Mukisi.com-Persusuan oleh ibu selain dianjurkan dalam dunia kesehatan, juga dianjurkan Alquran. Menyusui bayi dengan ASI akan memberikan beragam manfaat bagi bayi hingga dewasa. Namun, bagaimana Islam memandang persusuan ibu ini?

Perintah tentang menyusui telah tercantum dalam Alquran Surat Al Baqarah: 233, Allah berfirman, “Para Ibu hendaklah menyusui anaknya selama dua tahun penuh, bagi yang ingin menyempurnakan penyusuannya,”.

Lalu, dikutip dari penelitian dalam Jurnal Israhqi Vol. 10 No.1 Juni 2012 yang membahas mengenai menyusui dalam Islam, ayat tersebut menunjukkan bahwa menyusui anak adalah anjuran, namun bukan kewajiban. Ini berarti ibu boleh saja memilih untuk tidak menyusui anaknya, meskipun hal tersebut berarti tidak melakukan yang lebih utama.

Tradisi persusuan oleh ibu juga ditunjukkan oleh Alquran dalam surat Al-Ahqaf ayat 15, “Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat bagi kepada kedua orang tuanya. Ibunya mengandungnya dengan susah payah. Ia mengandungnya dan menyapihnya selama tiga puluh bulan.

Ayat tersebut menunjukkan bahwa seorang anak diperintahkan untuk menghormati kedua orang tuanya, terutama ibunya. Ibu telah mengandung dan menyapihnya selama 30 bulan, yang mana angka tersebut diperoleh dari jangka minimal untuk mengandung, yakni 6 bulan, dan jangka menyusui hingga menyapih, yakni 24 bulan, seperti halnya yang telah dirumuskan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sebagai standar emas makanan bayi (golden standard of infant feeding).

Meskipun terdapat perintah kepada para ibu untuk menyusui anak dalam ayat 233 surat Al-Baqarah, namun hukum bagi ibu untuk menyusui anak diperselisihkan para ulama. Abu Bakar al-Jassas, misalnya, berpendapat bahwa surat Al-Baqarah ayat 223 berisi dua kemungkinan, yakni 1) Jumlah khabariyah dalam surat Al-Baqarah tersebut bermakna amr (perintah), yang menunjukkan kewajiban seorang ibu untuk menyusui anak, dan 2) Jumlah khabariyah tersebut menunjukkan hak seorang ibu untuk menyusui.

Sementara itu, Abu Ya’la al-Farra’ berpendapat bahwa perintah di atas mengacu kepada ayah untuk memberi nafkah dalam masa persusuan ibu. Muhammad bin Ali Al-Syawkani berpendapat bahwa ibu wajib menyusui ketika anak tidak mau menerima susu dari orang lain. Sementara menurut Ilkiya al-Harasy, ayat tersebut secara implisit menunjukkan hak hadlanah ibu ketika anak belum mencapai usia 2 tahun. 

Perbedaan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa hukum menyusui anak oleh ibu kandung berada di antara hukum kewajiban dan hak. Hukum dasar kewajiban adalah wajib, sedangkan hukum dasar hak adalah mubah.

Jadi, hukum persusuan oleh ibu adalah antara hukum wajib dan mubah (sunnah).Sedangkan sunnah bagi ibu untuk menyusui tersebut sangat ditekankan oleh nash.(nin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here