Mukisi.com-Hari kedua agenda konsinyering bersama Majelis Upaya Kesehatan Islam Seluruh Indonesia (Mukisi) dan Dewan Sertifikasi Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN-MUI), Jum‘at lalu(16/8) ternyata tidak hanya mengevaluasi pelaksanaan sertifikasi syariah. Konsinyering tersebut juga menjadi kesempatan bagi Mukisi berjejaring.

Jejaring pada dua pihak ini adalah Universitas Ibn Khaldun (UIKA) Bogor dan PT Daya Dinamika Medika yang merupakan Holding Perumahsakitan lembaga filantropi yang dimiliki oleh Yayasan Dompet Dhuafa Republika. Kegiatan ini berlangsung di Hotel Sofyan Cikini Jakarta.

Kerja sama Mukisi dengan Universitas Ibn Khaldun tentang pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi ini menjadi kerja sama baru dengan intitusi pendidikan, setelah sebelumnya Mukisi menjalin kerja sama dengan Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta.

MoU ini mencakup pada keseluruhan program pendidikan dan studi yang berfokus pada kegiatan pendidikan dan pengajaran, penelitian dan pengembangan, serta pengabdian masyarakat.

“Jadi, untuk kesempatan pada institusi pendidikan, jika mahasiswanya ada yang ingin meneliti dengan dibantu Mukisi, maka akan lebih baik jika dituangkan bersama pada sebuah MoU,” papar Miftachul Izah, SE., M.Kes. Wakil Sekretaris Mukisi pada redaksi.

Semakin banyak penelitian tentang berbagai kegiatan yang dilakukan di rumah sakit syariah, maka hal itu tentunya dapat meningkatkan kualitas yang lebih baik bagi para rumah sakit anggota Mukisi. Di samping itu, lanjut Mifta, dengan adanya kerja sama ini, maka tenaga-tenaga profesional dapat lebih dikenal di antara yang lain.

Sementara kerja sama yang dilakukan dengan PT Daya Dinamika Medika dilakukan adalah sebagai sebagai upaya kedua belah pihak, baik pada Mukisi dan PT Daya Dinamika Medika untuk bersinergi dalam jasa layanan kesehatan.

“Penandatanganan MoU dengan Dompet Dhuafa ini bisa dalam bentuk apa saja dengan tujuan demi kemaslahatan umat,” jelas Mifta.

“Mukisi bisa menjadi jembatan Dompet Duafa dengan para anggota Mukisi lain, termasuk para lembaga filantropi ke depan bisa saling bekerja sama dengan Mukisi.” 

Kerja sama yang dilakukan Mukisi dengan berbagai macam pihak ini, lanjut Mifta, merupakan suatu kewajaran. Mukisi sendiri membuka peluang kerja sama dengan berbagai pihak, baik dari lembaga pendidikan, rumah sakit, hingga penyedia produk-produk halal, “Jadi ini hal yang wajar. Peluang ini bisa kepada siapa saja,” tuturnya.

Kerja Sama Sebagai Kegiatan Dakwah Berjamaah

Membentuk suatu networking atau jejaring adalah satu-satunya jalan pada organisasi apapun untuk dapat tetap tumbuh, berkembang, dan dapat diterima di semua golongan dan stakeholder. Dan hal ini yang menjadi hikmah atau titik pelayanan dari organisasi itu sendiri, tak terkecuali pada Mukisi.

Akad muwa’adah atau nota kesepahaman Mukisi dengan berbagai pihak merupakan sebuah bentuk kolaborasi potensi umat. Kerja sama lembaga, asosiasi, atau institusi yang bergerak di bidang kemaslahatan umat ini dapat menjadi sebuah gerakan dakwah bersama yang dilakukan secara berjemaah. Sehingga hal yang dilakukan ini, menurut Mifta, tentunya akan memberi dampak yang lebih besar dan manfaatnya bisa lebih banyak.

”Jadi, bekerja sama dengan berbagai macam pihak itu merupakan suatu keniscayaan dan menjadi sesuatu yang dibutuhkan untuk mengembangkan organisasi menjadi organisasi yang lebih baik,” tegasnya.

Mifta dalam kesempatan ini juga memberitahukan cara untuk dapat menjalin kerja sama dengan Mukisi. Apabila kerja sama yang dilakukan sifatnya hanya untuk dakwah dan pemberian pelatihan, maka bagi pihak yang berkenan hanya perlu berkirim surat dengan menjelaskan tujuan.

“Jika tujuan tersebut sejalan dengan visi dan misi dari Mukisi, maka akan diberi kepastian lanjutan dari kerja sama tersebut,” pungkasnya. (nin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here