Mukisi.com-Belum selesai dari kemeriahan penyelenggaraan International Islamic Healthcare Conference and Expo (IHEX) 2019 yang digelar pada 21-23 Maret 2019 lalu, Majelis Upaya Kesehatan Islam Seluruh Indonesia (mukisi) telah menyiapkan IHEX 2020 mendatang.

Jika pada IHEX tahun ini mengangkat tema konsolidasi dan kolaborasi, maka di gelaran IHEX mendatang akan membincangkan mengenai implementasi dari tema kolaborasi yang sebelumnya telah diangkat. 

Menurut dr. Burhanuddin Hamid Darmadji, MARS, Sekretaris MUKISI yang bertanggung jawab menjadi Ketua Panitia pada setiap penyelenggaraan IHEX, topik utama dari tema implementasi yang diangkat adalah mengenai human capital.

“Jika bicara implementasi, maka implementator utama adalah manusia. Oleh karena itu, topik utama di IHEX 2020 adalah mengenai human capital,” jelasnya saat dihubungi redaksi.

Pada tema ini akan membahas bagaimana human capital atau modal manusia didudukkan sebagai modal utama dalam setiap rumah sakit syariah untuk menghadapi era 4.0, disruption, BPJS, JKN, dan tantangan lain yang saat ini perlu dihadapi.

Modal manusia, lanjutnya, dalam manajemen adalah sebuah pondasi dasar. Meski teknologi telah maju dan berkembang pesat, namun jika modal manusianya tidak baik, maka kehadiran teknologi itu sendiri tentu akan berdampak buruk dan menimbulkan masalah. “Teknologi jadi digunakan untuk hal negatif nantinya,” tandas pria yang juga Sekretaris Mukisi itu.

Pada Selasa (6/8) lalu, MUKISI sendiri telah mengadakan pertemuan dengan para pengurus MUKISI daerah di seluruh Indonesia untuk menyampaikan konsep penyelenggaraan IHEX mendatang. Target peserta pada penyelenggaraan IHEX sebelumnya yang mencapai 1.800 lebih peserta tersebut direncanakan akan naik.

Sementara keterlibatan stakeholders pemerintah, yang di tahun lalu ada Kementerian Kesehatan. Disampaikan dr. Burhan, pada penyelenggaraan IHEX mendatang akan diupayakan juga menggandeng Kementerian Agama, Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Kementerian Keuangan, hingga pada Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas). “Jadi kita akan coba lebih banyak lagi yang dilibatkan, Insyaa Allah,” tuturnya.

Pada IHEX 2020, juga akan digelar selama tiga hari sama seperti penyelenggaraan sebelumnya. Acaranya terdiri dari rangkaian yang kurang lebih sama seperti sebelumnya, seperti acara pembukaan, Rakernas MUKISI, ekspo, 5 kali sesi seminar, 7 kali sesi lokakarya, presentasi paper ilmiah hasil dari berbagai penelitian, baik dari masyarakat, maupun internal rumah sakit, MUKISI Award, Ukhuwah Night untuk masyarakat umum.

Namun, pada penyelenggaraan IHEX yang ketiga ini akan memuat satu satu tambahan rangkaian acara baru yang membuat berbeda dari penyelenggaraan IHEX sebelumnya, yakni job fair. Acara ini akan berguna menjembatani antara institusi pendidikan yang menghasilkan profesional kesehatan dengan institusi pelayanan kesehatan yang membutuhkan tenaga kesehatan maupun staf baru.

Dengan adanya penyelenggaraan IHEX tahun depan, diharapkan pesan dari RS syariah bisa lebih didengar lagi oleh kalangan masyarakat, dan ekspos ke publik bisa lebih meningkat. Selain itu, diseminasi pada stakeholder, terutama pemerintah lebih kuat, guna tercaiptanya kolaborasi yang saling membangun. 

“Sehingga antara rumah sakit yang sudah menjalankan konsep RS syariah, MUKISI, MUI, rumah sakit umum, bisa berkolaborasi, untuk bisa semakin menyemarakkan kehadiran RS syariah,” jelas dr. Burhan.

Terlebih dengan KH. Ma’ruf sebagai Wapres terpilih yang ikut menginisiasi dan menandatangani fatwa MUI tentang RS syariah, lanjut dr. Burhan, diharapkan dengan posisi beliau yang sekarang dipercaya oleh masyarakat Indonesia dapat memberi kekuatan pada implementasi RS syariah di Indonesia.

Selain itu, yang tidak kalah penting, diharapkan setiap RS, terutama yang berkomitmen mengimplementasikan standar RS syariah, dapat memiliki wadah yang lebih konkrit untuk saling menguatkan di tengah persoalan RS yang kini semakin berat. 

“Jadi, dengan adanya kegiatan ini diharapkan RS bisa saling menguatkan dengan stakeholder umat Islam lain seperti bank-bank syariah, lembaga filantropi, asuransi, Bimtek, sehingga RS milik umat Islam tetap bisa eksis bahkan berimprovisasi untuk bisa melayani masyarakat,” pungkasnya.(nin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here