Mukisi.com-Edukasi terkait Rumah Sakit (RS) Syariah kepada masyarakat sangat diperlukan. Agar RS Syariah tidak dianggap RS yang mengkhususkan agama Islam dan tidak menimbulkan kesalahpahaman.

Saat ini, pengetahuan masyarakat tentang RS Syariah masih minim sehingga timbul kesalahpahaman. Hal tersebut terjadi ketika beberapa waktu lalu, Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kota Tangerang sempat menjadi bahan pembicaraan publik.

Dr. Feriansyah, MKM, menyampaikan bahwa kritik itu muncul karena tidak paham tentang RS Syariah. Sehingga masyarakat perlu adanya edukasi dan sosialisasi bahwa RS Syariah tidak hanya diterapkan pada umat Muslim.

Kemudian, dengan viral dan kontroversialnya papan himbauan di RSUD Tangerang tersebut mengakibatkan hal positif bagi RS Syariah yakni semakin dikenal oleh masyarakat Indonesia.

“Di era 4.0 memang harus ada yang diviralkan agar masyarakat yang tadinya tidak tahu menjadi tahu, dan Alhamdulillah dengan adanya kontroversi itu, RS Syariah makin menggema di bumi Allah subhanahu wa ta’ala.” ungkapnya.

Menurutnya, hal yang lumrah apabila ada perbedaan pendapat dan pandangan terhadap papan himbauan yang menjadi viral itu, sehingga kedepannya pihak RSUD akan lebih hati-hati lagi dalam memuat segala informasi yang terkait dengan RS Syariah. Dengan didampingi pihak Majelis Upaya Kesehatan Islam Seluruh Indonesia (Mukisi) yang membuatkan contoh tulisan yang bisa diinformasikan kepada masyarakat tentang tatanan dan aturan RS Syariah.

Dalam Standar Akreditasi Nasional RS sudah dijelaskan terkait elemen Hak Pasien dan Kewajiban RS kepada pasien bahwa semua agama diperlakukan sama dalam mendapatkan kualitas pelayanan, sehingga tidak ada perbedaan.

“Misalnya saja hak untuk mendapatkan pelayanan dan bimbingan rohani, selain pasien Muslim, pasien yang non-Muslim pun juga mendapatkan Haknya untuk mendapatkan bimbingan rohani sesuai keyakinannya masing-masing. Kami akan panggilkan dan tanpa dipungut biaya.” jelas dokter Feri, mantan direktur RSUD Tangerang yang baru melepas jabatannya tanggal 1 Juli.

Agar tidak ada lagi kesalahpahaman, maka perlu adanya edukasi atau informasi secara terus menerus yang dilakukan oleh pemerintah, Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Mukisi agar masyarakat tidak antipati degan emblem RS Syariah di Indonesia.

“Harapan saya untuk kedepannya, pemerintah harus hadir dan memberikan penjelasan terkait RS Syariah kepada orang-orang yang menganggap RS Syariah adalah RS yang mengkhususkan Islam. Pihak-pihak yang berkaitan juga perlu memberikan pemahaman sehingga tidak salah arti terhadap RS Syariah tersebut.” harapnya.(Gth)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here