Mukisi.com-Proses sertifikasi Rumah Sakit (RS) Syariah cukup mudah dan tidak lama. Sebuah RS dapat memperoleh sertifikat syariah hanya dalam waktu kurang lebih satu bulan.

Langkah awal untuk memulai proses tersebut adalah mengajukan pendampingan sertifikasi Syariah yang akan didampingi oleh pihak Majelis Upaya Kesehatan Islam Seluruh Indonesia (MUKISI).

Pengajuan pendampingan dapat dilakukan dengan mengirim surat pengajuan pendampingan yang ditujukan untuk Mukisi. RS yang ingin mendaftarkan pengajuan pendampingan dapat melalui website mukisi.com atau menghubungi sekretariat Mukisi, apabila ingin mengadakan tanya jawab terlebih dahulu.

Selain itu, RS juga dianjurkan mendaftar anggota Mukisi terlebih dahulu sebelum mengajukan pendampingan. Hal ini ditujukan agar rumah sakit tersebut dapat mengikuti perkembangan terbaru tentang standar RS Syariah.

“Tidak ada konsekuensi pembiayaan apapun untuk menjadi anggota Mukisi, oleh sebab itu diharapkan RS yang mengajukan pendampingan sertifikasi Syariah juga mendaftar sebagai anggota Mukisi, mereka akan lebih mudah mendapatkan informasi terbaru terkait standar-standar RS Syariah,” ungkap Miftachul Izah, SE, M.Kes, wakil sekertaris Mukisi.

Mifta juga menjelaskan bahwa mengajukan pendampingan RS Syariah tidak ada batasan waktu dan terbuka untuk RS manapun, baik RS Pemerintah, RS yayasan, swasta atau lainnya.

Namun diharapkan, direktur RS tersebut haruslah seorang Muslim. “Karena untuk menegakkan prinsip syariah, sebagian besar kepemilikan rumah sakit harus milik Muslim,” ungkap Mifta.

RS yang ingin tersertifikasi syariah juga harus terakreditasi oleh KARS (Komite Akreditasi Rumah Sakit). Bukti akreditasi tersebut dilampirkan ketika mendaftarkan pengajuan pendampingan. Karena dalam kenyataannya, masih terdapat beberapa RS yang belum mendapat akreditasi dari KARS, meski telah mengantongi izin mendirikan rumah sakit.

Sekertaris Mukisi, Burhanuddin Hamid Darmadji mengatakan bahwa setelah pengajuan pendampingan, RS akan menjalani tahapan prasurvei yang masih dilakukan oleh pihak Mukisi kemudian setelah itu baru tahapan survei atau penilaian dari Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN MUI)

Burhanuddin menambahkan, pada akhirnya pilihan untuk sertifikasi bukan menjadi beban. Mukisi hanya mengeluarkan panduan terkait 173 elemen yang mengarahkan pada RS Syariah dan dapat digunakan bagi RS yang membutuhkan.

RS dapat menggunakan panduannya, terutama bagian Din karena 173 elemen tersebut berdasar pada Maqasid Syariah. Jika hendak melangkah ke tahap selanjutnya, RS tersebut dapat mengajukan sertifikasi kepada DSN. 

Hingga awal tahun 2019, total 54 RS telah berkomitmen untuk bersyariah. Sementara jumlah rumah sakit yang telah mengantongi sertifikat syariah berjumlah sekitar 20 RS.

Untuk lebih dikenal oleh masyarakat, RS Syariah memerlukan edukasi agar tidak menimbulkan kesalahpahaman. Karena saat ini, pengetahuan masyarakat tentang RS Syariah masih terbilang minim. (Gth)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here