Mukisi.com-Buang air kecil atau berkemih yang biasa kita sebut kencing adalah proses pengosongan kandung kemih atau vesica urinaria, yang berfungsi untuk mengeluarkan sisa-sisa metabolisme dalam tubuh. Pada kehidupan sehari-hari, umumnya laki-laki buang air kecil dengan cara berdiri, sedangkan perempuan dengan jongkok atau duduk pada toilet duduk.

Di Indonesia sebenarnya negara yang mayoritas penduduknya menggunakan toilet jongkok. Namun seiring dengan modernitas, maka secara perlahan penggunaan toilet jongkok ini bergeser dan diganti dengan toilet duduk sehingga sangat mempengaruhi seseorang dalam buang air kecil atau berkemih. 

Perlu diketahui bahwa kencing sambil duduk atau berdiri mampu mempengaruhi proses alami pembuangan kotoran dan dapat menyebabkan sembelit. Menurut sebuah penelitian yang dilakukan oleh seorang dokter Rusia bernama Dov Sikirov di Digestive Diseases and Sciences dijelaskan bahwa ketika Anda duduk, otot tidak bisa mempertahankan kontinuitas untuk mengeluarkan kotoran. Tubuh juga tidak bisa memberikan tekanan yang lebih untuk mengeluarkan kotoran.

Kencing sambil berdiri akan menimbulkan percikan yang akan membuat badan dan pakaiannya najis. Di samping itu, duduk juga lebih terlindungi dari pandangan mata. Umar meriwayatkan, Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam melihat saya saat kencing sambil berdiri. Maka beliau bersabda, “Hai Umar, janganlah kamu kencing sambil berdiri!” Hadis ini diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan Al-Baihaqi, juga diriwayatkan dari Jabir bin Abdillah. Namun juga dinyatakan lemah oleh Al-Baihaqi dan yang lainnya.

Permasalahan tentang penggunaan toilet duduk tampak begitu simpel di mata manusia secara umum, tetapi dalam Islam permasalahan ini juga mendapatkan proporsinya yang tepat utamanya di dalam hadis Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam. Sebab Rasulullah meskipun secara Aqidy beliau adalah Rasul Allah yang terakhir, akan tetapi secara penciptaan beliau termasuk manusia yang memiliki kesamaan dengan manusia-manusia lainnya, hanya perbedaannya terletak pada wahyu yang senantiasa membimbing tingkah laku beliau sampai pada hal-hal yang sangat kecil seperti masalah posisi kencing.

Menurut penelitian Penggunaan Toilet Jongkok dan Duduk dalam Perspektif Hukum Islam dan Kesehatan, penggunaan toilet jongkok dan duduk dalam perspektif kesehatan membuktikan bahwa buang air kecil sambil jongkok adalah posisi terbaik dan tersehat jika dibandingkan dengan buang air kecil sambil berdiri atau duduk. Dengan kata lain penggunaan toilet jongkok lebih baik dan lebih sehat daripada toilet duduk. Penggunaan toilet jongkok dinyatakan lebih baik karena dapat menghindari penyakit kelainan pencernaan.

Secara medis, buang air kecil dengan posisi jongkok dapat mencegah terjadinya kanker usus besar. Saat posisi duduk, usus bagian bawah akan tertekuk sehingga proses pembuangan tidak dapat berlangsung efektif tanpa bantuan mengejan. Padahal, mengejan sambil menahan nafas akan meningkatkan tekanan dalam usus bagian bawah serta menyebabkan regangan dan pembengkakan pembuluh darah balik membentuk wasir, terutama jika kebiasaan ini dilakukan secara kontinu dalam jangka lama.

Berdasar Hikmatut Tasyri dari penggunaan toilet jongkok dan duduk, sebaiknya buang air tidak dengan berdiri kecuali dalam keadaan darurat, maka tidak ada larangan dan tidak bertentangan dengan pendapat para ulama. Sementara dari segi etika buang air dengan jongkok lebih terjaga auratnya sebagaimana adab buang air untuk tidak melihat kemaluannya. Penggunaan toilet duduk dengan posisi punggung dan kaki membentuk sudut 90 derajat menyebabkan si pelaku mudah konstipasi, mengalami perut kembung dan masalah kandung kemih. Maka dari itu, penggunaan toilet jongkok juga dipandang lebih membawa dampak positif kesehatan dibandingkan dengan toilet duduk.

Bagi orang yang menggunakan toilet duduk, hendaknya lebih mempertimbangkan dan menganjurkan penggunaan toilet jongkok tanpa mengindahkan kebolehan penggunaan toilet duduk dan berdiri. Kekhawatiran juga timbul pada sisi was-was dalam beribadah, saat terjadinya buang air kecil yang tidak tuntas dan masih tersisa pada pundi-pundi yang bisa saja suatu saat keluar dalam kondisi beribadah tentu akan berdampak pada batalnya ibadah. (nin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here