limbah menjadi mahal. Untuk rumah-rumah sakit di pulau yang tidak memiliki usaha pengolahan limbah, harga pengiriman mencapai Rp100.000-Rp140.000 per kilogram.

Kendala lainnya adalah mahalnya teknologi pembakaran juga susahnya pengurusan izin lintas kementerian. Ia menjelaskan, untuk mendirikan tempat pengolahan limbah, pengusaha harus mendapatkan izin dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

“Demikian juga dengan usaha angkutan limbah medis, pengusaha wajib memenuhi persyaratan Kementerian Perhubungan. Perusahaan angkutan pembuangan limbah medis saat ini tercatat 100 armada yang melintasi rumah sakit seluruh Indonesia,” kata Imran.

Untuk mengurangi limbah medis, Kemenkes mengajak pemerintah daerah menyediakan pengolahan limbah medis berbasis wilayah. Pihak rumah sakit juga diminta untuk mendaur ulang limbah yang tidak berbahaya. 

Selain itu, Kemenkes juuga mendorong pemilahan limbah medis untuk mengurangi kapasitas limbah yang masuk ke insinerator. Tak hanya itu, rumah sakit juga diharapkan dapat menggunakan teknologi pengelolaan sampah tanpa insinerator, misalnya microwave yang dapat mengurangi volume limbah medis di pihak ke-3.

Pentingnya Pengelolaan Limbah Medis

Sementara Sekjen PERSI Pusat, Dr. dr. Lia Gardenia Partakusuma, Sp.PK(K), MM., MARS., FAMM., mengatakan pengelolaan limbah medis perlu dilakukan agar tidak membawa dampak negatif bagi lingkungan dan masyarakat. Limbah medis seperti sisa jarum suntik, sisa alat dalam layanan kesehatan, dan jaringan tubuh pasien adalah berbahaya dan menyebarkan penyakit.

“Karena itu limbah wajib dikelola dengan baik sampai dinyatakan tidak membawa dampak pada lingkungan dan hasil pembakaran wajib dilaporkan ke rumah sakit bersangkutan,” jelasnya.

Lia menegaskan, dampak yang perlu diwaspadai dari limbah medis ini dalam jangka panjang, salah satunya juga dapat menimbulkan penyakit kanker. (nin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here