Mukisi.com-Tujuan syariat (maqashid al-shari‘ah) merupakan sesuatu yang final dan hikmah pada setiap ketetapan hukum. Karena itu, dalam ajaran syariat selalu mengarahkan umat untuk merealisasikan misi utamanya. Menjaga kemaslahatan manusia baik di dunia maupun di akhirat.

Menurut sebagian ulama, keadaan darurat hanya mencakup kondisi terpaksa, lapar, dan fakir. Tetapi pada kenyataannya, darurat dengan pengertian umumnya yang mencakup semua perkara yang dapat meringankan manusia sangatlah banyak, salah satunya darurat makanan dan pengobatan (darurat al-ghidha’ wa al-dawa’).

Dalam Alquran Surat Al-Maidah ayat 3 Allah subhanahu wa ta‘ala berfirman, “….Tetapi barangsiapa terpaksa karena lapar bukan karena ingin berbuat dosa, maka sesungguhnya Allah Maha pengampun lagi Maha penyayang.”

Dalam ayat tersebut, secara tegas Allah subhanahu wa ta‘ala memperbolehkan seseorang yang berada dalam kondisi kelaparan untuk memakan makanan yang diharamkan. Tetapi yang dimaksud di sini bukan setiap rasa lapar, melainkan lapar yang sampai pada titik kritis, sedangkan yang ada hanyalah makanan yang diharamkan.

Pada firman Allah subhanahu wa ta‘ala, “Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan atasmu bangkai, darah, daging babi, dan (daging) binatang yang disembelih dengan (menyebut  nama) selain Allah. Tetapi barangsiapa terpaksa (memakannya), bukan karena menginginkannya dan tidak (pula) malampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang,” terang Abu Bakr al-Jasas dalam Jurnal Lisan Al-Hal menafsiri firman tersebut.

Ia berkata, “Pada ayat ini Allah telah menyebutkan kata darurat, pada ayat lain Dia juga memutlakkan darurat sebagai penyebab hukum ibahah dengan tanpa syarat ataupun sifat tertentu, yaitu pada ayat ….padahal sungguh Allah telah menjelaskan kepadamu apa yang diharamkan-Nya atasmu, kecuali apa yang terpaksa kamu memakannya….” 

Hal tersebut memberikan ketetapan, setiap keadaan darurat dalam bentuk apapun pasti disana ada hukum ibahah. Menurut keterangan ini, kelaparan ataupun kehausan yang sampai pada tingkat darurat akan memperbolehkan makan apapun yang diharamkan.

Hal ini juga berlaku dalam masalah pengobatan darurat. Menurut Imam Ahmad Ibn Hanbal, dalam keadaan darurat tidak boleh memakan bangkai selama masih bisa menghindarinya dengan meminta makanan kepada orang lain.

Sementara itu, terkait dengan kedaruratan ini, rumah sakit syariah terus berupaya menghindari pengobatan yang diharamkan. Hanya dalam keadaan darurat, pelaksanaan pengobatan atau tindakan kedokteran yang diragukan kehalalannya, RS akan melakukan informed consent.

Bagi RS Syariah, penggunaan obat yang mengandung unsur yang haram wajib melakukan prosedur informed consent tersebut, sama halnya dengan berpegang teguh pada prinsip transparansi.(nin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here