Mukisi.com-Kehidupan selalu menuntut kita untuk terus mengupayakan hasil yang terbaik. Seperti halnya dalam menentukan seorang pemenang, tentunya akan melalui berbagai pertandingan, pertandingan, dan pertandingan sebagai kumpulan usaha guna menampilkan yang terbaik, meski dalam usaha tersebut belum sepenuhnya sempurna. 

Oleh karena itu, usaha yang dilakukan harus terus diperbaiki, dan menjalaninya pun dibarengi dengan pemikiran yang positif. Begitulah perumpaan rumah sakit syariah, menurut  dr. Kuntjoro Adi Purjanto, M.Kes selaku Ketua Umum Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (PERSI), dalam upayanya untuk terus mengimplementasikan diri di tengah-tengah masyarakat Indonesia saat ini.

Kuntjoro juga mengibaratkan RS sebagai seorang manusia. Jika sudah begitu, RS yang dalam perilakunya memiliki keimanan dan ketakwaan, yakni RS syariah, tentunya akan memiliki sebuah komitmen bahwa jika ada seorang pasien yang terdapat di dalamnya, maka akan berupaya untuk disembuhkan. 

“Sehingga meskipun pada hasil akhirnya tetap ada kecacatan, pasti itu merupakan hasil paling minimal,” ungkap dr. Kuntjoro. “Dan bagi setiap orang yang akan terminal state (meninggal), RS syariah dapat menjadi tempat akhir yang terbaik,” imbuh pria yang juga Ketua Persi tersebut.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sendiri, dikatakan dr. Kuntjoro, memiliki 7 poin ukuran mutu agar RS dapat disebut sebagai RS profesional. Namun sayangnya, menurut beliau, seluruhnya tidak ada yang memberikan akses baik pada pasiennya. Akses yang dimaksud di sini adalah komunikasi dan kerja sama dengan pasien sehingga ke depannya RS dapat memberikan pelayanan yang lebih baik.

“RS harus bekerja sama, jika ada masukan dari pasien, ada suatu permasalahan, maka itu adalah bernilai emas. Karena RS dapat melakukan perubahan untuk menjadi lebih baik. Oleh karena itu, komunikasi dan silaturahmi dengan pasien serta masyarakat harus terjaga dengan baik,” paparnya.

Mukisi sendiri, lanjutnya, hadir bukan dari Muhammadiyah, NU, Al-Irsyad, Persis, atau ormas Islam manapun di Indonesia, namun bersama-sama selalu saling mendukung adanya RS syariah. Hal ini, dapat menjadi nilai tambah tersendiri bagi RS. Sehingga RS syariah dapat bersifat universal, dan dapat menjadi ciri khas negara Indonesia. 

“Jadi kita bersama-sama, tidak mendiskriminasi. Karena terwujudnya alam syariah adalah sebuah perjalanan panjang, dan dalam perjalanan ini kita harus berjalan bersama-sama,” ungkap dr. Kuntjoro.

Sayyidina Ali bin Abi Thalib, sahabat yang juga sekaligus menantu Rasulullah pernah menyampaikan sebuah pernyataan, “al haqqu bi laa nidzaam, yaghlibuhul-bathil bi an-nidzam,” yang berarti hal baik yang tidak diorganisir dengan baik, maka akan dapat dikalahkan oleh kebatilan yang terorganisir dengan baik.

RS Syariah Hadir Berkat Kerja Sama Para Cendekiawan Muslim

Menurut dr. Masyhudi AM, M.Kes, yang merupakan Ketua Umum Pengurus Pusat Mukisi, pernyataan tersebut memiliki korelasi dengan hadirnya RS syariah pada era konstruk hari ini. Dimana RS syariah, yang sudah dipahami dengan suatu kebaikan, dapat menjadi tidak baik hanya karena dicitrakan dengan tidak baik, dan media dapat terus membuat pemberitaan yang sebenarnya buruk, karena dicitrakan dengan baik secara terus menerus akan dipercayai masyarakat sebagai suatu kebenaran.

“Oleh karena itu, penting adanya desiminasi tentang kebaikan RS syariah, bagaimana sebenarnya RS syariah? Bagaimana bisa ada? Apa substansinya? Apa keuntungannya, kelebihannya, dan implementasinya? Jadi, dapat tersampaikan bahwa RS syariah adalah suatu arah kebaikan atas pelayanan RS, bukan seperti yang diberitakan buruk, atau bahkan dikatakan radikal,” ujar dr. Masyhudi.

Proses panjang hingga tercetusnya sertifikasi RS syariah dari hasil kerja sama Mukisi dan Dewan Syariah Nasional (DSN) MUI pada 2016 lalu ini adalah fatwa bagi RS yang tidak hanya pertama di Indonesia, tetapi bahkan di dunia. Oleh karena itu RS yang mendapatkan sertifikasi syariah adalah suatu keberkahan, mengingat fatwa ini sangat bagus, meski implementasinya masih perlu terus dilakukan perbaikan sejalan dengan kehidupan masyarakat tempat RS syariah itu berada. 

Selain itu, keberkahan yang didapatkan adalah dari mutu wajib dalam sertifikasi syariah itu sendiri, yakni pasien akan terjaga akidah, ibadah, dan muamalahnya. Dan bagi pasien non-Muslim, tentunya tetap akan diperlakukan sesuai kepercayaan yang dianutnya, bahkan tetap disediakan fasilitas kerohanian tersendiri, tanpa ada upaya mendiskriminasi.(nin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here