Mukisi.com-Asosiasi Tenaga Kesehatan Lingkungan Rumah Sakit Indonesia (ATKLRSI) mengajak seluruh rumah sakit (RS) untuk membuka pikiran terkait pengelolahan limbah medis serta bank sampah.

Dikutip dari tribunnews.com, ATKLRSI mengadakan musyawarah nasional (Munas) dan workshop yang mengangkat tema strategis implementasi kesehatan lingkungan RS dalam menghadapi akreditasi dan green hospital yang disampaikan pada 150 RS yang hadir pada acara tersebut. 

Limbah RS merupakan limbah yang dihasilkan dari kegiatan RS dalam bentuk padat, cair maupun gas dan bersifat infeksius, bahan kimia beracun, dan bersifat radioaktif. Sehingga limbah RS tergolong limbah berbahaya dan beracun. Jika dibuang sembarangan tentu akan menimbulkan bahaya bagi lingkungan. Karenanya, perlu penanganan khusus agar limbah ini tak membahayakan.

Oleh sebab itu, limbah bekas kemasan B3 yang sebelumnya hanya fokus untuk dimusnahkan, alangkah baiknya jika kini dipilah terlebih dahulu yang tidak infeksius untuk kemudian dibuatkan bank sampah. Limbah kemasan bisa berupa kemasan botol infus, botol kaca vial, ampul, kemasan farmasi bahkan selang plastik dari set infus, masker oksigen dan lain-lain.

“Sangat berpotensi untuk didaur ulang menjadi revenue center menghasilkan pendapatan baru bagi RS. Yang selama ini hanya menjadi beban biaya atau cost center di dalam pengelolaan LB3,” terang Saut Marpaung Ketua Umum APSI (Asosiasi Pengusaha Sampah Indonesia).

Sebagai tempat kepercayaan masyarakat untuk berobat, alangkah baiknya jika RS memberikan contoh kepada para pasien dan pengunjung bagaimana mengelolah sampah secara bertanggung jawab agar semakin efisien dan efektif mengurangi sampah ke TPA (Tempat Pembuangan Akhir).

Dalam hal ini, APSI akan ikut serta berperan dalam mendampingi RS mendirikan bank sampah yakni dengan menjadi mitra kerja mendaur ulang limbah hasil pilihan dan sterilisasi di dalam RS. Hasil dari daur ulang tersebut dapat dijadikan produk baru nonfood grade seperti ember cor, kantong sampah, segel gas dan lain-lain.

“Untuk mendukung program ini, asosiasi sedang menyiapkan standarisasi anggota dalam mendampingi kawasan RS agar bisa memberikan layanan yang optimal kepada RS yang bekerjasama,” ujarnya.

Pengelolaan limbah medis RS hendaknya mendapat perhatian serius karena bagian penting dari mutu pelayanan. “Mengingat pengolahan limbah rumah sakit juga termasuk poin penting yang mempengaruhi mutu layanan rumah sakit, dan snagat menentukan untuk akreditasi RS,” ungkap Maudy Dirgahayu Hussein, Ketua Penyelenggara acara itu. (Gth)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here