Mukisi.com-Ada beberapa peralatan medis di Indonesia yang mengandung merkuri. Apabila rusak, penanganannya alat kesehatan (alkes) bermerkuri yang tidak tepat dapat mengancam kesehatan, baik dari petugas, maupun pasien rumah sakit.

Merkuri sendiri merupakan material logam berat dan termasuk bahan berbahaya juga beracun karena potensi dampaknya yang sangat besar, khususnya bagi kesehatan. Bahkan, terdapat alat kesehatan yang mengandung merkuri yang kerap dijumpai di masyarakat, yakni termometer air raksa yang penggunaannya seringnya ditempelkan di ketiak.

“Termometer sudah sangat biasa dimiliki di tingkat rumah tangga. Bahkan kita dulu menganjurkan tiap keluarga memiliki termometer, apalagi jika memiliki balita,” tutur Dirjen Kesehatan Masyarakat Kemeterian Kesehatan RI, dr. Kirana Pritasari, dilansir dari detikHealth.

Kirana menambahkan, risiko pajanan merkuri di masyarakat masih ada karena kemampuan fasilitas pelayanan kesehatan untuk mendeteksi gejala gangguan kesehatan akibat merkuri yang juga masih kurang.

Paparan merkuri yang tinggi pada tubuh, dilansir dari halodoc bisa menyebabkan kerusakan pada saluran pencernaan, sistem saraf, dan ginjal. Bahan beracun tersebut juga bisa mengganggu berbagai organ tubuh, seperti otak, jantung, paru-paru, dan sistem kekebalan tubuh. Merkuri cair yang terdapat di dalam tabung termometer ketiak bisa menyebabkan keracunan bila tabung tersebut pecah dan uap terhirup. 

Merkuri tidak hanya berbahaya bagi orang dewasa saja, bayi dan anak-anak juga adalah kelompok yang tidak luput dari risiko paparan merkuri dan bahayanya. Merkuri bisa menyebabkan dampak yang lebih serius bila terjadi pada bayi dan anak-anak. Bahkan bila ibu hamil terpapar merkuri, hal ini akan mengakibatkan kelumpuhan otak, gangguan ginjal, cerebral palsy, cacat mental, serta kebutaan.

Oleh karena itu, melalui Peraturan Presiden No. 21/2019 tentang Rencana Aksi Nasional Pengurangan dan Penghapusan Merkuri, maka akan diberlakukan penghapusan dan penarikan alat kesehatan bermerkuri.

Aturan itu sendiri telah mulai berlaku pada 31 Desember 2018 berdasarkan pada surat edaran Menteri Kesehatan Nomor HK.02.02/V/0720/2018 tentang Penetapan Masa Berlaku Izin Edar dan Peredaran Alat Kesehatan yang Mengandung Merkuri yang dikeluarkan pada 8 Maret 2018 lalu. Larangan itu berlaku untuk RS, puskesmas, klinik, laboratorium, apotek, hingga unit transfusi darah.

Dr. Kirana, dilansir Media Indonesia juga menyebut, sejumlah produk alat kesehatan bermerkuri antara lain termometer, sfigmomanometer (alat pengukur tekanan darah), amalgam gigi atau bahan untuk penambal gigi, baterai, lampu dan alat pencahayaan, serta kateter. Perkiraan kandungan merkuri beragam untuk termometer sekitar 0,5 sampai 1,5 gram, alat pengukur tekanan darah 110-200 gram. 

Sebelum alat kesehatan bermerkuri ditarik, Kemenkes meminta fasilitas layanan kesehatan untuk melakukan inventarisasi jenis, kondisi alat kesehatan, jumlah dan volume alat kesehatan yang dimiliki. Tujuannya untuk memperkirakan besaran volume limbah merkuri yang harus dimusnahkan. 

Selain itu, fasilitas pelayanan kesehatan diminta menyimpan alat kesehatan bermerkuri di ruangan khusus. Apabila alat tersebut rusak atau pecah, ditempatkan di penyimpanan sementara limbah B3.

Data Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan Kementerian Kesehatan, puskesmas di Indonesia berjumlah 9.909 dan rumah sakit 2.820. Sekretaris Direktur Jenderal Pelayanan Kesehatan Agus Hardian Rahim meminta fasilitas pelayanan kesehatan tidak melakukan pembelian alat kesehatan bermerkuri dan menggantinya dengan yang tidak bermerkuri.

Kemenkes pun menganggap perlu dukungan berbagai unsur termasuk dinas kesehatan untuk menyosialisasikan kebijakan tersebut, sekaligus meminta fasilitas layanan kesehatan tidak lagi melakukan pengadaan alkes bermerkuri. Pun kerja sama dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) yang berwenang melakukan pemusnahan limbah merkuri.

Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (PERSI) sendiri, dilansir persi.or.id, akan mendata ulang rumah sakit (RS) yang masih menggunakan alkes bermerkuri terkait larangan penggunaan dan pengadaan alkes bermerkuri di seluruh fasilitas layanan kesehatan mulai akhir 2020. 

Sekretaris Jenderal PERSI, dr. Lia G. Partakusuma, Sp.PK(K)., MM., MARS, mengakui, masih ada RS, khususnya di daerah yang menggunakan dan menunggu penggantian alkes nonmerkuri.

Lia memaparkan, RS telah berupaya mengganti penggunaan termometer air raksa dengan termometer digital, termometer alkohol, atau galinstan. Lalu, alat pengukur tekanan darah air raksa yang bisa digantikan dengan anaroid, atau pengukur tekanan darah elekronik. Begitu pula dentalamalgama untuk menambal gigi) digantikan dengan composite resin, porcelain, atau glass ionomer.

Alat-alat kesehatan bermerkuri, kata Lia, yang sudah tidak digunakan masih disimpan oleh RS di tempat penampungan sementara. Langkah itu dilakukan karena meskipun Kemenkes sudah menginstruksikan penarikan alkes bermerkuri, tata cara pengumpulan dan distribusi alat-alat kesehatan tersebut belum diatur teknisnya.(nin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here