Mukisi.com-Islam mengajarkan untuk menjaga hubungan tidak hanya kepada Allah (habluminallah), tetapi juga kepada sesama ciptaan Allah Subhanahu wa Ta‘ala (habluminannas). Karenanya, kunjungan kepada orang sakit termasuk salah satu hak seorang muslim dengan muslim lainnya yang hukumnya mustahab.

Dikatakan oleh Rasulullah, menjenguk orang yang sakit memiliki syafaat. Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Orang yang menjenguk orang sakit akan berada di kebun-kebun surga sampai ia pulang.” (HR. Muslim, no. 2568).

Ada beberapa hal yang sering dilakukan Rasulullah ketika menjenguk. Berikut ini adalah hal yang sering dilakukan Rasulullah saat menjenguk:

Memperhatikan waktu kunjungan

Sebenarnya, tidak ada ketentuan khusus mengenai hari maupun waktu untuk berkunjung menjenguk orang sakit. Kapan saja waktunya adalah waktu yang baik, seperti dalam sebuah hadis, “Apabila menjenguknya, di pagi hari maka 70 ribu malaikat mendoakannya agar mendapat rahmat hingga waktu sore tiba. Apabila menjenguknya di sore hari, maka 70 ribu malaikat mendoakannya agar diberi rahmat hingga waktu pagi tiba.” (HR. at-Tirmidzi, Ibnu Majah dan Imam Ahmad dengan sanad shahih)

Namun, akan lebih baik jika saat menjenguk memilih waktu-waktu yang cocok untuk berkunjung, supaya tidak menjadi beban dan memberatkan orang yang sedang dikunjungi. 

Selain itu, jangan menjenguk terlalu lama karena orang yang sakit membutuhkan waktu istirahat yang cukup, kecuali jika dikehendaki oleh orang yang sedang sakit, atau jika memberikan maslahat baginya, dan tentunya jika dirawat di rumah sakit, maka harus memperhatikan jam kunjung rumah sakit. 

Tidak Berikhtilat

Perempuan dibolehkan menjenguk laki-laki yang sedang sakit meskipun mereka bukan mahramnya. Akan tetapi, dengan beberapa syarat seperti aman dari fitnah, menutup aurat, dan tidak bercampur-baur antara laki-laki dan perempuan. Jika syarat ini terpenuhi, maka seorang wanita dibolehkan menjenguk laki-laki yang bukan mahramnya atau sebaliknya, laki-laki yang menjenguk perempuan.

Seperti yang pernah diungkapkan Ibnu Hajar, “Hanya sebatas mengetahui antara orang yang sakit terhadap orang-orang yang menjenguknya bukan berarti syariat menjenguk itu tidak usah dilaksanakan. Karena di balik itu keluarganya akan mengetahuinya. Dan diharapkan keberkahan doa orang yang menjenguknya, dia memegang orang yang sakit, mengusap tubuhnya, dan meniupnya dengan dibacakan Al-Mu’awwidzat, dan lain-lain.”

Berusaha Menghibur

Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam membesarkan hati saat menjenguk Ummu ‘Alâ, bibi Hizâm bin Hakîm al-Anshâri yang sedang sakit dengan berkata: “Bergembiralah, wahai Ummu ‘Alâ. Sesungguhnya Allah akan menggugurkan dosa-dosa orang yang sakit dengan penyakitnya, sebagaimana api menghilangkan kotoran-kotoran dari biji besi.” (Hadits hasan riwayat Abu Dawud, Shahîh at-Targhîb, 3438)

 

Mendekati dan Mendoakan

Saat sedang menjenguk orang sakit, Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam duduk berdekatan dengan kepala orang yang sakit untuk mengakrabkan diri, kemudian meletakkan tangan di kening, wajah, dan mengusap-usap dada serta perut orang yang sakit. Sembari menempelkan tangan kanannya di tubuh orang yang sakit, beliau melantunkan doa (di antaranya):

