Mukisi.com-Terdapat bukti ilmiah yang sangat kuat bahwa vaksinasi merupakan pertahanan terbaik saat melawan infeksi mematikan atau yang menyebabkan cacat, seperti campak. Sebelum vaksin penyakit campak diperkenalkan pada tahun 1960-an, sekitar 2,6 juta orang hampir meninggal karena penyakit tersebut setiap tahunnya.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), vaksinasi telah menyumbang banyak persentase penurunan kematian karena campak antara tahun 2000 dan 2007, yakni sebesar 80%. Sebelum vaksin ditemukan, dunia adalah sebuah tempat yang jauh lebih berbahaya, di mana jutaan orang meninggal setiap tahunnya dari berbagai penyakit yang sekarang dapat dicegah.

Vaksin telah melindungi miliaran orang di dunia. Mereka sama sekali terhindar dari satu penyakit, seperti cacar, dan berhasil membasmi penyakit lainnya, seperti polio yang nyaris tidak ada orang ditemukan terjangkit penyakit ini lagi. 

Sebuah kajian internasional terkait sikap terhadap vaksinasi menemukan bahwa secara umum orang mendukung vaksin, tingkat tertinggi adalah di Eropa, dan tingkat keraguan tertinggi terhadap vaksin terjadi di Prancis. 

Dr Ann Lindstrand, ahli imunisasi WHO seperti dikutip dari BBC Indonesia mengatakan, keadaan saat ini sangatlah serius. “Keraguan terhadap vaksin berpotensi, paling tidak di beberapa tempat, dapat benar-benar menghambat terjadinya kemajuan terkait dengan pengendalian penyakit yang sebenarnya dapat dicegah lewat vaksin,” ujarnya.

Di Indonesia sendiri, keraguan atas vaksin masih menjadi perdebatan antara pro dan kontra karena beberapa vaksin dinilai haram, seperti contohnya vaksin polio atau vaksin meningitis yang produksinya menggunakan enzim tripsin dari serum babi. 

Namun meski begitu, Drs. Iskandar, Apt., MM, Direktur Perencanaan dan Pengembangan PT. Bio Farma, yang merupakan salah satu perusahaan pembuat vaksin di Indonesia seperti dikutip dari muslim.or.id mengatakan, perumpamaan vaksin yang dinilai haram ini tidak dapat dikatakan haram. Penjelasan beliau tersebut dinyatakan dengan mengiaskan mengenai binatang jallalah, yaitu binatang yang biasa memakan barang-barang najis.

“Air PAM dibuat dari air sungai yang mengandung berbagai macam kotoran dan najis, namun menjadi bersih dan halal setelah diproses.” Beliau juga mengatakan, “Dalam proses pembuatan vaksin, enzim tripsin babi hanya dipakai sebagai enzim proteolitik (enzim yang digunakan sebagai katalisator pemisah sel/protein). Pada hasil akhirnya (vaksin), enzim tripsin yang merupakan unsur turunan dari pankreas babi ini tidak terdeteksi lagi. Enzim ini akan mengalami proses pencucian, pemurnian dan penyaringan.”

Menilik Hukum Vaksin dalam Islam

Menyambung vaksin yang dinilai haram tersebut, kita perlu berkenalan dengan istilah istihalah, yaitu perubahan benda najis atau haram menjadi benda yang suci yang telah berubah sifat dan namanya.

Contohnya adalah jika kulit bangkai yang najis dan haram disamak, atau jika khamr yang disuling kemudian menjadi cuka, maka hal-hal tersebut menjadi suci. Pada vaksin yang terdapat enzim babi tersebut telah berubah nama dan sifatnya atau bahkan hanya sebagai katalisator pemisah, maka yang menjadi patokan adalah sifat benda tersebut sekarang.

Ibnu Qoyyim Al-Jauziyah rahimahullah menjelaskan masalah istihalah ini dalam I’lamul muwaqqin ‘an rabbil ‘alamin 1/298, “Dan Allah Ta’ala mengeluarkan benda yang suci dari benda yang najis dan mengeluarkan benda yang najis dari benda yang suci. Patokan bukan pada benda asalnya, tetapi pada sifatnya yang terkandung pada benda tersebut (saat itu). Dan tidak boleh menetapkan hukum najis jika telah hilang sifat dan berganti namanya.”

Selain istihalah, ada pula istilah istihlak, yaitu bercampurnya benda najis atau haram pada benda yang suci sehingga mengalahkan sifat najisnya, baik rasa, warna, dan baunya. Misalnya hanya beberapa tetes khamr pada air yang sangat banyak. Maka tidak membuat haram air tersebut.

Mengenai pembahasan tentang istilah ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,Air itu suci, tidak ada yang menajiskannya sesuatu pun.” [Bulughul Maram, Bab miyah no.2, dari Abu Sa’id Al-Khudriy]

“Jika air mencapai dua qullah tidak mengandung najis”, di riwayat lain, “tidak najis” [Bulughul Maram, Bab miyah no.5, dari Abdullah bin Umar] 

Berdasarkan sabda Rasulullah tersebut, maka enzim babi pada vaksin hanya sekedar katalisator yang sudah hilang melalui proses pencucian, pemurnian, dan penyulingan, sudah minimal terkalahkan sifat haramnya.

Selain dua istilah tersebut, kita perlu meninjau kembali kaidah fiqhiyah, “Darurat itu membolehkan suatu yang dilarang.

Lantas bagaimana dengan adanya dalil yang diriwayatkan Thabrani, dan dinilai hasan oleh Syaikh Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah no. 1633?

“Sesungguhnya Allah menciptakan penyakit dan obatnya. Maka berobatlah, dan jangan berobat dengan sesuatu yang haram.”

Maka kita dapat meninjau kaidah fiqhiyah yang menyebut, “Jika ada dua mudharat (bahaya) saling berhadapan, maka diambil yang paling ringan.”

Sehingga pendapat terkuat adalah bahwa pada dasarnya tidak boleh berobat dengan benda-benda haram kecuali dalam kondisi darurat, dengan syarat penyakit tersebut adalah penyakit yang harus diobati, benar-benar yakin bahwa obat ini sangat bermanfaat pada penyakit tersebut, dan tidak ada lagi pengganti lainnya yang mubah.

Oleh karena itu, terbukti telah ditemukan vaksin meningitis yang halal, dan MUI pun mengakuinya.(nin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here