Rs-alirsyadsurabaya.co.id-Meski beberapa alat kesehatan (alkes) masih perlu diimpor ke dalam negeri, namun menurut data Kementerian Kesehatan, sejak 2015 hingga 2018, terus mengalami peningkatan pada perkembangan industri alkes dalam negeri.

Sebelumnya, pada 2016 terdapat sebanyak 262 jenis alat kesehatan yang diproduksi di dalam negeri, yang kemudian meningkat di tahun 2017 menjadi 294 jenis. Hingga pada tahun 2018, sudah ada sebanyak 328 jenis alat kesehatan yang mampu diproduksi di dalam negeri.

Peningkatan produksi alat kesehatan itu diiringi dengan bertambahnya jumlah industri alat kesehatan di Tanah Air. Sejak 2015 hingga tahun ini industri alat kesehatan dalam negeri tumbuh sebesar 35,23% atau sebanyak 68 industri, dari yang sebelumnya pada 2015 terdapat 193 industri meningkat menjadi 261 industri di tahun ini.

Sarana industri yang memproduksi berbagai produk alkes, antara lain: furnitur rumah sakit,; sphygmomanometer; stetoskop; sarung tangan (hand gloves), kateter urine, alat kesehatan elektromedik (infant incubator, nebulizer, O2 concentrator, dental chair, EKG, fetal doppler, syringe pump, infusion pump, lampu operasi, dan lain-lain); alat kesehatan kontrasepsi (IUD dan kondom); alat kesehatan disposables (syringes, benang bedah, kantong urine, infusion set, masker, kasa, kapas pembalut, plester elastik, band aid, dan lain-lain); instrumen bedah (mayor dan minor set); medical apparels (operating gown, bed sheets, dan lain lain); rapid test (seperti HIV test, hepatitis test, tes kehamilan, tes narkoba); reagensia pewarnaan; antiseptik; sterilisator; dan lain-lain.

Untuk beberapa alat yang dirasa sulit untuk diproduksi seperti, MRI dan CT Scan memang belum ada buatan dalam negeri. Namun, peralatan furnitur kesehatan lainnya sudah mampu berkembang dan layak digunakan untuk fasilitas kesehatan, sehingga potensi perkembangan alkes masih tetap bisa bersaing dengan produksi luar, masih terbuka, meski tetap akan butuh impor karena penyelamatan manusia perlu fasilitas yang komplit. 

Dengan peningkatan tersebut, industri alat kesehatan dalam negeri saat ini telah mampu memenuhi lebih kurang 69,44% standar fasilitas alat kesehatan di Rumah Sakit Kelas D, dan memenuhi sekitar 50% standar fasilitas alat kesehatan di Rumah Sakit Kelas A. Pada 2018 juga tercatat sebanyak 4.526 produk alat kesehatan dalam negeri telah memiliki izin untuk beredar.

Demikian juga sarana produksi kefarmasian yakni industri farmasi, obat tradisional, kosmetik, dan ekstrak bahan alam yang telah mengalami pertumbuhan jumlah sarana produksi dan nilai investasi. Industri farmasi dalam kurun 2 tahun saja telah tumbuh sebanyak 14 sarana baru.

Setelah diimplementasikannya kebijakan yang mendorong percepatan pengembangan industri farmasi, terjadi pertumbuhan investasi industri farmasi yang signifikan. Dalam periode 2014-2015 hingga periode 2016-2017, nilai investasi industri farmasi meningkat dua kali lipat.

Beberapa Industri Farmasi dalam negeri juga telah berkolaborasi dengan perusahaan multinasional di antaranya berasal dari Korea Selatan, Jerman, Amerika Serikat, dan Cina untuk mengembangkan produk biosimilar, seperti erythropoietin (EPO), Epidermal Growth Factor (EGF), Monoclonal Antibody (MAB), dan somatropin, serta beberapa bahan baku obat.

Keuntungan Penggunaan Alkes Dalam Negeri

Dengan menggunakan alat kesehatan buatan dalam negeri, negara atau daerah dapat melakukan penghematan anggaran hingga 20-30 persen. Sebab, selain bermutu, berstandar internasional dan memiliki izin edar, harga alkes pun terjangkau. 

Penggunaan alkes dalam negeri secara tidak sengaja juga akan mendorong pengembangan inovasi alkes, sebagai pendukung kegiatan sosial sekaligus peningkatan ekonomi bagi bangsa, karenanya dituntut bagi setiap produk alkes buatan dalam negeri untuk mengutamakan mutu, sehingga bisa mampu berkompetitif dengan produk dari luar.

Dengan tumbuhnya industri alkes dalam negeri, didukung dengan terbitnya Inpres Nomor 6 Tahun 2016 tentang Percepatan Pengembangan Industri Farmasi dan Alat Kesehatan, Indonesia diharapkan tidak perlu lagi bergantung pada pemberian alat kesehatan bekas dari luar negeri, karena kualitas alkes dalam negeri tidak perlu diragukan.

Untuk Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) menurut Menkes, obat dan alkes menjadi komponen penting dalam sistem layanan kesehatan. Karena itu, pemerintah harus memberikan kepastian baik soal ketersediaan maupun soal harga. Jangan sampai dua komponen tersebut menghambat pelaksanaan JKN di lapangan.(nin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here