Mukisi.com-Konsep Rumah Sakit (RS) Syariah di Indonesia menjadi tolak ukur bagi standardisasi Hospital Mesra Ibadah di RS Al Islam Kuala Lumpur.

Pada tanggal 18 hingga 20 Juli 2019, dr. Burhanuddin Hamid Darmadji, MARS mendapatkan undangan dari dr. Ishak Mas’ud, direktur RS Al Islam Kuala Lumpur untuk mengisi materi di acara workshop kepada para staff rumah sakit.

Dokter Burhan selaku Sekretaris Majelis Upaya Kesehatan Islam Seluruh Indoensia (Mukisi) mengatakan, ia memberikan dua materi pada tanggal yang berbeda di workshop tersebut. “Tanggal 18 itu, saya menyampaikan materi tentang sertifikasi RS Syariah yang ada di Indonesia sedangkan pada tanggal 19, mendiskusikan tentang komponen apa yang dapat diterapkan dari RS Syariah di Indonesia kepada Hospital Mesra Ibadah di RS Al Islam Malaysia.” Ungkap dr Burhan, panggilan akrabnya.

Hospital Mesra Ibadah (hmi) adalah sebuah konsep yang digunakan dalam manajemen rumah sakit untuk mencapai nilai-nilai keunggulan dan identitas pada staff RS Al Islam dan fokus pada kesejahteraan pasien melalui aplikasi dan apresiasi terhadap pengobatan saat ini dan setelah perawatan.

Selain itu, HMI juga bertujuan untuk memberikan kesadaran melalui pendidikan pasien dan keluarga untuk tetap dekat dengan Allah subhanahu wa ta’ala. Manajemen memberikan komitmen tinggi dalam menciptakan kesadaran seperti itu dan secara aktif memfasilitasi layanan keagamaan.

Dokter Burhan yang juga merupakan Direktur Utama Persada Imani Husada menjelaskan bahwa, workshop tersebut lebih mengarah pada menyiapkan para staff RS agar dapat menjalankan kewajiban sesuai dengan standarisasi kaidah-kaidah syar’i yang diberlakukan di RS Al Islam Kuala Lumpur.

“Para staff di RS Al Islam Kuala Lumpur lebih banyak menanyakan hal terkait akad di RS Syariah.” katanya setelah selesai menyampaikan workshop tersebut.

Akad yang terdapat di RS Syariah meliputi akad RS dengan tenaga medis dan non medis, RS dengan pasien dan RS dengan pemasok alat kesehatan serta RS dengan pemasok obat. Jenis akad tersebut dibedakan dengan nama yang berbeda, yakni akad ijarah, akad ba’i dan akad wakalah bil ujrah.

Akad ijarah merupakan akad pemindahan hak guna (manfaat) atas suatu barang atau jasa dalam waktu tertentu dengan pembayaran atau upah. Akad ini digunakan untuk melakukan pembayaran upah kepada tenaga medis dan non medis atas jasa yang sudah diberikan untuk pelayanan di rumah sakit.

Selain itu akad ijarah juga bisa digunakan untuk pembayaran pasien atas pelayanan kesehatan yang diterima dari rumah sakit dalam upaya pengobatan penyakit, serta sewa alat kesehatan yang dilakukan oleh rumah sakit.

Akad ba’i adalah pertukaran harta dengan harta yang menjadi sebab berpindahnya kepemilikan obyek jual beli. Akad ini bisa digunakan rumah sakit untuk membeli alat kesehatan dan juga obat-obatan.

Akad wakalah bil ujrah adalah akad pemberian kuasa dengan imbalan (ujrah). Akad ini juga dapat digunakan rumah sakit untuk mendapatkan obat-obatan selain akad ba’i. Jika menggunakan akad ba’i, maka rumah sakit sebagai pembeli dan pemasok obat sebagai penjual. Akan tetapi jika menggunakan akad wakalah bil ujrah, maka rumah sakit sebagai wakil dan pemasok obat sebagai pemberi kuasa untuk menjualkan obat kepada pasien.

Akad-akad tersebut yang kemudian menjadi hal baru baru bagi para staff RS Al Islam Kuala Lumpur untuk mempelajari lebih jauh bagaimana menerapkan kaidah syariah kepada RS, sesuai dengan standarisasi layanan Hospital Mesra Ibadah.(Gth)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here