Mukisi.com-Sebagai upaya untuk menyelamatkan jiwa, transfusi darah sering dilakukan. Namun, bagaimana jika kita menerima darah dari seseorang yang non-muslim? Bagaimanakah hukumnya? Mari kita simak ulasan di bawah ini.

Saat melakukan transfusi darah, tentu tidak ada pemisahan antara darah seorang muslim dengan non-muslim. Memang terdapat sebuah hadis Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam yang menyebutkan, “Setiap tubuh yang tumbuh dari (makanan) yang haram, maka api neraka lebih utama baginya (lebih layak membakarnya).” (H.R. At-Thabrani).

Maksud hadis tersebut adalah untuk menegaskan larangan mengonsumsi produk makanan maupun minuman yang haram, namun tidak berkaitan langsung dengan praktik transfusi darah. Dari sisi makna, hadis tersebut termasuk ke dalam tadzkiroh yang bersifat tarhib, atau peringatan yang menakut-nakuti dengan ancaman siksa yang berat, supaya tidak mendekati apalagi melakukan yang haram, dan karenanya harus ditinggalkan.

Oleh karena itu, seperti dikutip dari halalmui.org, sebaiknya sebisa mungkin kita harus menghindari transfusi darah dari non-muslim. Sebagai orang beriman, semua umat muslim itu bersaudara, maka tentu sangat diutamakan agar bisa saling membantu, terutama dalam aspek transfusi darah tersebut dengan sesama saudara. 

Perhatikan ayat Alquran Surat Al-Hujurat: 10 yang menegaskan mengenai hal tersebut, “Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.” 

Selain itu, hadis tersebut mengandung makna yang menegaskan tentang larangan melakukan perbuatan yang haram, atau larangan mengonsumsi yang haram. Siapa yang melakukan perbuatan itu, maka dialah yang akan diminta pertanggung-jawabannya. Atau orang yang melanggar larangan yang disebutkan dalam hadis tersebut, maka dialah yang berdosa, bukan orang lain, sekalipun sebagai penerima darah yang didonorkan oleh si pelaku dosa.

Hal ini ditegaskan pula dalam ayat Alquran Surat Al-Isra’: 15, “Dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain.”

Kandungan ayat seperti ini diulang lagi Alquran Surat Az-Zumar ayat 7 dan Alquran Surat An-Najm ayat 38 yang dimaksudkan untuk menegaskan, bahwa setiap orang memikul dosa karena pelanggaran (perbuatan dosa) yang dilakukannya sendiri-sendiri, dan tidak menanggung atau memikul dosa yang dilakukan oleh orang lain.

Dalam ayat 34-41 Alquran Surat An-Najm ditandaskan pula, “dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya, dan bahwasanya usaha itu kelak akan diperlihat (kepadanya). Kemudian akan diberi balasan kepadanya dengan balasan yang paling sempurna.” 

Perhatikan juga makna ayat Alquran Surat Al-Baqarah: 286, “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya…”

Begitu pula dalam konteks ini, sebagai contoh analogi, kalau ada yang mendonorkan (bola) matanya, maka si penerima donor mata itu tidak akan menanggung dosa mata, yang dilakukan oleh si pemberi donor tersebut, seperti dosa karena melihat-lihat hal-hal yang dilarang dalam agama.

Tegasnya lagi, masalah dosa atau pahala itu terkait erat dengan diri pelaku. Dalam hukum Islam, hal itu sangat jelas. Siapa yang berbuat, maka dialah yang bertanggung-jawab.

Dengan demikian, hadis tersebut dapat dipahami, orang yang akan disiksa itu adalah orang yang melakukan perbuatan dosa. Dalam konteks bahasan kita ini adalah orang yang berdosa itu adalah yang mengonsumsi makanan dan/atau minuman yang haram.(nin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here