Mukisi.com-Rokok menjadi bagian yang sudah tidak dapat dipisahkan lagi dalam peradaban manusia. Bagi sebagian orang, rokok sudah menjadi semacam kebutuhan primer yang harus dipenuhi. Lalu, bagaimana pandangan syariah tentang merokok? Mari kita simak ulasan berikut.

Tidak dapat dipungkiri, industri rokok telah memberikan manfaat ekonomi dan sosial yang cukup besar. Industri rokok juga telah memberikan pendapatan yang cukup besar bagi negara. Tembakau sebagai bahan baku rokok pun telah menjadi tumpuan ekonomi bagi sebagian petani. Namun, di sisi lain merokok dapat membahayakan kesehatan (dlarar), dan berpotensi terjadinya pemborosan (isrâf), dan merupakan tindakan tabdzir

Menurut beberapa ahli kesehatan, rokok mengandung nikotin dan zat lain yang membahayakan kesehatan. Di samping kepada perokok, tindakan merokok dapat membahayakan orang lain, khususnya yang berada di sekitar perokok.

Hukum merokok tidak disebutkan secara tegas oleh Alquran dan Sunnah. Namun, dapat diambil kesimpulan dari al-muqaddimât an-naqliyah (penegasan premis-premis syariah) untuk memberikan pandangan bahwa seharusnya sebagai muslim, kita seharusnya tidak merokok, antara lain:

Pertama, agama Islam (syariah) menghalalkan segala yang baik dan mengharamkan khabâits (segala yang buruk), sebagaimana ditegaskan dalam Alquran Surat Al-A’raf/ 7 ayat 157. “….Dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk….”

Kedua, agama Islam (syariah) melarang menjatuhkan diri ke dalam kebinasaan dan perbuatan bunuh diri sebagaimana dinyatakan dalam Alquran Surat Al-Baqarah/ 2 ayat 195. “…Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, Karena Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.”

Selain itu, Allah subhanahu wa ta‘ala juga berfirman dalam Alquran Surat An-Nisa’/ 4 ayat 29, yang artinya, “Dan janganlah kamu membunuh dirimu; Sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.”

Ketiga, Alquran melarang perbuatan mubazir dalam Alquran Surat Al-Isra’/ 17 ayat 26-27. “Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros.Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah Saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya.”

Keempat, dalam hadis riwayat Ibnu Majah, Ahmad, dan Malik pun juga ditegaskan adanya larangan menimbulkan mudarat atau bahaya pada diri sendiri dan pada orang lain. “Tidak ada bahaya terhadap diri sendiri dan terhadap orang lain.”

Kelima, dalam hadis yang diriwayatkan Ahmad dan Abû Dâud dari Ibnu Umar juga ditemukan  larangan melakuka perbuatan memabukkan dan melemahkan.

Setiap sesuatu yang memabukkan adalah khamer, dan setiap yang memabukkan adalah haram. Barangsiapa meninggal dalam keadaan minum khamer dan menyukainya maka ia tidak akan meminumnya pada Hari Kiamat.

Selain itu, syariah agama Islam juga memiliki tujuan (maqâsid asy-syarî’ah) untuk mewujudkan kemaslahatan hidup manusia. Perwujudan tujuan tersebut dicapai melalui perlindungan terhadap agama (hifd ad-dîn), perlindungan terhadap jiwa/raga (an-nafs), perlindungan terhadap akal (al-‘aql), perlindungan terhadap keluarga (an-nasl), dan perlindungan terhadap harta (al-mâl).

Semua hal tersebut sangat berbeda dengan fakta rokok sebagai produk yang kita ketahui berbahaya dan adiktif serta mengandung 4000 zat kimia, di mana 69 di antaranya adalah karsinogenik (pencetus kanker).

Beberapa zat berbahaya di dalam rokok tersebut di antaranya tar, sianida, arsen, formalin, karbonmonoksida, dan nitrosamin. Kalangan medis dan para akademisi telah menyepakati bahwa konsumsi tembakaku adalah salah satu penyebab kematian yang harus segera ditanggulangi.

Selain itu, ditemukan fakta bahwa kematian balita di lingkungan orang tua merokok lebih tinggi dibandingkan dengan orang tua tidak merokok baik di perkotaan maupun di pedesaan. Kematian balita dengan ayah merokok di perkotaan mencapai 8,1% dan di pedesaan mencapai 10,9%.

Sementara kematian balita dengan ayah tidak merokok di perkotaan 6,6% dan di pedesaan 7,6%.  Risiko kematian populasi balita dari keluarga perokok berkisar antara 14% di perkotaan dan 24% di pedesaan. Dengan kata lain, 1 dari 5 kematian balita terkait dengan perilaku merokok orang tua. Dari angka kematian balita 162 ribu per tahun (Unicef 2000), maka 32.400 kematian dikontribusi oleh perilaku merokok orang tuanya.(nin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here