Mukisi.com-Menyambut Hari Kemerdekaan Indonesia, semangat bersyariah juga kian membara. Seperti yang dilakukan oleh Majelis Upaya Kesehatan Islam Seluruh Indonesia (Mukisi) dan Dewan Sertifikasi Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN-MUI) dalam acara konsinyering pada hari Kamis (15/8) dan Jumat (16/8).

Konsinyering ini berlangsung di Hotel Sofyan Syariah Jakarta. Seluruh pengurus Mukisi dan DSN-MUI yang diwakilkan oleh tiga ketua DSN dan beberapa divisi hadir dalam acara tersebut.

Seperti yang sudah diketahui pada pra konsinyering bahwa adanya peninjauan lanjutan terkait standar sertifikasi RS Syariah. Pada acara konsinyering, peninjauan-peninjauan tersebut di presentasikan oleh Mukisi agar mendapat kesepakatan bersama.

“Apa yang telah dihasilkan pada acara konsinyering, semua sudah dipresentasikan di acara ini, yaitu membahas tentang segala sesuatu mengenai reviu standar RS syariah, dan seluruh yang telah dibahas di pra konsinyering pada dasarnya telah disetujui dan ada sedikit perubahan,” kata dr. Sagiran, Sp.B, M.Kes selaku Ketua Umum Divisi Sertifikasi RS Syariah.

Hasil dari acara konsinyering tersebut, selanjutnya akan disusun menjadi draft buku baru atau buku standar sertifikasi RS Syariah. Selain itu, standar sertifikasi syariah juga memiliki versi baru yang akan diluncurkan pada tahun baru Islam tanggal 1 September bertepatan dengan Satu Muharram.

“Saya berharap dengan adanya standar sertifikasi RS yang baru, maka akan banyak RS anggota Mukisi dan RS lain yang berbondong-bondong menjalani sertifikasi terkait standar RS Syariah di Indoensia,” terang pria yang juga dokter bedah itu.

Format dari standar sertifikasi RS Syariah sudah lebih implementatif dan disesuaikan dengan SNARS (Standar Nasional Akreditasi Rumah Sakit) yang dikeluarkan oleh KARS (Komite Akreditasi Rumah Sakit) di Indonesia. Sehingga pada pelaksanaannya juga lebih mudah dan tahap penyiapan pun tidak sulit. Selain itu, saat survei yang nanti akan diganti nama menjadi visitasi akan mudah pula dilaksanakan.

Selain format-format tersebut, DSN-MUI dan Mukisi telah sepakat untuk menerjemahkan standar sertifikasi syariah ke dalam bahasa asing yakni Bahasa Inggris dan Bahasa Arab. Hal ini sebagai bentuk upaya agar RS Syariah dapat dikenal lebih luas.

“Fatwa mengenai RS syariah ini merupakan satu-satunya di dunia, jadi kalau ini sudah di lakukan di Indonesia dan kemudian di sebarluaskan ke luar negeri atau ke seluruh dunia dengan minimal dua bahasa itu. Ya insyaallah amal jariyah bagi pendahulu dan kita semua yang menyusun ini mudah-mudahan terus mengalir, dan juga pada siapa saja yang punya kontribusi terhadap amal usaha ini.” tutupnya. (Gth)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here