Mukisi.com-Vaksin menjadi salah satu cara manusia untuk meningkatkan imunitasnya pada virus-virus yang belum dikenali tubuh. Namun, beberapa waktu belakangan ini, Indonesia dikejutkan oleh komposisi kandungan vaksin Measles Rubella (MR) yang diragukan kehalalannya.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada tahun 2019 mempublikasikan 10 ancaman kesehatan di dunia, salah satunya adalah gerakan anti-vaksin. Padahal vaksinasi adalah cara paling efektif untuk terhindari dari penyakit sekaligus menekan angka kematian.

Gerakan anti-vaksin juga ada di Indonesia. Seperti halnya imuninasi vaksin Measles Rubella (MR) selama dua tahun baru mencapai 87 persen dari target 95 persen. Salah satu faktor adalah isu kandungan babi yang ada pada vaksin tersebut.

Pada Agustus 2018 lalu, Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah menetapkan Fatwa Nomor 33 Tahun 2018 tentang penggunaan Vaksin MR bahwa vaksin yang diproduksi oleh Serum Institute of India (SII) disebutkan haram namun boleh digunakan karena dalam keadaan terpaksa dan situasi mendesak.

Tetapi masih ada saja beberapa yang ragu akan hal itu, MUI kemudian menyarankan agar umat Muslim tidak menggunakan vaksin MR apabila tidak yakin akan kehalalan vaksin tersebut. “Kalau kita masih ragu vaksin ini tidak halal, maka tinggalkan” ujar Sekjen MUI Anwar Abbas.

Dalam perspektif Islam, kata dia, segala sesuatu yang dimasukkan ke dalam tubuh atau dikonsumsi, harus jelas halal atau haramnya. Sementara vaksin imunisasi MR belum jelas halal atau haramnya.

Apabila dalam vaksin MR terdapat unsur non halal, maka vaksin tersebut tetap bisa digunakan dengan catatan tidak ada alternatif lain, tidak ada vaksin sejenis yang halal atau suci, dan bahayanya sudah sangat mendesak dengan adanya penjelasan dari pihak yang memiliki kompetensi terkait dengan bahaya itu.

Seperti diketahui bahwa vaksin MR merupakan vaksin yang diberikan untuk semua anak usia 9 bulan sampai 15 tahun, guna mencegah terjadinya penyakit yang disebabkan oleh virus campak dan rubella (campak Jerman). Campak dan rubella merupakan penyakit infeksi menular yang disebabkan oleh virus.

Campak dapat melemahkan sistem kekebalan tubuh dan menyebabkan demam, ruam, batuk, pilek, dan mata merah serta berair. Campak juga kerap menyebabkan komplikasi serius seperti infeksi telinga, diare, pneumonia, kerusakan otak, dan kematian.

Sementara, rubella atau campak Jerman merupakan infeksi virus yang menyebabkan demam, sakit tenggorokan, ruam, sakit kepala, mata merah dan mata gatal. Rubella kerap terjadi pada anak-anak dan remaja. Kendati ringan, virus ini bisa memberi dampak buruk pada ibu hamil yang tertular, yakni menyebabkan keguguran, bayi terlahir mati, atau bahkan cacat lahir serius pada bayi, seperti kebutaan dan tuli, demikian dilansir Alodokter.

Mengutip dari detik.com, Sekertaris Komisi Fatwa MUI, Asrorun Ni’am Soleh menerangkan bahwa hokum imunisasi sebagai upaya pencegahan penyakit yang sebelumnya ditetapkan boleh dalam Fatwa MUI Nomor 4 Tahun 2016, bisa berubah menjadi wajib dalam kondisi tertentu, misalkan dalam situasi bahaya yang terdesak. (Gth)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here