أَسْأَلُ اللَّهَ الْعَظِيمَ رَبَّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ أَنْ يَشْفِيَكَ 

Aku memohon kepada Allah Yang Mahaagung, Penguasa Arsy yang agung untuk menyembuhkanmu.” Yang dibaca sebanyak tujuh kali. (Shahîh Adabil-Mufrad, 416)

Jika yang dijenguk termasuk orang yang bertakwa dan orang yang shalih, maka disunnahkan pula untuk meruqyah orang yang sakit, sebagaimana yang dilakukan Rasulullah. Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, dia berkata, “Sesungguhnya Rasulullah bila ada anggota keluarganya yang menderita sakit, beliau meniupnya (meruqyahnya) dengan membaca Al Mu’awwidzat.” (Diriwayatkan oleh Al Bukhari, Muslim, Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Majah, dan Malik). 

Al Hafiz Ibnu Hajar berkata, “Yang dimaksud dengan Al Mu’awwidzat adalah dua surat Al-Falaq dan An-Nas, serta Al Ikhlas.”

Menanyakan Perkembangan Keadaan

Tidak cukup datang lalu mendoakan, Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam ketika menjenguk orang sakit juga menanyakan kondisi dan perkembangan keadaannya. Dalam kitab A’mal al-Yaum wa al-Lailah, diriwayatkan dari Ibn Sinni Rasulullah bersabda:

مِنْ تَمَامِ الْعِيَادَةِ أَنْ تَضَعَ يَدَكَ عَلَى الْمَرِيْضِ، فَتَقُوْلُ: كَيْفَ أَصْبَحْتَ؟ أَوْ كَيْفَ أَمْسَيْتَ؟

“Di antara kesempurnaan menjenguk adalah engkau meletakkkan tangannya pada bagian tubuh orang yang sakit sambil bertanya,  “Bagaimana keadaanmu pagi ini? Atau bagaimana keadaanmu sore ini?”

Menuruti Keinginannya

Dalam Sunan Ibn Majah diceritakan Rasulullah menemui seorang lelaki yang beliau jenguk, lalu beliau bertanya, “’Apakah engkau menginginkan sesuatu? Mau kue?’ Lelaki itu menjawab, ‘Ya’. Rasulullah  pun mencarikan kue untuknya.”

Ketika menjenguk, Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam menanyakan tentang apa yang diinginkan oleh orang yang sedang sakit. Apabila menginginkan sesuatu yang tidak berbahaya dan tidak bertentangan dengan keadaan orang sakit, maka beliau akan meminta seseorang untuk membawakannya. Hal ini tentunya mencerminkan ajaran Islam untuk saling berempati terhadap sesama. 

Memberi Harapan untuk Sembuh

Selain menanyakan kabar dan perkembangan keadaan orang yang sedang kita jenguk, kita juga dianjurkan untuk senantiasa memberinya harapan agar lekas sembuh dan sehat kembali. Kita dapat memberi kata-kata semangat dan mengingatkan untuk senantiasa bersabar dan tidak mengeluh dalam menghadapi penyakitnya.

Hal itu bisa memberikan energi dan semangat yang luar biasa bagi yang sakit untuk sembuh dari penyakit yang dideritanya. At-Turmudzi dalam sunan-nya meriwayatkan dalam bab pengobatan, bahwa Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah bersabda, “Apabila kalian menjenguk orang sakit, berilah ia harapan panjang umur. Sesungguhnya itu membuat jiwanya tenang.” 

Membantu Talqin jika Kondisinya Kritis

Mentalqin atau membantu orang yang akan meninggal dunia untuk mengucapkan kalimat syahadat Laa Ilaha Illa Allah merupakan sunnah bagi orang yang berada di sisinya sebagaimana sabda Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam, “Tuntunlah seorang yang akan meninggal dunia dengan Laa Ilaha Illa Allah.” (Diriwayatkan Muslim, Ahmad, At Tirmidzi, An Nasa’i, Abu Dawud, dan Ibnu Majah).(nin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here