Mukisi.com-Rumah Sakit Jogjakarta International Hospital (JIH), kini tengah menunggu hasil survei yang telah dilakukan Dewan Syariah Nasional (DSN) Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Majelis Upaya Kesehatan Islam Seluruh Indonesia (Mukisi) pada hari Sabtu (6/7) lalu. Tentu saja, hal ini dilakukan RS JIH sebagai upayanya memberikan pelayanan terbaik pada masyarakat melalui sertifikasi rumah sakit (RS) syariah.

Proses sertifikasi RS JIH ini sendiri baru berlangsung sejak tahun 2018 lalu, yakni melalui proses pendampingan dengan Mukisi dan melakukan studi banding ke Rumah Sakit Islam (RSI) Sultan Agung Semarang. Hingga tepatnya pada November 2018 melakukan tahap pra-survei sertifikasi syariah, namun rumah sakit yang mulai beroperasional pada tahun 2007 ini sebenarnya sudah bercita-cita menjadi RS Syariah sejak dari awal berdirinya. 

Hal tersebut tercermin dalam visi RS yang kini membuka cabang di Solo dan Purwokerto ini, yakni “Terwujudnya Rumah Sakit JIH sebagai rumah sakit rahmatan lil alamin melalui komitmen pada layanan kesehatan bertaraf internasional berdasar ketentuan rumah sakit syariah.”

Meski seluruh karyawannya muslim, dan RS JIH merupakan sebuah institusi syariah dan berdasar pada nilai budaya Islami, Miftah Yuni Kurniawati, S.Si., Apt, selaku Sekretaris Tim Persiapan Sertifikasi Syariah RS JIH menegaskan, bahwa RS JIH tetap membuka layanan pagi pasien non-muslim dan memberikan pelayan kerohanian yang sesuai. 

“Kita tetap akan melayani non-muslim, dan memberikan pelayanan tersebut bagi keenam agama yang diakui di Indonesia karena akreditasi pun telah mensyaratkan seperti itu,” tegasnya.

Sementara itu, tim asesor yang bertugas dalam survei di Rumah Sakit JIH ini adalah Drs. Asep Supyadillah, M.Ag. dan Ah. Azharudin Latif, M.Ag., M.H. dari DSN MUI, serta dr. Burhanuddin Hamid Darmadji, MARS. dari Mukisi.

Persiapan yang dilakukan RS JIH dalam upaya sertifikasinya sendiri diakui tidak cukup rumit, apalagi akreditasi RS JIH sendiri sudah lama dimiliki. “Pihak RS hanya melakukan sedikit revisi dengan menambahkan elemen-elemen tertentu pada dokumen agar sesuai dengan buku pedoman syariah,” tutur Miftah.

Mengenai survei yang telah dilakukan, ia mengaku, dari asesor sendiri telah mengungkapkan beberapa temuannya mengenai temuan minor. Dan pihak RS JIH telah menerima saran dan masukan tersebut.

Selanjutnya, setelah mendapatkan sertifikasi, RS yang bertaraf internasional ini akan tetap mengimplementasikan kegiatan RS sesuai persyaratan syariah. Pihak RS juga berharap, dengan terakreditasi menjadi RS Syariah, tidak akan mengurangi segi bisnis rumah sakitnya, dan akan tetap ada pasien non-muslim yang berobat ke RS JIH.(nin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here